Kisah

Mengenang Kembali: Ketika PSIS Semarang Membuat Persebaya Tertunduk Lesu

We are part of The Trust Project What is it?

Beberapa waktu menjelang pertandingan final Liga Indonesia musim 1998/99 (Liga Indonesia V), Nugroho Djayusman, Kapolda Metrojaya pada saat itu, membuat sebuah keputusan sulit: karena alasan keamanan, pertandingan final tidak dapat dilangsungkan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (saat itu dikenal sebagai Stadion Utama Senayan), Jakarta.

Rivalitas antara PSIS Semarang dan Persebaya Surabaya, dua tim finalis, dan tragedi di Lenteng Agung yang menyebabkan tewasnya 11 penggemar PSIS menjadi penyebabnya. Dengan, pendekatan tersebut, dikhawatirkan akan terjadi terjadi kerusuhan hebat apabila pertandingan final tetap dilangsungkan di Jakarta.

PSSI, melalui Agum Gumelar, kemudian memutuskan bahwa tempat pertandingan final dipindah ke Stadion Klabat, Manado. Pertandingan final akan dilangsungkan pada tanggal 9 April 1999

Mau tidak mau, semua pihak harus menerima keputusan tersebut. PSSI, melalui Agum Gumelar, kemudian memutuskan bahwa tempat pertandingan final dipindah ke Stadion Klabat, Manado. Pertandingan final akan dilangsungkan pada tanggal 9 April 1999. Karena keterbatasan waktu, semua anggota tim, baik PSIS maupun Persebaya, serta perangkat pertandingan kemudian diterbangkan ke Manado dengan menggunakan pesawat Hercules.

Klabat sendiri bukan stadion megah dan bersejarah seperti Stadion Utama Gelora Bung Karno. Kapasitas tempat duduknya minim, hanya 10.000 orang, tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Stadion Utama Gelora Bung Karno. Satu-satunya hal yang dapat dibanggakan dari markas Persma Manado tersebut hanyalah kunjungan PSV Eindhoven, yang saat itu masih diperkuat Ronaldo, penyerang legendaris Brasil, sekitar empat tahun sebelum menggelar pertandingan final Liga Indonesia Kelima itu.