Mengenang Sang Profesor Kecil

Scott McIntyre memberikan penghormatan kepada Dettmar Cramer, pelatih visioner Jerman yang tak hanya terkenal di negaranya, tapi juga meninggalkan kesan abadi di seluruh Asia...

"Bola melemparkan mantra pada semua orang, semua terpesona oleh bola."
 
Di era informasi instan, di mana pengetahuan lebih sering didapatkan bukan dari pengalaman seumur hidup melainkan dari mengakses internet, melupakan adalah hal yang mudah.
 
Melupakan mereka-mereka yang meletakkan dasar-dasar dari banyak hal, yang datang untuk membantu dan mendukung sebelum hal-hal itu dilakukan banyak orang dan yang mempelajari itu sebanyak yang mereka ajarkan.
 
Dettmar Cramer, yang meninggal Kamis lalu di usia 90, adalah salah satu dari orang-orang tersebut.
 
Suasana berkabung pun terlihat di Eropa dan terutama di negerinya, Jerman, di mana ia pernah memimpin Bayern Munich juara Eropa pada 1975 dan 1976, Cramer adalah figur sepakbola yang meninggalkan kesan abadi dalam sepakbola Asia setelah berkarir di Jepang, Arab Saudi, Korea Selatan, Malaysia dan Thailand.
 
Dia juga memimpin Tim Nasional Mesir dan Amerika Serikat dalam karir kepelatihan profesional yang membentang di lebih dari sembilan puluh negara, tetapi di Jepang-lah ia paling dikenang.
 
Dijuluki 'bapak sepak bola Jepang modern' ia pertama kali datang ke negara itu pada tahun 1960 yang dikenal sebagai 'fajar budaya sepakbola Jepang.'
 
Dia terbang dari Jerman di salah satu pesawat yang lebih modern di dunia pada saat itu, Super Constellation, pada sebuah perjalanan yang ia gambarkan sebagai seperti pergi ke bulan.
 
Berangkat dari Dusseldorf lalu ada pemberhentian di Kopenhagen, Oslo, Spitsbergen, dan Anchorage sebelum ia tiba di Tokyo untuk menghadapi konferensi pers yang panjang di mana ia diberitahu bahwa ia akan bertemu dengan tim nasional keesokan harinya.
 
Sesuai dengan gaya dari sosok yang dinilai sebagai internasionalis sejati, ia terjaga sepanjang malam di kamar hotelnya untuk belajar cara menggunakan sumpit; mengambil kertas dan berbagai benda menggunakan dua pensil agar tidak mempermalukan tuan rumahnya.
 
Keesokan paginya, dia dengan bangga menyatakan, ia mampu memotong dan makan telur goreng dalam awal dari sebuah perjalanan yang memiliki dampak mendalam pada sepakbola Asia.
 
Sama seperti yang dilakukan Asosiasi Sepakbola Jepang hari ini dalam membangun negara-negara di bawah AFC, Jerman melakukannya di awal 1960-an dengan Cramer dikirim ke negara itu oleh DFB untuk membantu mengembangkan sepakbola di negeri ini, dengan tujuan jangka pendek untuk persiapan Olimpiade Tokyo 1964.
 
Selama hampir satu dekade keterlibatannya dengan Jepang, seperti yang dikatakan JFA (Asosiasi Sepakbola Jepang), "Cramer meletakkan dasar bagi pengembangan pemain muda di Jepang."
 
Ia adalah pembimbing pada kursus kepelatihan pertama FIFA pada tahun 1969, ia melatih para pelatih, mengatur program pendidikan, merombak dan memodernisasi metode pelatihan, yang mengawali terbentuknya liga profesional dan memimpin generasi pemain untuk jatuh cinta dengan sepakbola.
 
Sebagai pelatih tim Olimpiade yang berisi beberapa pemain terbaik dalam sepakbola Jepang, Cramer memimpin tim dari babak penyisihan grup hingga perempat final di mana mereka dikalahkan 4-0 oleh Cekoslowakia di lapangan pinggiran kota di Tokyo, yang memiliki fasilitas layak, yang setiap Januari menjadi tuan rumah  menjamu para pemain muda terbaik dari SMA-SMA di negara ini.
 
Ia kemudian melanjutkan bekerja sebagai penasihat teknis untuk JFA dan tim sepakbola Jepang bahkan lebih baik empat tahun kemudian di Meksiko, menahan imbang Brasil dan Spanyol di babak penyisihan grup sebelum secara mengejutkan mengalahkan Prancis 3-1 di perempat final dan akhirnya meraih Medali Perunggu dengan kemenangan 2-0 atas tuan rumah Meksiko.

