Mengenang Legenda: Kurniawan Dwi Yulianto, Legenda yang Mewujudkan Mimpinya di Usia 19 Tahun

Ada tiga mimpi Kurniawan Dwi Yulianto ketika ia ingin menjadi pesepakbola. Dan ketiganya berhasil ia capai ketika usianya baru 19 tahun....

Pada awal digelarnya Liga Indonesia hingga awal tahun 2000-an lalu, sebelum Peter White memberikan warna berbeda terhadap perkembangan sepakbola Indonesia, sebagian besar tim-tim di Indonesia bermain dengan formasi tiga bek di lini pertahanan. Formasi ini seolah sebuah kewajiban layaknya seseorang yang harus membayar pajak. Alasan penggunaan formasi ini pun sederhana: selain bermain dengan tiga bek, tim-tim asal Indonesia biasanya juga bermain dengan dua orang pemain depan.

Secara teori, bermain menggunakan tiga bek saat melawan sebuah tim yang bermain dengan dua orang penyerang memang menguntungkan.  Dua orang bek dalam formasi tiga bek, biasanya dua bek terluar, akan melakukan man-to-man marking terhadap penyerang lawan. Dengan begitu, ada seorang bek yang tidak berhadapan langsung dengan penyerang lawan saat timnya bertahan. Bek tersebut kemudian bertugas untuk melakukan covering terhadap dua bek yang melakukan pengawalan terhadap dua penyerang lawan. Dan Jika koordinasi pertahanan berjalan bagus atau saat angin keberuntungan sedang berpihak, komposisi tiga bek tersebut akan sangat sulit untuk ditembus oleh lawan.

Karena insting tajamnya saat berada di depan gawang lawan, Kurniawan Dwi Yulianto pernah disebut mirip dengan Marco van Basten, penyerang legendaris Belanda dan AC Milan, oleh Danurwindo, mantan pelatihnya

Sayangnya, praktek ternyata memang tak semudah teorinya. Selain rapatnya sebuah pertahanan juga bergantung dengan kinerja pemain-pemain dari lini tengah dan lini depan, di Indonesia saat itu juga terdapat seorang penyerang yang terus-terusan mencetak gol bagaimanapun kondisinya. Bagi rekan-rekannya, ia sering dianggap sebagai dewa penyelamat. Sedangkan bagi lawan-lawannya, terutama para pemain bertahan, ia serupa dengan malaikat pencabut nyawa. Penyerang tersebut bernama Kurniawan Dwi Yulianto.

Karena insting tajamnya saat berada di depan gawang lawan, Kurniawan Dwi Yulianto pernah disebut mirip dengan Marco van Basten, penyerang legendaris Belanda dan AC Milan, oleh Danurwindo, mantan pelatihnya. Selain itu, karena kemampuan penunjang yang dimilikinya sebagai seorang penyerang, seperti kecepatan, kecerdasan, skill flamboyan, dan kemampuan di udara, Sven-Goran Eriksson, mantan pelatihnya di Sampdoria, pernah mengatakan bahwa Kurniawan adalah pemain yang memiliki bakat luar biasa.

Foto: Dokumentasi Tabloid Bola

Kombinasi pujian dari Danurwindo dan Eriksson tersebut berhasil dibuktikan secara fantastis: Selama sekitar 19 tahun (1995-2014) menjadi pemain sepakbola, Kurniawan berhasil mencetak 205 gol ke gawang lawan – 21 gol untuk tim luar negeri yang dibelanya (FC Luzern dan Sarawak FA), 33 gol untuk tim nasional, dan sisanya ia persembahkan untuk tim-tim asal Indonesia. Dan menariknya, semua itu ternyata dimulai dari sebuah mimpi Kurniawan yang sedikit melenceng dari kaidah umum. Dalam sebuah wawancaranya dengan Detiksport, Kurniawan pernah mengatakan, "Dulu mimpi saya (menjadi pesepakbola) cuma satu: masuk televisi, naik pesawat terbang gratis, ke luar negeri gratis."

Pages