Mengenang Gol Thierry Henry: Gol Penahbisan Sang Jenius Sepakbola

Ada yang membedakan seorang jenius sepakbola dengan para pesepakbola di atas rata-rata lainnya. Momen luar biasa Thierry Henry di tahun 2000 ini menjadi contoh nyata perbedaan itu. Arief Hadi menceritakannya kembali...

Ada banyak pemain yang memiliki kualitas di atas rata-rata di dunia ini, tapi apakah semuanya masuk kategori jenius? Belum tentu. Mereka yang tergolong pesepakbola jenius merupakan pemain yang menjadi pembeda bagi timnya, menolong tim di saat kesulitan dan seorang diri bisa ‘menyihir’ pemain di sekitarnya.

Jadi, kualitas saja tidak cukup untuk mendapatkan pengakuan sebagai pesepakbola yang jenius. Thierry Henry merupakan satu dari banyaknya pesepakbola jenius yang pernah terlahir di dunia ini seperti Johan Cruyff, Xavi Hernandez, Andrea Pirlo, Zinedine Zidane, Kaka, Lionel Messi, Paul Scholes, Alessandro Del Piero, Ronaldinho, dan banyak lagi.

Henry bisa disebut sebagai mantan pemain edisi terbatas yang pernah dimiliki Arsenal. The Gunners saat ini memang tak hentinya dirundung masalah yang berujung kepada sorotan tajam kepada sang bos, Arsene Wenger. Saat ini ia tak ubahnya sosok ‘penjahat’ yang jadi musuh nomor satu fans setelah pengabdiannya selama 21 tahun.

Terlepas dari apapun keputusan Wenger di akhir musim ini, tentu Anda sebagai fans sejati Arsenal tak boleh lupa, bahwa Wenger pernah menjadikan Arsenal sebagai tim yang disegani dan berisikan pemain-pemain top seperti Tony Adams, David Seaman, Martin Keown, Freddie Ljungberg, Robert Pires, Dennis Bergkamp, Patrick Vieira, dan si jenius, Henry.

Nama yang disebut terakhir merupakan salah satu mantan pemain yang pernah berada di skuat The Invicibles pada 2004, tim terbaik Arsenal yang tak pernah tersentuh kekalahan selama semusim penuh. Di antara seluruh legenda terbaik Arsenal, Henry lah yang mendapat julukan King Henry dari fans. Tentu, ada alasan fans melabelinya dengan julukan tersebut.

Momen Penahbisan

Butuh mundur jauh ke belakang atau 17 tahun yang lalu untuk melihat momen pertama atau titik mula ketika Henry sudah dianggap lebih dari sekedar pemain muda bertalenta. Tepatnya pada 1 Oktober 2000, atau setahun setelah Henry bergabung dengan Arsenal dari Juventus.

Butuh mundur jauh ke belakang atau 17 tahun yang lalu untuk melihat momen pertama atau titik mula ketika Henry sudah dianggap lebih dari sekedar pemain muda bertalenta. Tepatnya pada 1 Oktober 2000, atau setahun setelah Henry bergabung dengan Arsenal dari Juventus

Di musim pertamanya di Inggris, Henry sudah menjadi pusat perhatian publik Negeri Ratu Elizabeth dengan torehan 26 gol dari 47 penampilannya. Kendati demikian, ia masih belum bisa menyumbangkan gelar bagi Arsenal di musim 1999/00.

Henry pun butuh waktu beradaptasi bersama Arsenal setelah sebelumnya bermain bersama Monaco dan Juventus dengan kultur sepakbola yang berbeda. Di enam laga awal Premier League musim 2000/01 keran gol Henry pun berhenti, tapi, ia tahu momen untuk bersinar dan momen itu terjadi saat berjumpa rival abadi Arsenal, Manchester United.

Red Devils datang ke Highbury dengan keyakinan tinggi dapat melanjutkan tren positif mereka yang tengah menduduki puncak klasemen. Pun demikian dengan tuan rumah yang hanya terpaut tiga poin dan berada di urutan empat klasemen.

Pertandingan berjalan sengit selama setengah jam pertama hingga momen magis muncul dari kaki Henry. Striker kelahiran 17 Agustus 1977 itu menerima bola dari Gilles Grimandi, ia berada di sisi kanan kotak penalti Man United dan dikepung oleh Scholes, Denis Irwin, serta Gary Neville. Henry dalam posisi membelakangi Irwin dan hanya punya waktu singkat untuk berpikir sebelum bola direbut pemain Man United.

Tanpa tedeng aling-aling, Henry pun tidak melakukan hal yang lumrahnya dilakukan penyerang lainnya dalam posisi itu, misalnya dengan mencoba menahan bola dan mengopernya kepada pemain lain. Ia justru mengangkat bola dengan kaki kanannya dan selagi bola di udara, Henry membalikkan setengah badannya untuk melakukan sepakan voli yang dilakukannya dalam satu gerakan cepat, penuh presisi, sehingga bola menukik naik dan kemudian turun di kiri gawang Man United tanpa mampu diantisipasi Fabien Barthez.

Bukan hanya Barthez yang terbengong karena gol ikonik Premier League itu, melainkan juga tiga pemain Man United yang mengepungnya. Arsenal unggul 1-0 dan mereka mempertahankannya hingga akhir laga, menodai Man United dengan kekalahan pertama mereka musim 2000/01. Dari momen itu saja sudah terlihat perbedaan tipis antara jenius sepakbola dengan pemain yang sekedar memiliki talenta, perbedaan dalam pola pikir yang berbeda ketika menguasai bola.