Mengenang Legenda: Franco Baresi, Bandiera Milan yang Tak Ada Duanya

Bagi sebagian suporter Milan, terutama para ultras, Franco Baresi adalah kapten, bandiera, Milan yang sebenar-benarnya. Paolo Maldini yang begitu sukses pun tak bisa menyaingi popularitas Baresi. Dan ada alasan tepat mengapa hal itu terjadi, tulis Renalto Setiawan...

Saya bisa saja memulai cerita tentang Franco Baresi dengan narasi seperti ini:

Pada pertandingan kedua Italia di Piala Dunia 1994, Franco Baresi mengalami cedera yang membuatnya diperkirakan akan menepi selama tiga hingga enam bulan. Meniskus lutut kanannya robek. Itu berarti dia tidak akan bisa lagi bermain di sepanjang sisa turnamen. Namun, Baresi memilih bekerja keras daripada menyerah. Ia ternyata bisa sembuh dalam waktu dua puluh lima hari. Ia bisa bertanding di partai puncak Piala Dunia. Dan itu adalah sebuah kejaiban. Sayangnya, keajaiban itu hanya berhenti sampai di situ. Baresi ternyata kembali hanya untuk membuat Italia tertunduk lesu. Di pertandingan menegangkan melawan Brasil yang harus dirampungkan lewat drama adu penalti, Baresi menjadi salah satu algojo Italia yang gagal melaksakan tugasnya. Italia kalah. Baresi menangis. 

Sayangnya, menurut saya, memulai tulisan mengenai Franco Baresi dengan narasi seperti  itu merupakan sesuatu yang kurang adil. Bagaimanapun, kejadian di Amerika itu hanyalah segelintir kegagalan di antara kepungan prestasi yang ia dapatkan selama sekitar dua dekade karier sepabolanya. Jadi, saya kemudian memilih membukan tulisan mengenai Baresi dengan cara lain, dengan cara seperti ini:

Menurut KBBI, loyal memiliki pengertian setia atau patuh; cerdas memiliki pengertian sempurna perkembangan akal budinya; dan hormat mempunyai pengertian perbuatan yang menandakan rasa khidmat atau takzim. Lalu, saat Anda sekalian mencari seorang pesepakbola yang loyal, cerdas, serta terhormat sekaligus, Anda bisa menemukannya di dalam diri seorang Franco Baresi. Dan memang beginilah seharusnya cerita tentang Franco Baresi dimulai.

Merah Hitam Sampai Akhir

Saat Anda sekalian mencari seorang pesepakbola yang loyal, cerdas, serta terhormat sekaligus, Anda bisa menemukannya di dalam diri seorang Franco Baresi

Lahir di Travagliato, Lombardia, Italia, yang jaraknya hanya sekitar satu jam perjalanan darat dari kota Milan, Baresi adalah seorang milanista sejati. Darah Milan sepertinya sudah mengalir di dalam tubuhnya sejak dia masih merah. Dan takdir ternyata juga menginginkannya agar seperti itu.

Mempunyai cita-cita menjadi seorang pesepakbola profesional, Baresi mulai melangkah saat melakukan trial di Inter Milan. Saat itu dia masih berusia 14 tahun, dan dia melakukannya bersama dengan saudaranya, Giuseppe Baresi, yang berusia dua tahun lebih tua daripada dirinya. Sayangnya, sementara Giuseppe Baresi diterima, Baresi hanya mendapatkan ucapan seperti ini dari Inter Milan, "Silakan mencoba lagi pada tahun depan."

Kegagalan di Inter Milan ternyata tidak menciutkan nyali Baresi. Berdasarkan rekomendasi dari pelatih masa kecilnya, Baresi kemudian mencoba melakukan trial di AC Milan, tetangga Inter Milan. Meski membutuhkan beberapa kali trial untuk meyakinkan para pelatih tim junior di Milan, terutama karena tubuh mungil Baresi, Milan akhirnya mau menerima Baresi.

Kegagalan di Inter Milan ternyata tidak menciutkan nyali Baresi. Baresi kemudian mencoba melakukan trial di AC Milan

Sebagai seorang bocah berusia 14 tahun yang tiba-tiba menjadi bagian dari klub sebesar Milan, Baresi tentu saja antusias. Pemain-pemain Milan seperti Gianni Rivera, Giorgio Morini, hingga Enrico Albertosi yang sebelumnya hanya bisa dilihatnya dari jauh dari atas tribun stadion kini bisa dilihatnya dari dekat. Mereka mungkin juga bisa berpapasan dengannya di tempat latihan, tersenyum kepadanya, atau bahkan berlatih bersamanya. Meski begitu, Baresi kecil masih menganggap pemain-pemain itu seperti berasal dari planet yang berbeda dengan dirinya. Mereka tak tersentuh dan tak terjamah. Baresi adalah pemain muda yang kapan saja bisa gagal, sementara mereka adalah pemain-pemain yang sudah jelas kadar kebintangannya.

Dengan pendekatan seperti itu, Baresi kemudian memilih untuk bekerja keras. Agar bisa berada satu planet dengan bintang-bintang Milan, dia harus fokus dan berdedikasi. Dan dalam kurun waktu dua tahun, perjuangannya mulai membuahkan hasil: Baresi mulai mencuri perhatian staf pelatih Milan dan juga pelatih tim utama Milan, Nils Liedholm.

Dua tahun setelah mulai menaruh perhatian lebih terhadap Baresi, Liedhlom kemudian memberikan debut kepada Baresi saat Milan bertandang ke Verona pada tahun 1978. Saat itu, Baresi tampil apik dalam mengawal lini belakang Milan. Liedholm langsung jatuh cinta kepadanya. Pelatih asal Swedia tersebut kemudian mengatakan, "Meski masih berusia 18 tahun, dia (Baresi) sudah memiliki pengetahuan layaknya seorang veteran."

Meski masih berusia 18 tahun, dia (Baresi) sudah memiliki pengetahuan layaknya seorang veteran

- Nils Liedholm

Di musim berikutnya, Serie A musim 1978/79, Baresi langsung menjadi pilihan reguler Liedholm di lini belakang Milan. Dia akan diplot sebagai libero. Dan keputusan Liedholm tersebut ternyata tak meleset sedikit pun: Baresi benar-benar tampil layaknya seorang veteran di lini belakang dan Milan berhasil meraih gelar Serie A musim itu karenanya.

Pages