Mengenang Kembali: Final Liga Champions 1998, Ketika Real Madrid Akhirnya Buka Puasa Setelah 32 Tahun

Ini adalah final yang bersejarah: Real Madrid akhirnya mengakhiri penantian 32 tahun untuk gelar Liga Champions ketujuh mereka, sementara Juventus harus gagal di final untuk kedua kalinya secara beruntun...

Saat Vladimir Jugovic, algojo keempat Juventus, menata bola di titik penalti, Edwin van der Sar, kiper Ajax Amsterdam, sadar bahwa harapan orang-orang yang menjadi bagian dari eksistensi Ajax Amsterdam bisa berakhir dalam beberapa menit setelahnya. Gol berarti Ajax akan kalah di pertandingan final Liga Champions musim 1995/96 itu. Gol berarti Ajax gagal mempertahankan gelar yang diraihnya satu musim sebelumnya. Dan gol berarti trofi Liga Champions akan terbang ke kota Turin, yang jaraknya lebih dekat dari kota Roma, tempat diselenggarakannya pertandingan final itu, daripada ke kota Amsterdam.

Edwin van der Sar kemudian bersiap. Dia akan mempertaruhkan segalanya demi gagalnya penalti itu.

Setelah menata bola sesuai dengan keinginannya, Jugovic kemudian mundur beberapa langkah untuk mengambil ancang-ancang. Dilihat dari sorot matanya, saat itu dia sepertinya sudah mantap ke arah mana akan menendang bola. Jugovic kemudian menendang bola ke sisi kanan Edwin der Sar, sama persis dengan arah tendangan penalti Michel Platini saat dia menaklukkan kiper Liverpool di pertandingan final Liga Champions 1985 silam. Van der Sar sebetulnya dapat membaca arah bola tersebut dengan benar, tetapi reaksinya sedikit terlambat. Bola berhasil menggetarkan jala gawangnya, sementara dia hanya bisa menepis angin yang pada saat bersamaan menyapu bersih segala harapan yang dimiliki Ajax pada saat itu.

Setelah kejadian itu, pemain Juventus berpesta di Olimpico, Roma. Tenaga mereka yang sebetulnya nyaris habis karena harus menjalani pertandingan selama 120 menit, seperti kembali diisi ulang dengan kepastian gelar juara. Mereka berlari ke setiap jengkal lapangan dengan penuh kebanggaan. Si Kuping Besar, yang terakhir mereka genggam pada tahun 1985 lalu, akhirnya berhasil mereka angkat tinggi-tinggi ke udara lagi.

Setelah tahun 1985, Juventus baru bisa mengangkat Si Kuping Besar lagi pada 1996

Pages