Kisah

Mengenang Legenda: Hendro Kartiko, Lelaki yang Pernah Dijuluki 'Fabian Barthez-nya Indonesia'

Renalto Setiawan mengisahkan kenapa Hendro Kartiko punya tempat spesial dalam kenangan sepakbola Indonesia...

We are part of The Trust Project What is it?

Kata-kata bagus tidak akan pernah mati, begitu juga seorang kiper dalam permainan sepak bola.

Seorang pakar sepak bola mungkin akan mengatakan, "Tim itu tampil lebih baik saat bermain dengan formasi 4-3-3." Seorang pelatih mungkin juga akan memberikan arahan,"Kita akan bermain dengan empat bek sejajar, dua gelandang bertahan, tiga gelandang serang, dan seorang penyerang." Lalu, di atas tribun stadion dua orang penggemar sepak bola biasanya akan melakukan perbedebatan saat timnya mengalami kekalahan. Yang satu akan mempertanyakan, "Sudah sering saya katakan, kita seharusnya bermain dengan fomasi 3-5-2 saat melawan mereka, bukan?," dan yang satunya lagi akan menjawab, "Formasi pohon natal ini (4-3-2-1) sudah bagus, tapi pelatih kita memang sangat keras kepala. Jika ia mempunyai cara khusus saat melawan mereka, kita mungkin tidak akan mengalami nasib seperti ini."

Saat membicarakan formasi dalam sepak bola, orang-orang yang merasa tahu segalanya tentang sepak bola nyaris tidak pernah sekali pun menyinggung tentang posisi seorang kiper. Daripada menyebutkan 1-4-3-3 atau 1-4-4-2, mereka lebih suka menyebutnya seperti itu: 4-3-3, 4-4-2, 3-5-2, atau 4-3-2-1. Meski begitu, mereka sebenarnya sama sekali tidak membuat kesalahan. Itu adalah kewajaran. Biar bagaimanapun, meski tak disebutkan, seorang kiper tergolong abadi dalam sepak bola. Posisinya tak pernah bergeser, selalu berdiri di depan gawang. Sendirian.

Brad Friedel, mantan penjaga gawang asal Amerika, pernah menggambarkan keabadian seorang kiper melalui kata-katanya ini: "Bagi seorang penjaga gawang, tidak ada tempat untuk bersembunyi."

Menariknya, keabadian tersebut kadang tampak seperti pedang bermata dua bagi seorang penjaga gawang. Selain tidak disebutkan dalam setiap formasi, posisi kiper sebenarnya juga bukan posisi yang diinginkan oleh pesepak bola yang bercita-cita menjadi bintang dunia.

Seorang anak kecil mungkin akan mulai mengenal sepak bola sebagai penjaga gawang. Namun, saat ia besar, atau saat bakat sepak bolanya ternyata melebihi dugaan banyak pemandu bakat, kariernya justru bisa berakhir sebagai penyerang, gelandang, atau bahkan sebagai seorang pemain belakang. Dan saat ia gagal melampaui ekspektasi, ia justru bisa berakhir sebagai dokter, masinis, atau profesi-profesi lainnya di luar sepak bola. Sesederhana itu.

A post shared by Try Hamdani Goentara (@tryhg) on

Di Indonesia, kejadian seperti itu juga sangat sering terjadi. Namun, jika bukan satu-satunya, Hendro Kartiko adalah salah satu pengecualian. Cita-citanya untuk menjadi penjaga gawang terbaik terus dipandu oleh penyelamatan-penyelamatan yang amat sering dilakukan oleh Hermansyah, Edwin van der Sar, serta Peter Schmeichel. Dan sejak saat itu, ia tak pernah berbelok dan  tak lagi peduli dengan omongan orang. Keinginannya tak bisa diganggu gugat, menjadi abadi dalam permainan sepak bola seperti para idolanya tersebut.

Dalam sejarah panjang sepak bola Indonesia, Hendro Kartiko juga mempunyai sejarah tersendiri. Ia menjadi penjaga gawang selama kurang lebih 24 tahun, dari tahun 1988 hingga tahun 2012 lalu. Daftar klub yang dibelanya pun jumlahnya puluhan, dari Porsela Treblasala hingga Mitra Kukar.

Dalam periode tersebut, daftar prestasi Hendro  tak sembarangan. Ia pernah membawa PSM Makassar (2000) dan Persebaya Surabaya (2004) menjadi juara liga Indonesia, dan juga pernah menggenggam Piala Indonesia saat membela Sriwijaya FC pada tahun 2010 lalu. Namun di samping semua itu, kehebatannya justru tampak begitu menonjol saat ia mengenakan seragam tim nasional.

