Mengenang Legenda: Paolo Maldini, Legenda Besar Italia yang Tak Pernah Menjuarai Piala Dunia

Di Serie A dan di Liga Champions, ia adalah 'dewanya'. Tujuh scudetto dan lima Liga Champions sukses ia raih di sepanjang kariernya. Tapi di timnas Italia, ceritanya berbeda. Dan itulah noda terbesar dalam kariernya...

Saat seorang pemain hebat yang hanya memperkuat satu klub sepanjang 25 tahun kariernya memilih untuk pensiun, sepakbola yang semakin materialistis pun pasti akan menaruh hormat yang tinggi kepadanya. Apalagi jika pemain yang dimaksud adalah Paolo Maldini.

Paolo Maldini adalah seniman lapangan hijau yang selama lebih dari dua dekade sudah melewati beberapa generasi saat memilih gantung sepatu pada 2009 silam. Dia sudah memberikan segalanya untuk membantu AC Milan meraih sebanyak mungkin gelar yang bisa mereka raih selama berseragam merah hitam. Lima trofi Liga Champions, tujuh gelar Serie A, lima Piala Super Eropa dan satu Coppa Italia adalah bukti kontribusinya di era kejayaan Milan. Maka tak mengherankan jika mantan manajer sekelas Sir Alex Ferguson pun menyebut pria kelahiran 26 Juni 1968 itu sebagai pemain favoritnya dari tim lawan yang pernah dihadapinya saat membesut Manchester United. Maldini dengan segala sejarah yang ditorehkannya layak meninggalkan lapangan hijau dengan kepala tegak meski kariernya tak sesempurna Xavi Hernandez atau Andres Iniesta.  

Debut Maldini bersama Rosonerri terjadi pada 20 Januari 1985 saat ia masuk menggantikan Sergio Battistini dalam sebuah laga kontra Udinese di usia yang baru menginjak 16 tahun. Meski itu menjadi satu-satunya kesempatan Maldini merumput bersama Milan di musim tersebut, bakatnya menjadi salah satu penoreh sejarah panjang kejayaan di San Siro di tahun-tahun berikutnya. Tiga tahun berselang, berada di bawah kepelatihan Arrigo Sacchi, Maldini sukses mempersembahkan trofi pertamanya untuk Milan, klub yang juga pernah dikapteni sang ayah, Cesare Maldini. Gelar Serie A di musim itu mengawali rentetan trofi yang datang ke Milan dengan Maldini sebagai salah satu penggawa penting mereka.

Maldini muda mendapatkan dukungan dari banyak pemain top di timnya

Kesuksesan Maldini sebagai pemain tentu bukan hasil upayanya semata. Kedatangan Silvio Berlusconi sebagai pemilik baru AC Milan pada 1986 serta keputusannya untuk merekrut Arrigo Sachhi dari Parma pada 1987 menjadikan Milan sebagai klub yang sangat disegani di dunia. Di era mantan penjual sepatu itu, yang mengakhiri kepemilikannya pada bulan ini, Milan juga bisa menikmati jasa trio Belanda legendaris (Marco van Basten, Frank Rijkaard, dan Ruud Gullit) dan dengan lini belakang yang dikawal oleh Alessandro Costacurta, Mauro Tassotti, Franco Baresi, dan Maldini sendiri. Singkat kata, Maldini mengawali kisahnya di Milan di saat yang tepat.

Maldini berkembang di saat yang tepat di Milan

Akhir 80an dan awal 90an adalah era di mana Milan seolah menjadi penguasa tunggal lapangan hijau. Mereka tiga kali meraih trofi Piala Champions (1989, 1990, dan 1994) dan Maldini memiliki kontribusi besar dalam kesuksesan tersebut sebagai pemain utama di usia yang muda. Hebatnya lagi, itu bukan trofi Eropa terakhir yang ia persembahkan. Dalam periode satu dekade berikutnya, ia kembali mengangkat trofi itu sebanyak dua kali (2003 dan 2007), dengan status sebagai kapten tim yang sudah disandangnya sejak 1996.

