Mengenang Kembali: Ketika PSIS Semarang Membuat Persebaya Tertunduk Lesu

Sebuah final yang dramatis terjadi di Liga Indonesia V antara PSIS Semarang dan Persebaya Surabaya. Sebuah final yang melambungkan nama Tugiyo sebagai salah satu legenda sepakbola Indonesia...

Bola berada di tengah-tengah, di antara Tugiyo dan Lee Woon-Jae, kiper Suwon Samsung Bluewings. Tugiyo berlari secepat mungkin ke arah bola, bagaikan seorang anak kecil yang antusias sepulang dari sekolah untuk segera mengendarai sepeda barunya. Sementara itu Lee Woon-Jae, yang langkah kakinya dua kalinya langkah kaki Tugiyo, juga tak mau kalah. Dia juga berlari secepat mungkin ke arah bola. Sore itu, Agustus 1999 lalu, detak jantung penggemar PSIS Semarang yang berada di Stadion Jatidiri, Semarang, menjadi tak karuan.

Maradona dari Purwodadi melawan seorang kiper yang tiga tahun setelah kejadian itu berhasil membuat penyerang-penyerang top Portugal dan Italia pening di gelaran Piala Dunia 2002. Siapa yang menang?

Menyoal adu kecepatan lari, tak peduli langkah kakinya lebih pendek daripada musuhnya, Tugiyo sepertinya nyaris tak pernah kalah. Itu sudah menjadi kebiasaannya. Julukan Maradona dari Purwodadi muncul karena kecepatannya dalam berlari itu.

Sesaat sebelum Lee Woon-Jae menyentuh bola, Tugiyo sudah menyentuhnya, mengecoh kiper masa depan Korea Selatan tersebut, untuk kemudian membobol gawangnya. Sore itu publik Jatidiri kemudian bersorak hebat. Berkat gol khas Tugiyo itu, PSIS Semarang sementara unggul atas Suwon Samsung Bluewings, 2-1. Tugiyo dan para penggemar PSIS Semarang di Jatidiri berselebrasi seolah tak ada hari esok, sementara Lee Woon-Jae dan pemain-pemain Suwon Samsung lainnya hanya bisa menggerutu.

Gol Tugiyo tersebut memang merupakan salah satu gol yang menunjukkan kualitasnya sebagai seorang penyerang: cepat dan mempunyai penyelesaian klinis. Meski begitu, tak banyak orang yang mengingatnya. Selain karena PSIS akhirnya harus menyerah dari Suwon Samsung 2-3 pada pertandingan tersebut, golnya ke gawang Persebaya Surabaya di Stadion Klabat, Manado, sekitar empat bulan sebelumnya, lebih penting untuk dikenang. Gol tersebut mengunci di dalam ingatan banyak orang. Sebuah gol penting yang juga bersejarah.

Pages