Membicarakan tentang para penjaga gawang yang pernah mengawal gawang timnas Indonesia, barangkali masih banyak penjaga gawang lainnya yang lebih hebat daripada Hendro Kartiko. Maulwi Saelan, penjaga gawang timnas Indonesia di era 50-an, akan selalu dikenang sebagai salah satu bagian penting dalam cerita rakyat yang ber-setting di Mebourne, Australia, tahun 1956 lalu. Eddy Harto juga bisa dibilang sebagai pahlawan tunggal keberhasilan Indonesia dalam gelaran SEA Games 1991 di Manila, Filipina. Namun, Hendro mempunyai cerita ajaib sendiri dan hal inilah yang membuatnya lebih hebat daripada penjaga timnas Indonesia lainnya.    

Hendro mulai dipercaya menjadi kiper timnas senior Indonesia dalam gelaran Piala Asia 1996. Saat itu ia masih berusia 23 tahun dan statusnya adalah cadangan Kurnia Sandy. Namun karena cedera yang dialami Sandy dalam laga pembuka melawan Kuwait, ia pun menjadi pilihan utama Indonesia hingga akhir turnamen. Sayangnya, daripada menjadi pahlawan Indonesia, gawang Hendro kartiko justru kebobolan tujuh gol dalam gelaran Piala Asia 1996 tersebut.

Meski begitu, kegagalan di Piala Asia 1996 tersebut kemudian mengantarnya menjadi salah satu legenda sepak bola Indonesia. Pasalnya, seiring dengan peningkatan kualitas yang dimilikinya, jam terbangnya bersama tim nasional semakin bertambah. Ia selalu menjadi sosok yang bisa diandalkan saat timnas Indonesia dijauhi oleh prestasi. Dan berapa kali pun tempatnya digeser oleh penjaga gawang lainnya, ia akan kembali menjadi solusi.

Dengan pendekatan seperti itu, hingga ia pensiun tahun 2011 lalu, Hendro mampu tampil 60 kali bersama timnas Indonesia di bebagai macam kejuaraan, menjadi salah satu penjaga gawang Indonesia yang paling sering tampil bersama timnas.

Penampilan terbaik Hendro bersama timnas sendiri terjadi dalam gelaran Piala Asia 2000 dan 2004 lalu. Saat itu, saat Indonesia berhasil menahan imbang Kuwait 0-0 dalam gelaran Piala Asia 2000 dan menang 2-1  atas Qatar dalam gelaran Piala Asia 2004, Hendro dinobatkan sebagai man of the match. Hebatnya, dimulai dari penampilan gemilangnya saat melawan Kuwait tersebut, penggemar sepak bola Asia mulai menjulukinya sebagai Fabian Barthez-nya Indonesia.

"Di tahun 2000 dan 2004 aku mendapatkan man of the match dalam pertandingan Piala Asia. Yaitu saat bermain imbang 0-0 melawan Kuwait dan menang 2-1 melawan Qatar," kenang Hendro. "Tapi yang pasti lawan Kuwait, yang 0-0 itu, kebetulan aku banyak bikin penyelamatan. Jadi, mungkin sama orang-orang sana dan AFC itu, dikasih julukan seperti itu (Fabian Barthez-nya Indonesia). Aku juga baru tahu setelah event itu."

Bagi pengggemar sepak bola Asia, julukan seperti itu memang terlihat wajar. Biar bagaimanapun, sepak bola Asia memang masih tertinggal dari benua-benua lainnya. Tak heran jika ada pemain yang tampil menonjol, mereka akan memberikan pujian kepadanya dengan menyamakannya dengan pemain-pemain dunia. Namun bagi publik sepak bola Indonesia, julukan yang diberikan terhadap Hendro Kartiko tergolong luar biasa.

Pada masa itu, Fabian Barthez merupakan kiper hebat yang berhasil membawa Perancis menjadi juara dunia dan juara Eropa. Dan Hendro disamakan dengan dirinya oleh orang-orang Asia lainnya, bukan oleh orang-orang Indonesia. Lalu, selain Hendro, siapa pemain Indonesia lainnya yang pernah mendapatkan perlakuan seperti itu? Jika ada, mungkin tak banyak dan bisa dipastikan bukanlah seorang penjaga gawang.

Saat ini Hendro memang sudah tak lagi berdiri lagi di depan mistar. Ia sudah mempunyai kesibukan lain yang lebih berguna untuk menatap masa depannya. Namun dengan segala pencapaian yang didapatkannya, seperti posisinya itu, ia  akan abadi di dalam ingatan penggemar sepak bola Indonesia. Dan saat mereka membicarakan menyoal Hendro Kartiko, kata-kata seperti ini sepertinya sangat sulit untuk dihindari, "Hendro Kartiko adalah penjaga gawang terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia."

Temukan feature baru setiap harinya di FourFourTwo.com