Sorot Bakat

Muhammad Riyandi: Kiper 16 Tahun yang Siap Menantang Level Asia Tenggara

Setelah membuat heboh di ISC A 2016 karena ketenangannya dan statusnya sebagai salah satu pemain termuda sepanjang sejarah sepakbola profesional Indonesia, Muhammad Riyandi kini siap menantang level Asia Tenggara bersama timnas U-19 Indonesia. Renalto Setiawan membahas kiper muda Barito Putera ini...

We are part of The Trust Project What is it?

Dalam karya masterpiece-nya, Soccer in Sun and Shadow, Eduardo Galeano, sastrawan asal Uruguay, menyatakan bahwa seorang kiper adalah seseorang yang dikutuk untuk selalu menderita, seolah seperti sedang menanggung segala macam tindak tanduk buruk yang dia lakukan sebelumnya. Saat rekan-rekannya sibuk mencari cara untuk mencetak gol kemenangan, dirinya hanya bisa menonton dari kejauhan. Sendirian. Dan saat daerah kekuasaannya, kotak penalti sebesar 16,5 x 40,3meter yang cukup luas untuk dijadikan sebuah kedai kopi di kota-kota besar, ramai kedatangan pengunjung, seorang kiper juga harus tetap siap untuk menderita. Bagaimanapun, di antara para pengunjung di dalam kotak penaltinya, ada beberapa penembak jitu yang bisa setiap saat menembak batok kepalanya.

Karena penderitaan dan kesendiriannya, Galeano kemudian mengibaratkan bahwa setiap helai rumput di atas lapangan tidak akan bisa tumbuh setelah diinjak atau dilewati oleh seorang penjaga gawang.

"Ganti posisi, jangan menjadi kiper," begitu saran Gianluigi Buffon, salah satu portiere terbaik yang pernah dimiliki Italia, untuk anak-anak kecil yang ingin menjadi kiper. "Serius, setiap anak kecil seharusnya berpikir tentang cara mencetak gol daripada menghindarkan gawangnya dari kebobolan."

Buffon kecil memang tidak ingin menjadi kiper. Saat dirinya berusia 12 tahun, Buffon adalah seorang gelandang tengah di dalam timnya, Perticata. Buffon ingin menjadi seperti Marco Tardelli, pahlawan Italia di Piala Dunia 1982. Namun, takdir sepertinya mempunyai kehendak lain. Dalam gelaran Piala Dunia 1990 Buffon dibuat kagum oleh penampilan Thomas N'Kono, penjaga gawang Kamerun. Semakin sering N'kono terbang, melompat, atau jungkir-balik saat mengamankan gawangnya, semakin berdebar-debar pula jantung Buffon dibuatnya. Saat itu Buffon sepertinya mendapatkan kenyataan baru di dalam pikirannya: meski seorang kiper sering sendirian dan menderita, kiper juga bisa bersenang-senang ketika para regu tembak gagal mengeksekusinya.

Beberapa tahun setelah N'kono menjadi salah satu idola terbaiknya, Buffon yang saat itu berusia 17 tahun, 9 bulan, 21 hari, melakukan debut profesionalnya sebagai penjaga gawang. Saat itu Parma, tim Buffon, akan menghadapi AC Milan, salah satu raksasa Italia, dalam pertandingan Serie A Italia. Sebelum pertandingan, rekan-rekannya di Parma khawatir jika Buffon akan menjadi bulan-bulanan para penyerang hebat AC Milan seperti George Weah, Roberto Baggio, dan Marco Simone. Namun, kekhawatiran tersebut tak berwujud. Gawang Buffon tidak kebobolan, dan penyerang-penyerang top AC Milan berhasil dipermainkannya. Buffon beberapa kali terbang untuk melakukan penyelamatan penting seperti N'Kolo pada Piala Dunia 1990. Sementara Fabio Cannavaro, rekannya di Parma pada saat itu, mengatakan bahwa Buffon tampil seperti seorang veteran, James Horncastle, penulis sepakbola Italia ternama, mengatakan bahwa hari itu adalah hari pertama Superman mendaratkan kakinya di bumi – Superman adalah salah satu dari sekian banyak julukan untuk Buffon.

