Para Pesepakbola yang Memiliki Yayasan Amalnya Sendiri

Tak sedikit pesepakbola yang memberikan kontribusi kembali ke masyarakat dengan mendirikan yayasan amalnya sendiri. Inilah 10 di antaranya...

Eropa merupakan kiblat sepakbola dunia karena perkembangannya yang begitu pesat ketimbang negara lainnya. Memilih karier sebagai pesepakbola tidak mendapat pertentangan hebat dari keluarga di sana karena memang menjanjikan, paling tidak dari segi finansial jika dibandingkan dengan Indonesia.

Memang, perjalanan menuju pesepakbola profesional tidak mudah (butuh kerja keras), tapi, jika Anda sukses melakukannya, maka Anda bisa tenang karena pendapatan yang cukup untuk menghidupi keluarga. Tak pelak fakta ini membuktikan bahwa pesepakbola profesional yang sudah meniti karir sejak muda bisa menabung pendapatannya untuk melakukan hal yang diinginkan, bahkan, jika Anda cukup beruntung memiliki skill di atas rata-rata, pendapatan akan meningkat seiring kontrak yang ditawarkan klub.

Bermaterikan banyak uang dari pendapatan yang berasal dari klub, iklan, plus bonus, para pemain bisa menggunakannya untuk banyak hal yang diidamkan kaum adam lainnya. Baik itu untuk berlibur ke tempat yang eksotis, memiliki rumah mewah, mengoleksi mobil edisi terbatas, atau melakukan perjalanan keliling dunia.

Apapun bisa dilakukan dengan uang berlimpah yang diterima para pesepakbola tersebut, termasuk salah satunya membantu sesama manusia lainnya yang tidak beruntung dengan aksi sosial. Beberapa pesepakbola, baik yang sudah pensiun atau masih aktif bermain, memiliki jiwa sosial yang kuat, hebatnya lagi mereka juga memiliki yayasan amalnya sendiri untuk melakukannya. Siapa saja mereka?

1. Didier Drogba

Foto: Didier Drogba Foundation

Legenda Chelsea yang masih aktif bermain di usia 39 tahun ini pernah masuk majalah TIME karena pengaruhnya kepada orang lain, terutama untuk negara kelahirannya, Pantai Gading. Drogba sudah mulai meniti karir sebagai pesepakbola profesional sejak 1998 dan memiliki visi untuk membangun rumah sakit khusus ibu dan anak di seluruh daerah Pantai Gading.

"Banyak pasien berbagi kasur, dan ada yang dirawat di koridor rumah sakit. Kami butuh rumah sakit karena ingin membantu orang-orang di Abidjan," ujar Drogba seperti dilansir The Telegraph.

Visinya muncul karena Drogba iba melihat sulitnya masyarakat Pantai Gading dalam mendapatkan rumah sakit yang layak. Seiring perkembangan karir pemain kelahiran Abidjan itu, Drogba pun mendirikan yayasan amal bernama The Didier Drogba Foundation dan telah menyumbangkan banyak uang pendapatan dari sponsor ternama dunia ke dalamnya.

Berawal dari pembangunan rumah sakit di Abidjan, mimpi Drogba pun berkembang hingga ia berpengaruh besar di Pantai Gading. Saking besarnya pengaruh Drogba, ia mampu menghentikan perang saudara yang sudah berlangsung selama lima tahun dengan pidatonya yang mungkin, tak kalah hebat dari Bung Karno.

Saksi sisi karismatik Drogba itu diungkapkan oleh pemimpin daerah di satu wilayah Abidjan, Kouassi Augustin. Drogba berpidato singkat di depan kamera televisi pada 2005 pasca membawa Pantai Gading lolos Piala Dunia 2006.

"Warga Pantai Gading dari utara, selatan, tengah, dan barat. Kami berlutut memohon kepada kalian untuk saling memaafkan. Negeri besar seperti Pantai Gading tidak bisa terus-menerus karam dalam kekacauan. Letakkan senjata kalian dan lakukan pemilihan umum,” ucap Drogba, seperti digambarkan oleh Augustin.

2. Lionel Messi

Dalam permainannya, Messi bisa disebut pemain yang rendah hati karena tak pernah kesal atau emosi kelewat batas ketika dijatuhkan lawannya. Hal itu sudah terjadi bertahun-tahun dan belakangan ini menghilang karena La Pulga kerap emosional, tapi tidak masalah, Messi juga manusia biasa yang bisa emosi.

Kerendahan hatinya itu pun berlanjut di luar sepakbola. Messi (29 tahun) sudah lama menjadi duta besar UNICEF, badan PBB yang bergerak di bidang kemanusiaan untuk membantu anak-anak yang berada dalam kondisi kemiskinan. Sejak 2004, Messi sudah banyak berkeliling dunia membantu anak-anak dalam misi UNICEF dan mendirikan yayasan amalnya sendiri dengan nama Leo Messi Foundation pada 2007.

Perjuangan Messi kepada anak-anak yang tidak mampu juga berlanjut untuk negaranya, Argentina. Di sana Messi tak hanya fokus membantu anak-anak, ia juga turut andil dalam pembangunan asrama klub di klub masa kecilnya, Newell’s Old Boys, dan juga restorasi rumah sakit di kota kelahirannya, Rosario.

3. Michael Essien

Kedatangan mantan gelandang Chelsea ke Persib Bandung menjadikannya magnet bagi media dan juga pecinta sepakbola Indonesia. Publik tak sabar melihat aksinya bersama Maung Bandung ketika Liga 1 Indonesia bergulir 15 April mendatang.

Namanya masih besar bagi fans sepakbola karena reputasinya ketika membela Chelsea, Real Madrid, AC Milan, dan bermain di Piala Dunia bersama timnas Ghana. Tak pelak pemberitaan tentangnya tidak pernah habis hingga saat ini, baik itu perjalanan karir atau sisi humanisnya di luar sepakbola.

Essien (34 tahun) juga memiliki yayasan amalnya sendiri bernama Michael Essien Foundation (MEF), yayasan yang bergerak untuk membantu masyarakat kurang mampu di Ghana. MEF memberikan kesempatan bagi masyarakat yang tidak mampu untuk memberikan sumbangsih mereka kepada negara dengan berbagai macam proyek dan aktivitas.