Kisah

Musim Terhebat: Ketika Cristiano Ronaldo Berkembang Pesat dan Menjadi yang Terbaik di Dunia (2007/08)

Cristiano Ronaldo 2007-08

Satu dekade setelah semua kisah ini terjadi, Jonathan Fadugba melihat kembali musim ketika CR7 mencatatkan 42 gol yang berakhir dengan gelar juara di panggung terbesar

We are part of The Trust Project What is it?

Hanya sedikit hal di dunia olahraga yang memberikan rasa puas yang lebih hebat daripada melihat seorang atlet mampu memenuhi potensinya. Apalagi, di era digital yang membuat semua orang bisa memberikan penilaian secara instan.

Didorong keberadaan YouTube dan media sosial, para olahragawan kini harus melalui berbagai rintangan yang tidak pernah ada sebelumnya. Ada banyak lubang yang bisa menjerat seorang atlet untuk terjatuh. Pemain-pemain bisa begitu populer tanpa alasan yang jelas – dan kemudian disorot begitu detail setiap ia beraksi. Dan kemudian, ketika performa mereka menurun di bawah ekspektasi publik, bahkan meski sesaat, mereka akan dijatuhkan dengan kejam. Dan dalam konteks inilah, melihat seorang atlet bisa melewati berbagai rintangan tersebut dan memenuhi potensi besar mereka, menjadikannya sebagai kisah paling menyenangkan di dunia olahraga.

Musim 2007/08 adalah tahun ketika Cristiano Ronaldo berubah menjadi pemain terbaik di dunia – sebuah gelar yang diberikan kepadanya oleh FIFA ketika ia dianugerahi penghargaan World Player of the Year 2008. Sebelum musim itu, perkembangannya di Manchester United hanya terjadi secara bertahap.

Ia memulai kariernya sebagai pemain “penuh pamer dari seseorang yang begitu ingin meyakinkan semua orang tentang betapa bagusnya dirinya”, seperti yang dideskripsikan sendiri oleh Sir Alex Ferguson. Pada musim 2006/07, ia telah mengasah bakat alaminya hingga mampu memenangkan tiga gelar individu bergengsi – PFA Player of the Year, Young Player of the Year, dan Football Writers’ Player of the Year – setelah membantu The Red Devils bangkit dan merebut gelar Premier League pertamanya dalam empat tahun.

Cristiano Ronaldo, Alex Ferguson

Tetapi, sementara empat tahun pertamanya itu menunjukkan bagaimana sang pemain belajar untuk berjalan dan kemudian berlari, musim 2007/08 adalah musim ketika anak lelaki dari Funchal ini belajar bagaimana caranya terbang.

Dalam salah satu musim individu terbaik – jika memang bukan yang terbaik – dalam sejarah Premier League, Ronaldo mencetak 42 gol di semua kompetisi. Di liga, ia mencetak 31 gol dalam 34 penampilan dengan rataan satu gol setiap 88,6 menit. Jika statistik-statistik tersebut masih kurang luar biasa, perlu diingat juga bahwa Ronaldo masih berusia 22 tahun di awal musim tersebut. Dan ia bermain di sayap.

Ia memulai kariernya sebagai pemain “penuh pamer dari seseorang yang begitu ingin meyakinkan semua orang tentang betapa bagusnya dirinya”, seperti yang dideskripsikan sendiri oleh Sir Alex Ferguson

Mendefisikan ulang pemain sayap

Ketika itu, konsep pemain sayap bisa mencetak begitu banyak gol masih belum terlalu terdengar. Namun, tak lama setelah ulang tahunnya yang ke-23, Ronaldo mampu melewati rekor 32 gol milik George Best yang bertahan selama 40 tahun sebagai pemain sayap tersubur dalam semusim. Ia juga hampir menyamai rekor 46 gol di semua kompetisi di United, yang dimiliki oleh Denis Law. Rasio gol-per-menitnya di musim itu juga lebih superior ketimbang Luis Suarez, yang mencatatkan satu gol setiap 95,5 menit pada 2013/14, meski Suarez juga mencatatkan dua kali lipat dari jumlah asis CR7, yang sebanyak enam.