Mengenang Legenda: Oliver Kahn, Der Titan Penjaga Martabat Tim Nasional Jerman

Sang pahlawan yang tak perlu turun ke lapangan

Dalam gelaran Piala Dunia 2006 di Jerman, revolusi sepakbola Jerman yang dimotori Juergen Klinsmann, pelatih Jerman pada saat itu, dimulai. Sejumlah pemain muda yang diharapkan mampu membangkitkan kekuatan Jerman pada masa yang akan datang mulai mendapatkan tempat. Pemain-pemain yang sudah menua meski masih memiliki nama besar secara perlahan mulai disingkan. Kahn, yang saat itu sudah berusia 37 tahun, juga menjadi korbannya. Kahn dipaksa menyerahkan singgasananya kepada Jens Lehmann selalu tampil bagus bersama Arsenal.

Semula, Kahn tidak terima dengan keputusan tersebut. Kiper Bayern Munich tersebut masih menganggap dirinya pantas untuk menjadi penjaga gawang utama timnas Jerman. Alhasil, terciptalah konflik internal di dalam timnas Jerman.  "Saat itu saya seperti mendapatkan tamparan di wajah saya," begitu kenang Kahn. "Saya bertanya kepada diri sendiri: Apakah Lehamnn dan Klinsmann menggunakan penasehat yang sama? Apakah Bierhoff (manajer Jerman) dan Lehmann sudah saling kenal sejak mereka masih kecil? Apakah ini sebuah kebetulan bahwa istri mereka berteman?"

Sikap legawanya ketika digeser oleh Jens Lehmann di timnas justru membuat banyak orang menghormatinya

Namun seiring berjalannya waktu Kahn akhirnya dapat menerima keputusan Klinsmann tersebut. Dirinya mulai sadar bahwa dia tetap bisa membantu timnya meski itu harus dilakukan dari bangku cadangan. Dan puncak dari kesadarannya tersebut terjadi saat dirinya menjabat tangan Lehmann menjelang babak adu penalti saat melawan Argentina pada pertandingan perempat-final. Itu adalah jabat tangan yang memiliki arti sebuah dukungan. Berbarengan dengan ego Kahn yang meluntur demi kepentingan negaranya, Olympiastadion, Berlin, bergemuruh hebat.

Kesadaran bahwa Anda tidak selalu harus berdiri di lapangan hanya untuk kemenangan itu sangat membebaskan. Seseorang bisa sukses dengan cara membantu tim, membantu pemain-pemain lain

- Oliver Kahn

"Saya banyak belajar pada tahun 2006 (Piala Dunia). Setelah kalah, saya bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya bisa melakukan perbedaan? Bagaimana saya bisa terus tumbuh? Setelah Piala Dunia 2006, saya tahu bahwa Anda tidak selalu membutuhkan keberhasilan di atas lapangan. Kesadaran bahwa Anda tidak selalu harus berdiri di lapangan hanya untuk kemenangan itu sangat membebaskan. Seseorang bisa sukses dengan cara membantu tim, membantu pemain-pemain lain. Tiba-tiba saya memiliki empati untuk orang-orang yang sebelumnya tidak pernah saya rasakan."

Kahn kemudian hanya bermain dalam satu pertandingan pada Piala Dunia 2006, yaitu saat Jerman mengalahkan Portugal 3-1 di perebutan tempat ketiga. Itu kemudian menjadi pertandingan terakhirnya dengan seragam timnas Jerman. Setelah pertandingan tersebut, Kahn memutuskan pensiun dari timnas yang sudah dibelanya dalam 86 pertandingan dan dikapteninya dalam 49 pertandingan. Dalam pertandingan tersebut dirinya beberapa kali membuat penyelamatan penting, dan membuat Critiano Ronaldo dan Nuno Gomez nyaris kehilangan akal untuk mengalahkannya.

Pesta di Jerman memang ditutup oleh kemenangan Italia. Tetapi, terutama bagi publik sepakbola Jerman, pesta itu sebetulnya sudah ditutup ketika Oliver Kahn, salah satu penjaga martabat bangsa terbaik yang pernah dimiliki Jerman, melakoni pertandingan terakhirnya sehari sebelum berlangsungnya pertandingan final.

Temukan feature baru setiap harinya di FourFourTwo.com/ID