Mengenang Legenda: Oliver Bierhoff, Lelaki Rendah Hati Terus Terbang Tinggi

Rasanya hanya sedikit pemain yang bisa seikonik Bierhoff dalam hal sundulan kepala di sepakbola. Kepalanya membuat Jerman menjadi juara dengan dramatis di Piala Eropa 1996, dan Udinese serta Milan juga pernah merasakan dampak positif sundulan Bierhoff. Renalto Setiawan mengenang pria rendah hati ini...

Jika mempunyai keyakinan, semua orang pasti bisa terbang.

J.M. Barrie, kreator Peter Pan, pernah mengatakan, “Alasan mengapa kita (manusia) tidak bisa terbang sedangkan burung bisa adalah karena mereka memiliki keyakinan yang sempurna,  memiliki keyakinan untuk mempunyai sayap.”

Peter Pan sendiri, yang merupakan karya populer J.M. Barrie, memang bisa terbang karena bubuk ajaib dari para peri.  Tetapi saat dirinya tidak yakin, di mana emosinya tidak stabil dan tidak merasa bahagia, kemampuan terbangnya bisa hilang.

Dalam salah satu kutipan terbaiknya, mendiang Muhammad Ali, salah satu petinju terbaik yang pernah ada di dunia, pernah mengatakan, “Superman tidak membutuhkan sabuk pengaman,” – yang sebetulnya langsung dijawab oleh pramugari bahwa Superman seharusnya tidak naik pesawat terbang.

Konon, kata-kata tersebut diucapkan Ali saat berada di dalam pesawat yang sedang mengalami turbulensi karena cuaca buruk . Pilot menginstruksikan kepada para penumpang untuk segera mengenakan sabuk pengaman, namun Ali satu-satunya penumpang yang menolaknya.  Saat itu Ali berpikiran bahwa itu merupakan saat terbaik mengekspresikan keyakinannya terhadap Tuhan.

Tak jauh berbeda dengan Peter Pan dan Muhammad Ali, Oliver Bierhoff, penyerang sekaligus pahlawan Jerman pada Piala Eropa 1996 lalu, juga meyakini bahwa dirinya bisa terbang. Namun demikian, modal Bierhoff untuk terbang berbeda dengan keduanya. Jika Peter Pan mempunyai bubuk ajaib dari para peri, Ali mempunyai Tuhan, Bierhoff mengandalkan kepalanya untuk terbang.

Sang pahlawan Jerman di Piala Eropa 1996

Pasca berhasil menjadi juara Piala Dunia 1990, masyarakat Jerman mulai bersikap perfeksionis terhadap timnya. Kegagalan dalam bentuk apa pun tak akan diterima pada saat itu. Dengan pendekatan tersebut Berti Vogts, pelatih Jerman pasca Piala Dunia 1990, pernah nyaris diusir dari Jerman gara-gara hanya mampu membawa Jerman menjadi runner-up Piala Eropa 1992 – saat itu Jerman kalah dari Denmark di babak final.

Menariknya, Vogts masih dipertahankan setelah kegagalan itu. Apesnya, Vogts kembali mengalami kegagalan di Piala Dunia 1994 dua tahun kemudian. Saat itu Jerman kalah di babak perempat-final dari Bulgaria, yang mengandalkan sihir Hristo Stoichkov, penyerangnya. Publik sepakbola Jerman kemudian semakin tidak yakin dengan masa depan timnya bila Vogts masih dipertahankan sebagai pelatih dengan pencapaiannya yang mengecewakan tersebut.

Meski begitu, entah mantra sihir apa yang dirapalnya, Vogts masih tetap dipercaya untuk menangani timnas Jerman. Publik sepakbola Jerman pun semakin skeptis terhadap tim nasionalnya. “Kisah dagelan ini sepertinya belum akan berakhir dalam waktu dekat,” mungkin begitu pikir orang-orang Jerman pada saat itu.

Alih-alih bersikap lunak terhadap publik sepakbola Jerman pasca kembali dipercaya, Vogts justru memilih untuk semakin dibenci pada saat itu. Dalam gelaran Euro 1996, dia memilih meninggalkan Lothar Matthaeus dan Steffan Effenberg, dua pemain bintang sekaligus pujaan Jerman, di rumah. Vogts merasa terganggu dengan nama besar mereka, di mana itu dianggapnya bisa merusak suasana tim. “Tidak ada pemain bintang di dalam tim, karena tim itu sendirilah yang menjadi bintang,” begitu pembelaan mantan pelatih Bayer Leverkusen tersebut.

Dalam gelaran Euro 1996, Vigts memilih meninggalkan Lothar Matthaeus dan Steffan Effenberg, dua pemain bintang sekaligus pujaan Jerman, di rumah

Dogma Vogts tersebut, yang pada awal turnamen terlihat seperti senjata makan tuan, ternyata benar-benar manjur. Juergen Kohler, salah satu center-back terbaik Jerman, harus menepi dari turnamen karena cedera. Juergen klinsmann, Sang Kapten, harus absen dalam pertandingan awal dan sering dipaksakan bermain meski tidak dalam kondisi bugar. Namun Jerman ternyata terlihat baik-baik saja dengan keadaan seperti itu. Matthias Sammer, yang menggantikan tempat Matthaeus, tampil heroik di jantung pertahanan. Menurut Uli Hesse, dalam tulisannya di buku Tor!: The Story of German Football, saat dalam keadaan sulit, Sammer berhasil membuat Jerman tetap bermain dalam tempo yang pas. Sammer bahkan melakukan lebih dari apa yang seharusnya dia lakukan.

Di babak penyisihan, menghadapi tim-tim kuat seperti Ceko, Russia, dan Italia, Jerman tak sekali pun kebobolan. Mereka dua kali menang, menghajar Ceko 2-0 dan Rusia 3-0, dan berhasil menahan Italia-nya Arrigho Sacchi yang terkenal hebat, 0-0. Di babak perempat-final dan semifinal, Jerman lagi-lagi berhasil membuat banyak orang kagum. Kroasia dan tuan rumah Inggris yang bertabur bintang berhasil mereka hempaskan secara meyakinkan.

Namun di pertandingan final, saat harus kembali menghadapi Ceko, Jerman benar-benar mengalami kesulitan. Kepercayaan diri pemain-pemain Ceko yang berbeda daripada saat babak penyisihan grup, membuat Jerman selalu tertekan. Matthias Sammer, yang sebelumnya sering menjadi penyelamat, justru menjadi pesakitan pada pertandingan tersebut. Tekel terlambatnya terhadap Karel Poborsky, sayap Ceko, dihadiahi penalti oleh wasit. Berger yang menjadi algojo tak menyia-nyiakannya. Ceko sementara unggul 1-0.