Mengenang Kembali: Ketika Timnas Indonesia Hancur Lebur di Manama

Kekalahan dari Bahrain di kualifikasi Piala Dunia 2014 benar-benar monumental dan tak bisa dilupakan begitu saja. Yudha Prastianto mengenang kembali peristiwa itu dan bagaimana kontroversi yang terungkap di sekitar kekalahan tersebut...

Kira-kira kejadian apa yang paling diingat dan ingin dibagi jika suatu saat nanti Anda hendak bercerita soal tim nasional Indonesia kepada generasi Anda? Tentu saja Anda akan menjelaskan cukup banyak hal yang baik-baik; penampilan heroik di ajang AFF Suzuki Cup 2016, kekuatan menakutkan di Piala AFF 2010 atau mundur lebih jauh yakni tentang kedigdayaan Garuda di medio 1980 sampai 1990-an.

Lantas, bagaimana dengan kekalahan-kekalahan menyakitkan yang diterima Indonesia dari lawan-lawan mereka? Kalah dari Bahrain dengan margin yang begitu mencolok 0-10 misalnya? Terkadang, kenangan buruk seperti kekalahan yang sangat memalukan ini perlu juga untuk diingat kembali.

Tanggal 19 Ferbuari 2012 menjadi hari yang sebaiknya memang tak pantas dikenang oleh seluruh pencinta sepakbola nasional. Bahkan, di sepanjang tahun 2012 bukanlah sesuatu yang pantas disimpan dalam ingatan kita.

Malam itu di kota Manama, Bahrain, skuat Garuda yang dikomandoi oleh legenda Arema Malang, Aji Santoso, bertandang ke Stadion Nasional Bahrain. Mereka melakoni laga terakhir Grup E di ajang Kualifikasi Piala Dunia 2014 Zona Asia.

Tuan rumah punya misi sulit waktu itu; The Red – julukan timnas Bahrain harus menang minimal 9 gol untuk bisa menggeser Qatar agar bisa lolos ke babak selanjutnya. Sementara itu, seperti biasanya, Indonesia bermain tanpa beban karena memang sudah tidak memiliki peluang lolos.

Alhasil, Persatuan Sepakbola Indonesia (PSSI) memutuskan untuk mengirimkan tim nasional ‘apa adanya’ – banyak pihak menyebut timnas ayam sayur. Ya, dikatakan demikian karena dari total 18 nama, hanya segelintir saja yang pernah bermain untuk tim Merah Putih, sisanya masih berusia muda dan belum pernah punya pengalaman di level internasional.

Daftar Pemain Timnas Indonesia vs Bahrain (29 februari 2012)

Kiper: Samsidar (Semen Padang FC), Andi Muhammad Guntur (PSM)

Belakang: Abdurrahman (Semen Padang FC), Hengky Ardiles (Semen Padang FC), Gunawan Dwi Cahyo (Arema), Sigit Meiko (Persibo), Wahyu Wijiastanto (Persiba), Diego Michiels (Persija)

Tengah: Ricky Akbar Ohorella (Semen Padang FC), Aditya Putra Dewa (PSM), Taufiq (Persebaya), Rendi Irawan (Persebaya), Slamet Nurcahyo (Persiba), Rasul Zainuddin (PSM), Abdul Rahman (Madiun Putra FC)

Depan: Irfan Bachdim (Persema), Ferdinand Sinaga (Semen Padang FC), Samsul Arif (Persibo)

Hal ini terjadi lantaran adanya kisruh antara PSSI dan Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI) yang mengakibatkan kompetisi terbelah menjadi dua, Indonesia Premier League (IPL) dan Indonesia Super League (ISL). Jika Anda tak ingat, PSSI saat itu hanya menganggap IPL sebagai kompetisi resmi yang berada di bawah naungan Djohar Arifin cs.

Dan regulasi FIFA yang menyatakan bahwa sebuah tim nasional hanya boleh dibela oleh pemain-pemain yang berlaga di kompetisi resmi, membuat tim nasional kekurangan tenaga. Pasalnya, banyak klub-klub besar dan tradisional lebih memilih tetap berkompetisi di ISL. Oleh karena itu, pemain-pemain berpengalaman dan dikategorikan ke dalam grade A terkumpul di kompetisi yang tidak resmi tersebut.

Singkatnya, bermodal nama-nama yang belum banyak menelan level internasional serta kekalahan 0-1 dari Persebaya Surabaya dalam laga uji coba, Aji kesulitan membentuk kerangka tim dan harus dipermalukan di hadapan 3000 pendukung Bahrain dengan 10 gol tanpa balas. Kekalahan ini diperparah setelah penjaga gawang, Syamsidar, harus diusir dari lapangan kendati laga baru seumur jagung.

Singkatnya, bermodal nama-nama yang belum banyak menelan level internasional serta kekalahan 0-1 dari Persebaya Surabaya dalam laga uji coba, Aji kesulitan membentuk kerangka tim dan harus dipermalukan di hadapan 3000 pendukung Bahrain dengan 10 gol tanpa balas

Sepuluh gol yang merobek jala Indonesia itu dihasilkan hanya dari empat pemain Bahrain saja, di antaranya Ismaeel Abdulatif, Mohammed Al Alawi, Mahmood Abdulrahman dan Sayed Dhiya.

PSSI pun berkilah, beberapa hari sebelum petaka ini terjadi, mereka menyatakan bahwa timnas senior yang sebelumnya sudah tak lagi memiliki prospek menjanjikan. Sehingga harus diambil langkah tegas dengan memasukkan nama-nama muda untuk membangun kekuatan sepakbola Indonesia yang tangguh.

"PSSI berharap pemain bisa tampil maksimal untuk meningkatkan poin Indonesia di peringkat FIFA. Pertandingan ini juga sebagai ajang seleksi bagi pemain yang akan tampil di Piala AFF 2012, dan persiapan untuk SEA Games 2013 bagi yang di bawah 23 tahun," ujar eks Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin, saat itu.

Hasil ini kemudian menjadi kekalahan terburuk sepanjang sejarah persepakbolaan nasional. Ironisnya, kejadian yang begitu memalukan ini terjadi di saat media informasi sudah begitu membludak, sehingga pemberitaan pun dengan cepat tersiar hingga ke seluruh dunia.

Di sisi lain, meski menang besar, toh Bahrain tetap tidak mampu lolos karena di waktu yang bersamaan Qatar berhasil bermain imbang 2-2 dengan Iran.

Pages