Analisa

Mungkinkah Muller Tidak Mencetak Gol Sama Sekali di Piala Dunia 2018?

Dua hal yang mungkin bisa dicapai Thomas Muller bersama tim nasional Jerman pada Piala Dunia 2018. Pertama, kembali menjadi juara. Kedua, memecahkan, atau setidaknya mendekati rekor gol Miroslav Klose –16 gol.

We are part of The Trust Project What is it?

Mencapai yang pertama mungkin saja bisa. Tapi yang kedua, ini lain soal. Penyebabnya adalah laga pada matchday pertama – bahkan dalam beberapa laga uji tanding sebelumnya— yang seolah mengindikasikan bahwa jangankan memecahkan rekor gol Klose, mencetak sebiji gol saja pun akan cukup sulit bagi Thomas Muller.

Stadion Luzhniki, Moskow, 17 Juni 2018. Jerman menghadapi menghadapi Meksiko pada pertandingan pertama. Muller, yang diturunkan sejak menit awal, bermain di area kanan lini serang dalam skema  4-2-3-1.

Saat pertandingan berlangsung, segalanya berjalan cukup baik bagi Jerman pada sepuluh menit pertama. Mereka menguasai laga dan menghasilkan dua peluang. Salah satunya berasal dari umpan Muller. Setelah itu, menit-menit berikutnya, keadaan memberat, terutama buat Muller. Sepanjang laga setelah sepuluh menit pertama itu, ia seolah menghilang dan sering kali salah mengambil keputusan. Posisinya di lapangan juga terlalu terpaku di sisi kanan sehingga membuat dirinya pada laga tersebut amat jarang menguasai bola (69 sentuhan, termasuk yang rendah di antara pemain Jerman). Dan lebih dari itu, ia tak bisa membikin satu tembakan pun.

Statistik tersebut menjadi ironi, jelas. Apalagi Jerman sebetulnya lebih banyak menyerang dari sisi kanan dan melakukan 26 kali tembakan –terbanyak hingga memasuki matchday kedua. Menariknya, dari 26 tembakan itu, hanya Manuel Neuer dan Muller yang tidak terlibat. Neuer sih masih bisa dipahami –dia penjaga gawang. Tapi Muller, yang area bermainnya adalah di lini serang, agaknya menjadi hal yang aneh. Apalagi jika ditambah fakta tadi, fakta bahwa hanya dirinya – selain kiper -yang tidak membikin satu tembakan pun. Ditambah pula, ia bermain selama 90 menit. Full.

Menyangkut performa buruk Muller ini, peran Gallardo yang berposisi sebagai bek kiri Meksiko tentu perlu dibahas. Ia yang oleh Whoscored dinobatkan sebagai man of the match, konstan berada di area kiri lapangan Meksiko, posisi yang menjadi daerah operasi utama Muller berdasarkan skema permainan. Tapi, ini kemudian malah menimbulkan dua pertanyaan. Dengan kemampuan menafsirkan ruang –sebuah kemampuan yang Muller sendiri memberi istilahnya, apakah seorang bek kiri lawan yang jarang maju ke depan akan menjadi masalah besar? Apakah Muller tidak coba bergerak ke area lain?

Jawaban dari pertanyaan pertama tersebut bisa dijawab dengan kalimat pada pertanyaan kedua: Muller tidak mencoba untuk bergerak ke area lain untuk mencari ruang atau sekadar menghindari marking lawan. Entah ini karena sistem dari Joachim Loew yang memaksanya demikian, atau memang karena Muller sendiri yang lupa caranya mencari posisi. Tapi yang jelas, hal tersebut membuat dirinya menjadi salah satu penampil terburuk saat menghadapi Meksiko. Selain itu, secara keseluruhan, penempatan posisi Muller yang buruk berdampak terhadap serangan tim. Dan ini terjadi cukup sering. Misalnya saja pada dua peluang Jerman di babak kedua yang berasal dari umpan tarik.