Kisah

Mengenang Legenda: Ryan Giggs, Penyihir Sederhana Penyelamat Manchester United

Ia bisa menghipnotis semua orang dengan liukannya di atas lapangan, tapi gaya hidupnya benar-benar sederhana. Ketahanannya hingga bisa bermain di usia 40 tahun juga luar biasa, dan Renalto Setiawan memberikan tributnya untuk legenda yang tak ada duanya ini...

We are part of The Trust Project What is it?

Pada malam final Liga Champions 2008 hujan deras mengguyur Stadion Luzhniki, Moskow. Seorang pemain Manchester United bernomor punggung sebelas bersiap melakukan sebuah tendangan penalti. Sebuah tendangan penalti penentu. Selain merupakan tendangan penalti tambahan, apabila tendangan tersebut gagal, compang-camping sudah segala usaha yang dilakukan United di Liga Champions sepanjang musim itu.

Ryan Giggs, nama pemain itu, menata bola dengan kakinya – tanpa sekali pun menyentuh dengan tangannya. Ketenangannya saat itu luar biasa, bagai seorang jenderal perang yang masih bisa berpikir cerdik di tengah-tengah kematian yang terus mengintai. Tak ada celah sedikit pun bagi Petr Cech, kiper Chelsea, untuk mengganggu konsentrasi.

Setelah bola dipastikan berada di tempat yang diinginkannya, Giggs melangkah mundur untuk melakukan ancang-ancang. Jantung penggemar Chelsea dan Manchester United di seluruh dunia berdetak tak karuan, Cristiano Ronaldo dan pemain-pemain Manchester United mengucapkan segala doa yang pernah mereka pelajari di sekolah dan dari orang tua mereka agar bola itu masuk, dan pemain-pemain Chelsea melakukan doa sebaliknya.

Dari kejauhan, tepatnya di bangku cadangan Manchester United, tak ada orang yang setenang Alex Ferguson dalam menghadapi ujian yang selevel dengan hidup dan mati itu. Dia tahu bahwa Giggs tak akan mengecewakannya. Baginya, Giggs adalah seorang manusia luar biasa, bukan hanya seorang pesepakbola hebat. Dan yang lebih penting, Giggs adalah seorang juru selamat yang beberapa kali mengukuhkan reputasi hebatnya sebagai seorang pelatih terbaik di dunia.

Giggs adalah seorang manusia luar biasa, bukan hanya seorang pesepakbola hebat. Dan yang lebih penting, Giggs adalah seorang juru selamat yang beberapa kali mengukuhkan reputasi hebatnya sebagai seorang pelatih terbaik di dunia

Giggs kemudian melangkah ke depan. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah. Cech memutuskan untuk mengantisipasi bola ke sebelah kanan. Namun, Giggs ternyata menembak bola ke arah sebaliknya. Bola mendatar sepakan Giggs meluncur deras ke pojok kiri gawang Petr Cech. Kemudian, Giggs mengepalkan tangannya tinggi-tinggi ke udara, dan Sir Alex Ferguson tahu bahwa timnya akan memenangkan pertandingan.

Benar saja, sesaat setelahnya, Edwin van Der Sar, kiper Manchester United, berhasil menggagalkan tendangan Nicolas Anelka. United berhasil meraih gelar liga Champions keduanya di era Sir Alex Ferguson. Saat pemain-pemain Manchester United berhamburan ke tengah lapangan, Ferguson tahu betul harus mengucapkan terima kasih kepada siapa. Giggs, yang pada malam itu berhasil melampaui rekor pertandingan Sir Bobby Carlton di Liga Champions, adalah pemain pertama yang dicari oleh Sir Alex Ferguson.

Saat Giggs berusia 13 tahun, ketika pertama kali Ferguson melihatnya, pelatih asal Skotlandia tersebut pernah mengeluarkan komentar yang fenomenal: “Cocker Spaniel (ras anjing dari Spanyol yang dikembangkan di Inggris yang bertubuh kecil hingga sedang, memiliki telinga panjang dan berbulu lebat) mengejar kertas perak yang tertiup angin.“ Di Moskow malam itu, Ferguson mungkin ingin mengatakan kepada Giggs bahwa dia merupakan cocker spaniel yang paling banyak mendapatkan kertas perak daripada cocker spaniel di mana pun.

Kehebatan yang terus terjaga

Saat Giggs dinobatkan sebagai pemain terbaik sepanjang masa Manchester United pada tahun 2011 lalu, Gemma Thompson, penulis Inside United, membuka tulisannya dengan sebuah kalimat yang langsung menjelaskan betapa hebatnya seorang Ryan Giggs: “Ryan Giggs lebih sering berdentum dibanding Big Ben.” Kalimat tersebut memang hiperbolis, tetapi memang begitu adanya.

Giggs bermain bersama United lebih dari dua dekade, dari tahun 1991 hingga tahun 2014. Saat banyak pemain-pemain United lainnya datang dan pergi, Giggs berhasil membuat singgasananya di sisi kiri Manchester United nyaris tak tersentuh. Dia sudah menjadi penghibur sejati di Old Trafford saat Fabio dan Rafael da Silva, dua manta rekan Giggs di United, masih berusia delapan bulan. Dia sudah membuat bek-bek kanan di Liga Inggris pusing tujuh keliling sebelum Phil Jones, bek tengah andalan Manchester United, dilahirkan di dunia.

Hebatnya, keberhasilan Giggs bertahan selama 23 tahun di Old Trafford bukan hanya karena loyalitasnya terhadap klub. Dalam periode itu, Giggs hampir selalu berada di level tertinggi. Saat dia mulai memasuki usia 30 tahun, kecepatannya memang mulai menurun, tetapi kecerdasannya tetap membuatnya berada di level tertinggi hingga 10 tahun setelahnya. Dia begitu fenomenal. Sesederhana itu.

Keberhasilan Giggs bertahan selama 23 tahun di Old Trafford bukan hanya karena loyalitasnya terhadap klub. Dalam periode itu, Giggs hampir selalu berada di level tertinggi

Dalam sebuah pertandingan Liga Champions antara Manchester United melawan tuan rumah Bayer Leverkusen pada tahun 2013 lalu, Giggs, yang saat itu sudah berusia 40 tahun, menjadi salah satu penyebab hancur leburnya permainan tuan rumah. Bermain di lini tengah, umpan-umpan tak terduganya sering mengawali serangan berbahaya United. Selain itu, mungkin karena bosan, dia sesekali bermain melebar untuk menggoda para pemain bertahan Leverkusen. Kecepatannya memang sudah jauh menurun, tetapi kemampuannya dalam mengubah kecepatan sama sekali tak berubah. Hal inilah yang membuatnya terlihat seperti pemain paling cepat di atas lapangan pada pertandingan itu. Dua hingga tiga pemain bertahan Leverkusen beberapa kali gagal menghentikannya.

Setelah pertandingan, beberapa pemain Leverkusen dan wartawan kemudian memberikan pertanyaan kepada Wayne Rooney, “Bagaimana dia (Giggs) masih bisa bermain seperti itu?”

Rooney mungkin kebingungan untuk menjawab pertanyaan itu. Namun, jika pertanyaan tersebut diajukan kepada Sir Alex Ferguson, mantan pelatih United itu dipastikan mampu menjawabnya dengan mudah. Bagaimanapun tak tak ada yang lebih tahu mengenai kehebatan Giggs, selain pelatih yang berhasil membuatnya menjadi legenda di Old Trafford tersebut.