Mengenang Legenda: Roberto Baggio, Sang Fantasista yang Begitu Dicintai Italia

Kenangan akan Roberto Baggio semestinya tak hanya menyoal kegagalan penaltinya yang ikonik di final Piala Dunia 1994 - Renalto Setiawan menunjukkan bahwa ada banyak hal yang membuat karier si kuncir akan dikenang selamanya oleh publik Italia...

Ada banyak alasan kenapa penggemar sepakbola Italia memitoskan fantasista, sebuah peran  imajinatif dalam sepakbola Italia yang terkenal sistematis. Dan ada satu alasan penting kenapa keberadaan fantasista kemudian dianggap sebagai salah satu mahakarya oleh publik sepakbola dunia: fantasista dapat mempermainkan waktu – peran yang nyaris tidak dapat dilakoni oleh orang-orang biasa. Jean Paul-Sartre, salah satu penulis kenamaan asal Prancis, pernah mengatakan, "Jam tiga (baik siang maupun malam) selalu terlalu awal atau terlalu telat untuk melakukan apa pun yang Anda inginkan." Dan bagi seorang fantasista, aturan Sartre tersebut terlihat seperti sebuah omong kosong.

Seorang fantasista biasanya melukis lapangan tempatnya bermain dengan imajinasi dan fantasi liarnya. Dia tidak mengenal ruang, tidak peduli dengan wilayah flank, half-space, dan center, serta tidak peduli dengan waktu

Seorang fantasista biasanya melukis lapangan tempatnya bermain dengan imajinasi dan fantasi liarnya. Dia tidak mengenal ruang, tidak peduli dengan wilayah flank, half-space, dan center, serta tidak peduli dengan waktu. Lihatlah bagaimana kebiasaan Francesco Totti yang sering mengundang decak kagum itu. Kapten AS Roma tersebut sering turun jauh ke daerahnya sendiri, membelakangi gawang lawan yang jauh berada di depan. Saat bola kemudian dioperkan kepadanya, sekali sentuh, Totti langsung mengirimkan bola jauh ke depan. Tak sedikit orang yang kemudian berpikir Totti melakukan tindakan konyol, dan orang yang lebih bijak akan berpendapat bahwa Totti terlalu terburu-buru dalam melakukan umpan. Namun ketika umpan Totti tersebut mendarat dengan tepat di kaki rekannya yang sudah berdiri bebas di depan gawang lawan, ada sebuah kesimpulan penting: imajinasi Totti satu tingkat di atas orang-orang bijak, dan dua hingga tiga tingkat di atas orang-orang bodoh.

Fantasi yang dimilikinya membuat Totti masih mampu berdiri tegak di atas lapangan meski dia sudah berusia 40 tahun. Imanjinasinya bahkan membuat Totti terlihat lebih abadi daripada kota Roma yang mempunyai julukan Kota Abadi. Dengan pendekatan tersebut, Totti dianggap seorang pemain yang luar biasa hebat yang juga mampu menginspirasi orang banyak. Dan oleh karena alasan itulah, seperti menjadi kehendak langit, seorang fantasista kemudian disakralkan di dalam sepakbola Italia. Jika Anda masih kurang percaya, karier panjang Roberto Baggio, seorang pemain yang identik dengan kuncir kudanya, sebagai seorang fantasista dapat menjelaskannya dengan baik.

Sebagai trequartista, Baggio biasa bergerak bebas di antara dua lini

Lututnya boleh rapuh tapi imanjinasinya membuatnya terus berlari

"Saya mengatakan kepada ibu saya untuk membunuh saya," kata Baggio kepada Corriere dello Sport, salah satu media olahraga di Italia.

Pernyataan Baggio tersebut muncul pasca cedera lututnya, yang membuat dirinya tidak mampu tampil bersama Fiorentina di Serie A sepanjang musim 1985/86, kambuh. Pernyataan tersebut keluar dari mulut Baggio setelah dirinya mendalami ajaran agama Buddha, di mana dirinya yakin bahwa suatu kejadian mengajarkan sesuatu dalam kehidupan seseorang dan sebelum berpikir menggunakan logika, berpikir secara positif merupakan hal utama saat seseorang harus menghadapi suatu masalah besar. Saat itu Roby, sapaan akrab Baggio, memang begitu rapuh. Selain itu Roby juga masih muda, 19 tahun. Dua ratus dua puluh jahitan di sekitar lututnya yang dia terima beberapa hari setelah pertandingan debutnya bersama Fiorentina pada bulan September 1986 mempunyai arti bahwa dia harus menepi hingga Serie A musim 1986/87 berakhir. Tak heran jika dirinya saat itu nyaris putus asa. Beruntung, ibunya kemudian tak mau menuruti perintahnya. Malahan, ibunya justru terus menyemangati Roby dalam masa rehabilitasinya.

Baggio ternyata mampu sembuh lebih cepat, beberapa pekan sebelum Serie A musim 1986/87 benar-benar berakhir. Roby kemudian terlibat dalam pertandingan menghadapi Napoli, kandidat kuat juara Serie A pada musim tersebut. Menariknya, Baggio mampu tampil hebat pada pertandingan tersebut, seolah seperti seorang pemain yang tak pernah mengalami cedera selama dua musim. Dirinya bahkan mencetak gol indah melalui tendangan bebas, membuat pemain-pemain Napoli yang menjadi pagar betis terpesona ketika bola melewati mereka dan membuat kiper Napoli tak berdaya ketika bola bersarang ke dalam gawangnya. Gol penyeimbang tersebut menyelamatkan Fiorentina dari degradasi ke Serie B. Publik Naples memang berpesta pada hari itu, karena mereka berhasil memastikan gelar Serie A meski hanya bermain imbang 1-1 melawan Fiorentina, tetapi tanpa sadar mereka juga ikut merayakan kehadiran Roberto Baggio, calon bintang baru sepakbola Italia.

Meski begitu, cedera lutut sepertinya memang menjadi karib Baggio sepanjang karier emasnya. Sekitar satu setengah dekade setelah cedera parahnya saat berseragam Fiorentina tersebut, tepatnya pada tanggal 1 Januari 2002, masalah di lutut Baggio kembali kambuh. Dia diperkirakan akan absen hingga enam bulan. Masalahnya, kehadirannya saat itu sangat dibutuhkan Brescia yang terancam degradasi ke Serie B dan timnas Italia yang akan berlaga di Piala Dunia 2002. Hanya sebuah keajaiban yang bisa membuatnya kembali ke atas lapangan sebelum Serie A musim 2001/02 berakhir dan Piala Dunia 2002 dimulai.