PIALA DUNIA, KUTUKAN ADU PENALTI DAN GOL EMAS

Gelimang trofi Maldini bersama Milan gagal diteruskannya bersama tim nasional Italia. Piala Eropa 1988 menjadi turnamen internasional pertamanya, di mana Italia hanya sukses menginjakkan kaki hingga semifinal. Dua tahun kemudian, Italia mencatatkan rekor sebagai tim yang tidak kebobolan dalam lima pertandingan beruntun di Piala Dunia 1990, sebelum Diego Maradona mencetak gol penyeimbang di babak semifinal untuk Argentina sekaligus mengandaskan langkah Negeri Pizza itu lewat babak adu penalti.

Paolo Maldini bermain menonjol di Piala Dunia 1990

Adu penalti seolah menjadi kutukan bagi Maldini dan kiprahnya di Piala Dunia. Dalam dua gelaran berikutnya, Italia selalu tersingkir lewat sistem yang mengadu kerja keras dengan keberuntungan tersebut. Di edisi 1994, Italia dikalahkan oleh Brasil di babak final, sementara pada 1998 Azurri dikandaskan tuan rumah Prancis, yang akhirnya menjadi juara, di babak perempat final. Untuk gelaran 1994 di Amerika Serikat, Maldini sudah sempat menyandang ban kapten karena cedera yang dialami Franco Baresi.

Adu penalti seolah menjadi kutukan bagi Maldini dan kiprahnya di Piala Dunia. Dalam dua gelaran berikutnya, Italia selalu tersingkir lewat sistem yang mengadu kerja keras dengan keberuntungan tersebut

Sementara itu, ajang Piala Dunia terakhirnya pada 2002 juga berakhir dengan tak kalah menyakitkan. Azzurri disingkirkan tuan rumah Korea Selatan di babak 16 besar lewat aturan Golden Goal, di mana sebuah tim yang berhasil lebih dulu mencetak gol di babak tambahan bisa langsung keluar sebagai pemenang.

Kekecewaan yang dirasakannya dalam empat gelaran Piala Dunia rupanya cukup untuk membuat Paolo Maldini menjauh dari ingar bingar turnamen sepakbola terbesar itu saat negaranya memenangi edisi 2006 yang digelar di Jerman dan dia sudah tak lagi menjadi bagian dari skuat.

"Saya berada di Amerika Serikat saat Piala Dunia 2006 digelar, jauh sekali, jadi sampai mereka (Italia) masuk ke babak semifinal, saya nyaris tidak mengetahui apapun. Saya menyaksikan laga final dan berbahagia untuk mereka, tapi saya kecewa dengan diri saya sendiri. Tapi, saya juga sudah memiliki terlalu banyak hal jadi saya tak seharusnya mengeluh," aku Maldini saat diwawancara tahun 2009.

Meski sempat masuk dalam tim terbaik Piala Dunia, ia tak pernah berhasil memenangi trofi tersebut bersama Italia

Saya berada di Amerika Serikat saat Piala Dunia 2006 digelar, jadi sampai mereka (Italia) masuk ke babak semifinal, saya nyaris tidak mengetahui apapun. Saya menyaksikan laga final dan berbahagia untuk mereka, tapi saya kecewa dengan diri saya sendiri

- Paolo Maldini

Maldini memang gagal membawa negaranya menjuarai satu pun turnamen internasional, namun kepiawaiannya di posisi bek kiri membuatnya terpilih dalam daftar Tim Terbaik Turnamen di Piala Dunia edisi 1990 dan 1994. Namun, di antara deretan penghargaan di level individu dan klub tersebut, Maldini bukannya tak memiliki jasa apapun untuk tim nasionalnya. Permainan elegannya di barisan pertahanan adalah warisan yang akan selalu menginspirasi banyak bek Italia saat ini. Kariernya yang panjang membuat filosofinya sebagai bek mampu menyeberangi beberapa generasi, sementara kemampuannya beradaptasi dengan perubahan menjadikannya sebagai sosok yang tepat untuk dijadikan teladan sepanjang zaman.