Mengenang Legenda: Pavel Nedved, Lelaki Sederhana yang Menjadi Manusia Spesial di Hari Minggu

Pavel Nedved adalah pemain yang spesial - bukan hanya dari bagaimana ia bermain di setiap pertandingan di atas rumput hijau, tetapi juga karena kehidupannya yang sederhana. Renalto Setiawan mengenang kembali legenda Lazio dan Juventus ini...

Pada suatu waktu ayah Pavel Nedved mengatakan sebuah petuah kepada Nedved: "Kamu adalah manusia biasa seperti orang-orang kebanyakan, kecuali pada setiap hari Minggu di mana kamu bermain selama 90 menit di Calcio (Serie A Italia)."

Saat rumput lapangan hijau tidak menjadi pijakannya dan saat puluhan ribu manusia di atas tribun stadion tidak menghiasi pandangannya, Nedved memang benar-benar orang biasa. Daripada mengendarai mobil-mobil sport Italia, seperti Lamborghini dan Ferrari layaknya bintang-bintang sepakbola Italia lainnya, Nedved lebih sering berjalan kaki menyusuri hutan di sekitar tempat tinggalnya bersama anak-anaknya. Senyum istri Nedved, Ivana, jarang sekali melengkapi acara fashion show di kota-kota besar Italia. Senyumnya lebih sering terlihat di dapur saat menyiapkan masakan istimewa untuk suaminya. Selain itu, Nedved juga lebih senang bermain golf daripada menghabiskan waktu di tempat-tempat hiburan mahal. Bunyi hantaman tongkat golf saat mengenai bola lebih dia hafal daripada bunyi musik disko yang bisa membuat orang-orang terus berjoget seolah tak ada hari esok.

Namun, Nedved memang berbeda saat hari Minggu tiba. Selama sembilan puluh menit dia adalah bintang. Pusat perhatian. Setiap gerak-geriknya nyaris tak pernah lepas dari sorotan kamera, baik kamera televisi maupun kamera fotografer olahraga pengincar momen-momen fenomenal. Dan, tentu saja dia juga tak pernah luput dari sorotan sebelas pemain lawan. Bagaimanapun, membiarkan pemain yang cocok untuk mengisi salah satu peran dalam Stranger Things (tentu saja karena model rambutnya) tersebut bertindak sesuka hatinya akan menjadi malapetaka bagi tim lawan.

Sejatinya, kebiasaan Nedved untuk menjadi orang biasa di luar pertandingan bermula dari kehidupan mudanya yang sulit, di mana saat itu Cekoslowakia (sebelum berpisah menjadi Ceko dan Slovakia), negaranya, sedang dirundung konflik. Sedangkan kebiasannya untuk menjadi bintang setiap Minggu di Serie A Italia berawal dari janji Mino Raiola, agen Nedved, kepada Zdenek Zeman, pelatih Lazio.

"Pada suatu hari saya akan membawa pemain yang sesuai dengan keinginanmu – seseorang yang bisa terus berlari, mempunyai kualitas teknik yang hebat, mau terus belajar, dan bahkan Anda tidak akan bisa membuatnya lelah!" begitu kata Raiola kepada Zeman pada saat itu.

Saya akan membawa pemain yang sesuai dengan keinginanmu – seseorang yang bisa terus berlari, mempunyai kualitas teknik yang hebat, mau terus belajar, dan bahkan Anda tidak akan bisa membuatnya lelah

- Mino Raiola

Nedved mulai bermain bola di sebuah kota bernama Skalna, sebuah kota kecil di Cekoslowakia yang terletak di dekat perbatasan Jerman. Sejak usia lima tahun kemampuan olah bolanya sudah tampak menonjol jika dibandingkan dengan rekan-rekannya. Meski demikian, pada saat itu ada batas nyata yang mungkin bisa membuat cita-citanya untuk menjadi pemain sepakbola kelas dunia kandas di tengah jalan: di negaranya, pemain yang berusia di bawah 32 tahun tidak boleh bermain di luar negeri. Menariknya Nedved tidak ambil pusing. Dia terus bermain bola, membuat banyak orang berkata bahwa Nedved suatu saat benar-benar akan menjadi pemain kelas dunia. Jika seseorang terus berusaha keras pasti ada jalan, mungkin begitu isi pikirannya pada saat itu. Dan jalan tersebut akhirnya benar-benar muncul saat tembok Berlin dirobohkan pada tahun 1989 lalu. "Itu adalah saat yang tepat – pesepakbola berbakat di sini bisa mempunyai masa depan yang jelas," begitu kata Nedved.

Bersamaan dengan robohnya tembok Berlin, rezim komunis di Cekoslowakia mulai diusik. Rakyat menuntut Ceko untuk berpisah dengan Slowakia. Keinginan tersebut kemudian menjadi kenyataan sekitar tahun 1993 lalu, dan tiga tahun setelah kejadian itu, saat dirinya sudah berusia 23 tahun, Nedved memulai kariernya di kompetisi sepakbola paling sulit di dunia, Serie A Italia. Tiga gelar liga bersama Sparta Praha (satu gelar liga Cekoslovakia 1992/93 dan dua gelar Liga Ceko 1993/94 dan 1994/95) yang diraih Nedved berhasil meyakinkan Lazio, salah satu klub mapan di Italia, untuk mengangkutnya ke kota Roma.

"Waktu itu saya menganggap sepakbola Italia sangat sulit. Saya baru berusia 23 tahun dan belum pernah ke luar negeri. Serie A adalah kompetisi yang sulit... tampaknya terlalu berlebihan bagi saya," kenang Nedved saat pertama kali memulai kariernya di Italia.

Kepindahannya ke Lazio mengubah hidupnya

Memang ada beberapa hal yang membuatnya ragu pada saat itu. Dia tidak bisa berbahasa Italia dan kota Roma sangat berbeda dengan kota-kota besar di Ceko. Roma sangat berisik, nyaris tak pernah mati. Jika penampakkan bulan di Praha dan kota-kota Ceko lainnya adalah sebuah pertanda bagi orang-orang untuk segera pulang ke rumah, bulan di kota Roma justru dinantikan banyak orang untuk memulai kehidupannya. Selain itu, berbeda dengan di negaranya, kapan pun dan dimana pun, sepakbola di Italia hampir selalu dibicarakan oleh penduduknya. Sepakbola nyaris tidak jauh berbeda seperti acara gosip di televisi yang selalu berhasil menyita perhatian.

Meski begitu, secara perlahan Zdenek Zeman berhasil meyakinkan Nedved, bahwa dia benar-benar seorang pesepakbola berbakat – Italia tidak akan menyulitkan pemain yang benar-benar hebat – dan senyum-senyum ramah warga Italia yang sering ditemuinya di pinggir jalan juga berhasil menyelamatkan kehidupannya. "Di Italia saya belajar banyak, saya menjadi semakin dewasa sebagai seorang pemain dan sebagai manusia. Karier terbaik saya terjadi di sana," kata pemain yang gemar minum kopi di Caval'd Brons, sebuah warung kopi bersejarah di kota Turin, tersebut.

Selanjutnya: Juventus, rumah sejatinya...