Kisah

Mengenang Legenda: Didier Drogba, Sang Raja!

"Kami tidak butuh pemilihan untuk mencari tahu jawabannya. Drogba lebih besar dari presiden. Drogba adalah Pantai Gading," ucap Kouassi Augustin, pemimpin daerah yang bernama Drogbakro, salah satu wilayah di Pantai Gading pada tahun 2015 silam.

We are part of The Trust Project What is it?

Pernyataan itu memang tak main-main. Bagi mereka rakyat Pantai Gading, sosok Drogba adalah seperti panutan tersendiri. Kerja keras Drogba selama bertahun-tahun untuk menjadi ‘Sang Raja’ di London bersama Chelsea menuai hasilnya pada 2012 silam. Drogba adalah etos kerja.

Satu hal penting yang diingat dari Drogba untuk Pantai Gading bukanlah perihal sepakbola melulu. Drogba jauh lebih besar dari itu. Penyerang klinis di masanya ini terlibat dalam upaya perdamaian pernag sipil yang terjadi di kampung halamannya tersebut. Ya, perang sipil sesama saudara Pantai Gading. Ketokohan Drogba bahkan mampu mengintervensi pemerintah agar melakukan perdamaian dan gencatan senjata.

"Warga Pantai Gading dari utara, selatan, tengah, dan barat. Kami berlutut memohon kepada kalian untuk saling memaafkan. Negeri besar seperti Pantai Gading tidak bisa terus-menerus karam dalam kekacauan. Letakkan senjata kalian dan lakukan pemilihan umum," ungkapnya sambil berlutut dihadapan kamera TV pasca memastikan satu tempat di Piala Dunia 2006 silam.

Drogba bukan tanpa alasan. Negara yang ia cintai sedari kecilnya sudah tak seperti yang ia kenali lagi. Darah dimana-mana, misil saling beterbangan dan tempat ia bermain masa kecilnya berubah senyap dan diselimuti ketakutan. Drogba berkata, “Saya meninggalkan Pantai Gading dengan citra sebagai negara yang memiliki pemandangan indah, jalan-jalan yang indah, lingkungan hijau, dan semua masyarakat bahagia. Dan ketika saya datang kembali beberapa tahun kemudian, saya melihat perubahan drastis. Pada saat itulah saya mulai bertanya kepada diri saya sendiri," dilansir dari laman Al-Jazeera.

"Sesungguhnya, kami ingin semua itu berhenti. Ketika Anda memainkan pertandingan sepak bola dan Anda dikelilingi oleh peluncur misil roket... Oke, saya bisa menerima itu untuk keamanan presiden. Tetapi, Anda bermain dengan peluncur roket di mana-mana. Kami ingin bermain dengan suasana lebih tenang lagi. Jadi, setelah pertandingan (kualifikasi Piala Dunia 2006), kami gembira, dan seseorang berbisik di telinga saya, itu adalah waktu yang tepat untuk menyampaikan pesan. Kemudian kami hanya berimprovisasi," lanjutnya.

Lika-liku karier Drogba di dalam dan luar lapangan memang patut disanjung. Saat ia ditebus oleh Chelsea-nya Jose Mourinho pada 2004 silam dengan angka £24 juta (termahal dalam sejarah klub saat itu), banyak orang yang bertanya-tanya siapa sebetulnya pemain ini. Le Mans, Guingamp, dan Marseille adalah batu loncatan Drogba sebelum benar-benar jadi raja di Chelsea saat itu.