Di Indonesia, Muhammad Riyandi, kiper Barito Putera, mungkin tak tahu bagaimana kisah Buffon tersebut. Dirinya belum lahir saat Buffon menjalani pertandingan debutnya di Serie A pada tahun 1995 lalu. Meski demikian, seperti Buffon, Riyandi sepertinya juga sadar dengan pilihannya: penjaga gawang adalah posisi yang sunyi dalam sepakbola, tetapi bukan berarti dirinya tidak dapat bersenang-senang ketika bermain di posisi tersebut. Dan ia pun ternyata tak membutuhkan waktu lama untuk menunjukkan kepada banyak orang bahwa pilihannya tak salah. Dalam pertandingan debutnya bersama tim senior Barito Putera pada gelaran Indonesia Soccer Championship (ISC) A, di mana dirinya dinobatkan sebagai pemain termuda dalam turnamen jangka panjang tersebut, penampilan hebat pemain berusia 16 tahun tersebut berhasil menjadi pusat perhatian publik sepakbola Indonesia.

Debutnya melawan Persib Bandung langsung menyita perhatian publik

Debut dan penalti yang menghebohkan

Saat Riyandi menjalani debut, Barito Putera akan bertanding menghadapi Persib Bandung di Stadion Pakansari, Bogor, yang saat itu menjadi markas Persib. Tentu saja hal tersebut merupakan sesuatu yang tak mudah bagi seorang kiper debutan. Hal ini masih ditambah dengan reputasi penyerang-penyerang Persib yang mempunyai kemampuan aduhai. Sergio van Dijk, Zulham Zamrun, Samsul Arif, Atep, dan Tantan merupakan para penembak jitu yang mumpuni.

Dari lima tembakan ke arah gawang yang dilakukan Persib, Riyandi berhasil melakukan tiga kali penyelamatan penting. Dan salah satu penyelamatan terbaiknya, terjadi saat dirinya berhasil menggagalkan eksekusi penalti Samsul Arif

Hingga pertengahan babak kedua, gawang Riyandi memang sudah kebobolan dua gol, melalui Atep dan Zulham Zamrun. Meski demikian Riyandi sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia gugup saat menghadapi penyerang-penyerang hebat Persib tersebut. Dari lima tembakan ke arah gawang yang dilakukan Persib, Riyandi berhasil melakukan tiga kali penyelamatan penting. Dan salah satu penyelamatan terbaiknya, yang membuat semua orang meliriknya, terjadi saat dirinya berhasil menggagalkan eksekusi penalti Samsul Arif pada menit ke-80.

"Saya bersyukur bisa menggagalkan penalti Samsul Arif. Mungkin karena ketenangan, saya bisa membaca arah bola tersebut," kata Riyandi, saat mengenang salah satu momen terbaik dalam kariernya yang baru dimulai tersebut.

BERITA Kiper Muda Barito Putera Bangga Gagalkan Penalti Samsul Arif

Pasca pertandingan tersebut, karena performa apiknya, Riyandi kembali menjadi pilihan utama Mundari Karya, pelatih Barito Putera, dalam pertandingan menghadapi Persiba Balikpapan. Gawangnya memang kembali kebobolan pada pertandingan itu, tetapi Barito Putera berhasil mengalahkan Persiba Balikpapan, 3-1. Dan itu menjadi kemenangan perdana Riyandi bersama tim senior Barito Putera.

Kecermelangan Riyandi ternyata juga tak luput dari perhatian pemandu bakat timnas Indonesia U-19. Setelah menjalani proses seleksi, Riyandi berhasil meyakinkan Eduard Tjong, pelatih timnas U-19, untuk membawanya ke Vietnam dalam gelaran Piala AFF U-19 yang akan dilangsukan bulan September ini. Riyandi menjadi pemain termuda di dalam tim, di mana dirinya akan bersaing dengan Awan Setho dan Gianluca untuk menjadi kiper utama.

BACA JUGA Skuat Final Timnas Indonesia U-19 Untuk Piala AFF U-19

"Saya sama sekali tidak gentar dengan mereka (Awan dan Gianluca). Saya akan bersaing dengan mereka sekaligus menambah ilmu dari mereka karena mereka lebih senior daripada saya. Banyak hal yang bisa saya dapatkan dari mereka, " kata Riyandi kepada Bola.com, menyoal kansnya untuk menjadi kiper utama timnas Indonesia U-19.

Bagi pemain yang memulai karier sepakbolanya di SSB Pelita Jaya Sawangan itu, bermain bersama timnas Indonesia U-19 adalah langkah awal untuk menggapai mimpi terliarnya. Suatu saat nanti, Riyandi ingin berdiri kokoh mengawal gawang timnas senior Indonesia. Dirinya ingin menikmati kesendirian dan penderitaan untuk bercanda dengan regu tembak yang dimiliki oleh timnas negara lain di kawasan Asia Tenggara.