Mengenang Legenda: Oliver Kahn, Der Titan Penjaga Martabat Tim Nasional Jerman

Aksi brilian dan blunder yang jadi mimpi buruknya

Kahn memang menutup tahun 90-an dan membuka tahun 2000 dengan cara yang mengecawakan. Bersama Bayern Munich, Kahn gagal mengangkat trofi Liga Champions 1998/99 setelah kalah dari Manchester United pada menit-menit terakhir pertandingan final. Setahun setelahnya, dalam debutnya sebagai kiper utama timnas Jerman di turnamen besar, Kahn juga gagal menutupi penampilan buruk Jerman dalam gelaran Piala Eropa 2000 di Belanda dan Belgia. Namun Kahn kemudian tak membutuhkan banyak waktu untuk menunjukkan kebesarannya. Dalam gelaran Liga Champions 2000/01, Kahn berhasil membawa Bayern Munich menjadi juara setelah mengalakan Valencia di pertandingan final. Dalam pertandingan yang harus melewati drama adu penalti tersebut, Kahn berhasil menggagalkan tiga tendangan algojo Valencia. Dirinya kemudian dinobatkan menjadi pemain terbaik dalam pertandingan di San Siro, Milan, yang menegangkan tersebut. Dan satu tahun setelahnya, tepatnya dalam gelaran Piala Dunia 2002, Kahn juga berhasil membuktikan bahwa dirinya merupakan salah satu kiper terbaik di seantero jagad pada waktu itu.

Penyelamatannya di final Liga Champions 2001 memberikan Bayern Munich gelar juara

Berangkat ke Korea dan Jepang, tempat digelarnya Piala Dunia 2002, dengan skuat yang tidak meyakinkan, Jerman bukanlah unggulan dalam turnamen tersebut. Status tersebut memang tak salah. Setelah menghempaskan Arab Saudi 8-0 pada pertandingan pembuka, Jerman tampak kesulitan saat harus meladeni perlawanan militan dari Irlandia dan Kamerun. Dalam pertandingan tersebut, lini pertahanan Jerman serapuh donat. Seperti sebuah dari karma Perang Dunia kedua, penyerang-penyerang Irlandia dan Kamerun secara leluasa mampu menghujani gawang Jerman dengan tembakan-tembakan mematikan. Dan pada saat itulah, Kahn berhasil membuat banyak orang bertanya-tanya di dalam hatinya: "Mungkin, dia juga bisa menghentikan rudal."  Sebuah pujian yang kemudian terus mengiringi perjalanan kiper terbaik Bundesliga 1994 tersebut di sepanjang Piala Dunia 2002.

Tembakan keras yang terarah, tandukan yang peluang golnya mencapai 99%, dan situasi satu lawan satu gagal mengoyak ketangguhan Kahn di depan gawang Jerman.

Tembakan keras yang terarah, tandukan yang peluang golnya mencapai 99%, dan situasi satu lawan satu gagal mengoyak ketangguhan Kahn di depan gawang Jerman. Dia selalu melompat, mengorbankan anggota tubuhnya, dan berteriak untuk menghindarkan maut yang terus mengancam gawang Jerman. Dalam pertandingan menghadapi Irlandia, usaha mati-matian yang dilakukan Robbie Keane memang berhasil mengalahkannya pada menit-menit akhir pertandingan. Tetapi itu adalah satu-satunya gol yang bersarang ke Kahn sebelum dirinya bertemu dengan Ronaldo, penyerang terbaik sejagad pada waktu itu, pada pertandingan final. Dalam empat pertandingan menuju final, Kahn sukses membuat Samue Eto'o, Landon Donovan, dan Ahn Jung-hwan kehilangan akal untuk mengalahkannya.

Kita semua tahu bahwa pada akhirnya Kahn berhasil dikalahkan Ronaldo pada pertandingan final. Tidak hanya sekali, tetapi dua kali. Dan salah satunya terjadi karena blunder yang dibuatnya. Saat itu, Kahn gagal menangkap bola yang seharusnya bisa dengan mudah diatasinya. Ronaldo yang tak terkawal kemudian dengan mudah memanfaatkan kesalahan Kahn tersebut.

Ini adalah salah satu mimpi terburuk Oliver Kahn di sepanjang kariernya

"Itu adalah satu-satunya kesalahanku di pertandingan final. Tetapi itu sepuluh kali lebih buruk daripada kesalahan lainnya yang pernah aku buat. Tidak ada cara bagiku untuk membuatku merasa lebih baik atau untuk melupakan kesalahan itu," penyesalan Kahn tentang kesalahnnya itu.

Itu adalah satu-satunya kesalahanku di pertandingan final. Tetapi itu sepuluh kali lebih buruk daripada kesalahan lainnya yang pernah aku buat

- Oliver Kahn

Saat Brasil mampu mengangkat gelar dunianya yang kelima pada akhir pertandingan, Kahn memang boleh mengutuk dirinya sendiri. Ia duduk bersandar gawang dengan tatapan nanar di tengah-tengah pesta kemenangan Brasil. Namun, publik sepakbola, termasuk publik sepakbola Jerman, ternyata mempunyai pendapat berbeda dengan mantan kiper Bayern Munich tersebut. Bagaimanapun Kahn tampil hebat sepanjang turnamen. Gawangnya hanya kebobolan tiga kali, dan dua di antaranya terjadi di pertandingan final di mana jari tangannya mengalami cedera. Berapa kali pemain-pemain Brasil harus melakukan tembakan ke gawang untuk mampu mengalahkannya? Ronaldo bahkan sempat beberapa kali memperlihatkan ekspresi kesal karena ketangguhan Kahn di mistar gawang pada saat itu.

Dengan pendekatan seperti itu, Kahn pun akhirnya dinobatkan sebagai pemain terbaik Piala Dunia 2002 tersebut, mengalahkan Ronaldo yang merupakan mimpi buruknya.