Mengenang Legenda: Pierluigi Collina, Wasit Bermata Elang yang Tak Pernah Dilupakan

Globalisme, melalui sistem pasar dan konglomerat-konglomerat dunia, boleh menggerus kejayaan sepakbola Italia. Tetapi menyoal prinsip-prinsip dasar sepakbola, Italia memang masih tiada banding. Hakikatnya memang seperti itu: sepakbola Italia masih terlalu menawan untuk ditinggalkan.

Di Inggris, pertandingan antara Manchester City melawan Manchester United bisa menjadi pertandingan yang ditunggu-tunggu oleh pemadat sepakbola dari segala penjuru dunia. Namun lihatlah bagaimana pertandingan itu berjalan. United ketinggalan dua gol terlebih dahulu. United kemudian bermain direct, memainkan beberapa raksasa di lini depan. City kemudian menambah jumlah pemainnya di lini belakang, karena bola terlalu sering jatuh dari atas langit ke arah kotak penalti mereka. Lini tengah, yang katanya lini paling krusial di dalam permainan sepakbola, kemudian menjadi tak berguna bagi kedua tim. Daerah itu kosong melompong, masih terlalu besar untuk dijadikan tempat berjemur empat gajah ekor dewasa. Secara singkat, permainan kedua tim menjadi terlalu kick and rush untuk sepakbola jaman sekarang.

Di Jerman, pertandingan antara Bayern Muenchen melawan Borussia Dortmund, yang belakangan ini selalu berlangsung dengan tempo kencang, juga sering menjadi magnet bagi banyak orang. Alasannya: kedua tim sering memainkan taktik gila.

Secara kasat mata, Dortmund bisa terlihat bermain dengan empat bek sejajar, tetapi saat menyerang anak-anak asuhan Thomas Tuchel tersebut sering terlihat hanya meninggalkan seorang pemain belakang. Satu-satunya pemain belakang itu pun berdiri terlalu dekat dengan garis tengah lapangan. Muenchen juga tak kalah edan. Sebagai tim yang paling dominan menyoal penguasaan bola, terutama pada era Guardiola, mereka bisa menyerang dari kotak penalti mereka sendiri hingga kotak penalti Dortmund hanya dengan mengandalkan dua sampai tiga sentuhan. Hal ini terjadi karena kebanyakan pemain-pemain menyerang Muenchen merupakan sprinter hebat.

Masalahnya, pertandingan kedua tim tersebut sering terlalu taktis. Pemain-pemainnya terlalu mekanis, seperti robot. Miskin intuisi.

Di Italia pertandingan-pertandingan semacam itu hampir jarang sekali terjadi. Lini tengah tetap menjadi tempat sakral, tak akan pernah dibiarkan melompong. Akan menjadi dosa besar jika lini tengah tidak diperlakukan dengan baik dan benar. Dan meskipun masalah taktik menjadi hal utama, pemain-pemain Italia juga masih sering memperlihatkan intuisi kretaif mereka di atas lapangan.

Alhasil, di tengah-tengah populernya catenaccio dan sistem zonal marking, pemain-pemain seperti Gaetano Scirea, Sandro Mazzola, Gianni Rivera, Roberto Baggio, Andrea Pirlo, hingga Francesco Totti juga selalu hadir untuk menunjukkan kualitas individu mereka, yang levelnya mendekati keajaiban. Singkatnya, ada seorang fantasista dibalik pertahanan bergerendel tim-tim Italia dan ada juga seorang regista di dalam taktik rumit tim-tim asal Italia.

Menariknya, untuk membuktikan betapa menawannya sepakbola Italia sebenarnya tidak perlu repot-repot dengan melakukan analisis mendalam, entah itu terhadap sebuah pertandingan tertentu atau terhadap pemain tertentu. Daya pikat sepakbola Italia sejatinya dapat diwakili oleh kiprah seorang Pierlugi Collina. Ya, seorang wasit. Seorang wakil Tuhan di atas lapangan – bukan pemain atau sebuah tim sepakbola. Dan ini juga bukan lelucon.