Mengenang Legenda: Ronaldo, Sang Fenomena Paling Ikonik di Dunia Sepakbola

Satu generasi sebelum Cristiano Ronaldo mendominasi sepakbola bersama Lionel Messi, seorang pemain yang bernama sama lebih dahulu menggenggam dunia lewat kecepatan, trik, dan rataan golnya yang luar biasa. Ia adalah pemain nomor 9 paling ikonik di dunia: Ronaldo!

Seperti Pele, mendiang ayah saya adalah peramal yang buruk. Ramalan-ramalannya menyoal sepakbola bahkan lebih buruk daripada ramalan zodiak di sebuah surat kabar yang miskin kualitas. Meski begitu, saat Ayah mengatakan, ”Ada satu, ada dua,” yang bagi saya terdengar menyebalkan itu, ramalannya jarang sekali meleset.

Pada malam pertandingan leg kedua babak perempat-final Liga Champions 2002/03 antara Manchester United melawan Real Madrid di Old Trafford, Ronaldo menerima umpan terobosan dari Guti Hernandez. Rio Ferdinand, yang saat itu mengawalnya, berlari setengah mati untuk menyaingi kecepatan Ronaldo. Segala upaya kemudian dilakukan Ferdinand untuk menghentikan Ronaldo, tetapi sebelum dia berhasil melakukannya, Ronaldo sudah melakukan tembakan ke arah tiang dekat yang tak mampu dijangkau oleh Fabien Barthez. Madrid sementara unggul 0-1 – unggul 1-4 secara agregat. Lalu datanglah ‘mantra' menyebalkan dari ayah saya itu, ”Ada satu, ada dua.”

Saya tahu bahwa Ronaldo sering kali menyelamatkan ramalan-ramalan buruk ayah saya mengenai sepakbola. Setelah mencetak satu gol, Ronaldo memang tak selalu mencetak dua gol atau lebih dalam setiap pertandingan. Tetapi Ronaldo terlalu sering melakukannya, sesering John Wick dalam menghajar musuh-musuhnya. Dengan pendekatan seperti itu, saat itu saya langsung mengucap doa kepada Tuhan, ”Tuhan, semoga Rio Ferdinand menebas kaki Ronaldo hingga dia tak mampu bangkit lagi.”

Sayangnya, doa buruk tidak dapat dikatakan sebagai sebuah doa. Daripada mengabulkan doa saya itu, Tuhan pun kemudian berpihak kepada ayah saya. Ronaldo terus menari di tengah-tengah muka pucat pemain-pemain bertahan United dan gerutuan saya. Semua kelebihannya sebagai seorang penyerang diperlihatkannya dalam pertandingan itu, dari kecepatan, penempatan posisi, hingga penyelesaian kelas satu. Hebatnya, Ronaldo tidak hanya mencetak dua gol pada pertandingan tersebut. Dia berhasil membukukan hattrick secara mengagumkan.

Saat Ronaldo digantikan oleh Santiago Solari pada menit ke-67, publik Old Trafford berdiri untuk memberikan standing ovation. Para penggemar United bernyanyi dengan lantang “Fergie, Fergie sign him up!”

Melihat penampilannya malam itu, saat Ronaldo digantikan oleh Santiago Solari pada menit ke-67, publik Old Trafford berdiri untuk memberikan standing ovation. Para penggemar United bernyanyi dengan lantang “Fergie, Fergie sign him up!” Pemandangan tersebut tentu saja jarang sekali terjadi di Old Trafford. Sepanjang sejarah berdirinya Old Trafford hanya segelintir pemain lawan yang mendapatkan perlakuan seperti itu.

Meski pada akhirnya United menang 4-3, mereka tetap gagal lolos ke babak semifinal karena kalah agregat gol. Sementara raut muka saya merengut, ayah saya tersenyum bahagia di samping saya. Janjinya untuk membelikan CD Playsation keesokan harinya tak mampu menolong suasana hati saya. Ya, semuanya gara-gara Ronaldo yang fenomenal itu.

Penerus Pele dan Ayrton Senna

Segalanya berawal dari kematian Ayrton Senna di sirkuit Imola, Italia, pada tahun 1994 lalu. Pasca Pele, Senna adalah idola baru bagi jutaan masyarakat Brasil. Dia begitu dicintai dan dihormati karena prestasinya yang seperti tak kunjung habis. Saat Senna menggeber habis mobil formula satunya untuk meninggalkan para pesaingnya, saat itu pula orang-orang Brasil lupa bahwa kehidupan terus-terusan menghajar mereka.

Dengan pendekatan seperti itu, kematian Senna menyebabkan duka mendalam bagi masyarakat Brasil. Mereka khawatir tak akan mendapatkan pahlawan serupa setelah kepergian Senna. Bagi mereka, orang-orang seperti Pele dan Senna belum tentu dilahirkan sekali dalam seabad.

Namun tanpa disadari, hanya beberapa saat setelah kematian Senna, pahlawan baru masyarakat Brasil ternyata sudah tumbuh besar. Dia sudah berada di dalam skuat tim sepakbola Brasil peraih gelar juara dunia tahun 1994. Dia memang sama sekali tidak terlibat di dalam pertandingan timnas Brasil di Amerika Serikat itu, tetapi ketika seorang pemain berusia 17 tahun ikut ambil bagian di dalam sebuah turnamen besar tentu saja dia bukanlah seorang pemain biasa saja. Nama bocah itu adalah Ronaldo Luiz Nazario da Lima.