Membahas karirnya di Jepang dalam sebuah film dokumenter yang diproduksi oleh pembuat film terkenal asal Belanda Johan Kramer pada tahun 2010, pria yang dijuluki oleh Franz Beckenbauer sebagai 'The Little Professor' ini mengklaim bahwa waktunya di Jepang adalah masa yang paling memuaskan dalam hidupnya.
 
"Hari ini, saya dianggap sebagai bapak dari sepakbola modern di Jepang tetapi saya tidak yakin, mana yang lebih banyak mengambil pelajaran, Jepang dari saya atau saya dari Jepang."
 
"Saya memiliki karakter yang sulit, saya tidak punya kesabaran, itu merupakan bencana jika Anda seorang pelatih.
 
"Saya memiliki temperamen yang buruk, tetapi mereka mengajari saya untuk bersabar dan saya tidak pernah membiarkan saya melewati batas lagi, tidak membentak siapa pun untuk meyakinkan mereka dan saya belajar bahwa kepemimpinan itu untuk menarik banyak orang bukan dengan kekuatan atau kekuasaan, melainkan pendekatan."
 
Pendekatan itu membuatnya, hampir dua tahun setelah memenangkan Piala Eropa dengan Bayern, ke Arab Saudi dan bertugas selama empat tahun dengan salah satu klub terbesar di Asia, Al Ittihad, di mana ia sukses memperkokoh posisi mereka sebagai salah satu klub terkemukan di negeri Kerajaan tersebut.
 
Ia menyelenggarakan beberapa kursus awal kepelatihan dan manual untuk AFC dan melanglang buana sebagai instruktur untuk FIFA termasuk tinggal di Iran, bertugas cukup lama di Australia dan menjalin hubungan yang berkelanjutan dengan Malaysia yang membuatnya membawa negara tersebut finis di posisi keempat turnamen Piala Merdeka pada 1967 sebelum lebih berkonsentrasi sebagai penasihat teknis dan pelatih pada pertengahan 1970-an.
 
Ia menjalani sebuah periode kepelatihan bersama tim Olimpiade Korea di awal 1990-an sebelum ia mengakhiri karirnya dengan menjalani masa kepelatihan singkat bersama Thailand pada usia 72 di tahun 1997.
 
Dalam suasana berduka atas kepergiannya, salah satu mantan anak emas Cramer dan Presiden Kehormatan JFA, Saburo Kawabuchi, mengatakan "Dia adalah seorang guru yang mengajari saya tentang kehidupan itu sendiri, bukan hanya sepakbola."
 
Itu adalah pujian yang umum yang diberikan oleh orang-orang yang mengenalnya dan ia mengatakan kepada Kramer pada tahun 2010 itu adalah pilihan dalam hidupnya, baik di dalam maupun di luar olahraga.
 
"Ada sebuah puisi Cina, yang ditulis pada abad pertama Masehi oleh Li Yu yang mengatakan 'bola melayang di atas kita seperti bulan / dua tim saling berhadapan sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang ditetapkan / tidak ada ruang untuk memihak / sebaliknya ini adalah determinasi, ketenangan dan menghormati rekan tim serta pemain lawan."
 
"Jika ini sangat penting dalam sepakbola, maka ini lebih penting untuk kehidupan kita di masyarakat."
 
Saya telah berusaha untuk melacak Cramer selama setahun atau lebih untuk mendapatkan beberapa pandangan soal karirnya yang berpindah-pindah dan itu menjadi salah satu penyesalan besar saya bahwa saya tidak mampu melakukannya, karena dia adalah orang yang terus merangkul dan mencintai sepakbola sampai akhir hidupnya.
 
Orang yang mengatakan sangat jatuh cinta dengan sepakbola sejak masih kanak-kanak dan yang masih mengenakan celana Adidas lawas di ruang tamunya, dikelilingi oleh bingkai foto dari perjalanannya yang mendunia yang amat berperan dalam mendorong perkembangan sepakbola di Asia.
 
Saat ia mengatakan di usianya yang menginjak 90 tahun di bumi ini, sepakbola telah beruba dalam banyak hal, tapi kita tidak boleh lupa nilai-nilai penting dari permainan ini.
 
"Itu membuat saya sedih bahwa keberhasilan kemarin tidak ada artinya di keesokan hari. Apapun yang saya menangkan kemarin, apa pun yang Anda menangkan hari ini, yang penting adalah apa yang anda menangkan besok.
 
"(Kemenangan) di masa lalu yang tidak ada artinya membuat saya sedih."