Analisa

Optimisme Inggris yang Kembali Berujung Kegagalan di Piala Dunia

Optimisme penuh dinyatakan pendukung Inggris sejak mereka memukul mundur Tunisia dalam laga pertama babak grup Piala Dunia 2018. Dua puluh tiga hari kemudian, mereka yang dipukul balik Kroasia.

We are part of The Trust Project What is it?

“It's coming home, it's coming home, it's coming. Football's coming home”

Penggalan lirik di atas menjadi anthem paling keras dan berisik yang terdengar di setiap kuping dan sosial media masyarakat dunia akhir-akhir ini. Lagu “Three Lions” dari Baddiel, Skinner & The Lightning Seeds adalah representasi dari semangat tim nasional Inggris dan seluruh pendukungnya yang memiliki satu keyakinan: menjadi juara Piala Dunia 2018 di Rusia.

Masuknya Gareth Southgate sebagai pelatih kepala, perjalanan mulus di babak kualifikasi Piala Dunia zona UEFA, dan terpilihnya penyerang terbaik mereka pada era ini, Harry Kane sebagai kapten Inggris menjadi langkah awal optimisme akan hal itu: menjadi juara Piala Dunia 2018 di Rusia. 

Perjalanan selama di Rusia juga terhitung lancar. Babak grup berhasil mereka lewati dengan gampang. Menghabisi tim gurem Tunisia dan Panama walau pun harus kalah dari Belgia – paling tidak pendukung Inggris bisa berdalih dengan alibi 'menyimpan tenaga untuk babak 16 besar' – membuat mereka semakin yakin dengan harapan yang sebentar lagi menjadi kenyataan: menjadi juara Piala Dunia 2018 di Rusia.

Babak 16 besar? Kolombia berhasil mereka tendang balik ke benua Amerika Selatan berkat aksi heroik Jordan Pickford. Perempat final? Cuma Swedia tanpa kehadiran Zlatan Ibrahimovic, lawan yang mudah bagi Inggris. Semifinal? Oh, ternyata bertemu Kroasia. Tim yang meraih poin penuh di babak grup, mengalahkan Argentina 3-0, dan berhasil mencapai semifinal (hanya) melalui babak adu penalti dua kali berturut-turut. Mudahkan? Tentu saja terlihat mudah bagi pendukung Inggris. Intinya “Football’s coming home”.

Akan tetapi semua harapan, optimisme dan keyakinan hilang bak ditelan ombak sejak Kieran Trippier mencetak gol indah dari tendangan bebas tepat di depan kotak penalti Kroasia. Memang Inggris unggul terlebih dahulu hanya dalam waktu lima menit saja. Tapi 115 menit kemudian, perlahan-lahan pendukung Inggris dan skuat yang ada di lapangan mulai menyadari kalau menjadi juara Piala Dunia 2018 di Rusia hanya mimpi di siang bolong.

HURRI-KANE MENYAPU BERSIH INGGRIS

Harry Kane adalah harapan Inggris sejak Wayne Rooney mencetak gol ke gawang Uruguay pada sore yang panjang di Sao Paulo, Brasil, tahun 2014 silam. Dia adalah perwujudan dari aristokrat Buckingham Palace sekaligus anak muda bengal asli kota metropolitan, London. Berkelas di kotak penalti, manipulatif di depan wasit. Rusia 2018 adalah panggung pembukaan untuk aksi terbaiknya di kancah internasional.

Hingga tulisan ini dibuat, Kane tetap kokoh bertengger di posisi pertama daftar pencetak gol terbanyak Piala Dunia 2018. Enam gol sudah dia cetak – dua gol melawan Tunisia, hattrick kontra Panama, dan satu gol lagi saat mengalahkan Kolombia. Memang empat gol dia cetak dari titik putih, tapi bagi pendukung Inggris, dia adalah Hurri-Kane. Menyapu bersih barisan pertahanan yang ada di hadapannya. 

Dalam pertandingan melawan Kroasia, semua mata tertuju kepadanya – termasuk scout dari berbagai klub raksasa Eropa. Mereka ingin melihat Kane selaku kapten menjadi dinamo bagi Inggris setelah ketika melawan Swedia, dia tidak berhasil mencetal gol.

Tapi apa yang terjadi? Kane berhasil mendapatkan satu peluang emas sekaligus bisa saja membawa Inggris unggul 2-0, namun hanya berselang beberapa detik kemudian, emas berubah menjadi kubangan lumpur di lapangan pedesaan untuk kompetisi Sunday League Football. Kane gagal mencetak gol dan Inggris harus tertunduk dengan penuh rasa penyesalan.

Dan sepanjang sisa waktu pertandingan, tidak ada kontribusi berarti yang nampak darinya. Kane menjelma menjadi patung botol kecap di salah satu tikungan jalur Puncak, Bogor. Dia ada di lapangan hanya untuk mengecap ke wasit asal Turki, Cuneyt Cakir. Mungkin salah satu yang dia ucapkan adalah meminta penalti dan tendangan bola mati ke wasit. Mungkin.