Analisa

Pelajaran Penting dari Kemenangan Indonesia Atas Cina Taipei di Asian Games 2018

Zakky BM mengulas bagaimana performa tim nasional Indonesia dalam pertandingan perdana mereka di Asian Games 2018...

We are part of The Trust Project What is it?

Laman Kompas baru-baru ini mencatat ada sekitar 27 kali umpan silang yang diciptakan oleh para pemain tim nasional Indonesia U23 saat menghadapi China Taipei di laga perdana grup A cabang sepakbola Asian Games 2018 ini. Dari 27 kali tersebut, hanya enam kali bola tersebut bisa diterima baik oleh para pemain kita yang berada di kotak penalti lawan.

Tak hanya umpan silang, total peluang yang tercipta pun cukup banyak. Evan Dimas dkkk menciptakan 8 sepakan on target dan 10 sepakan off target, sedangkan pasukan China Taipei hanya membuat 4 sepakan on target dan 2 sepakan off target. Empat gol Indoensia sendiri baru tercipta di menit ke 67 hingga menit ke 90. Artinya ada sekitar 65 menit, timnas U23 kita kesulitan menciptakan gol ke gawang lawannya tersebut.

"Pertama-tama saya ucapkan terima kasih kepada yang sudah datang. Seperti kita tahu babak pertama sangat sulit menciptakan gol. Kami banyak ciptakan peluang. Lawan juga sangat baik dalam menjaga crossing bola-bola daerah kita. Tapi babak kedua kita berhasil lebih baik lagi," kata Luis Milla, dilansir dari laman Goal Indonesia.

"Lilipaly adalah pemeran utama kemenangan ini. Para pemain senior bermain baik dengan profesionalismenya. Pemain harus berbenah lagi. Kami harus memikirkan pertandingan berikutnya," imbuhnya.

Jangankan Luis Milla yang sudah malang melintang menjadi juara Piala Eropa bersama Spanyol U21, kita penonton awam pun tahu bahwa masalah besar timnas U23 kita sepajang 60an menit tersebut adalah masalah finishing di sepertiga akhir wilayah lawan. Bahkan beberapa orang menyebutnya  sebagai kesialan karena berkali-kali peluang Indonesia hanya berakhir mentah di hadapan kiper lawan.

Namun masalah finishing tersebut memliki beberapa variabel lagi yang bisa dijabarkan. Pertama adalah kohesi lini depan yang belum terjalin dengan baik. Ada banyak momen dimana pemosisian pemain lini depan di kotak penalti sudah baik, namun pergerakan di sisi sayap kelewat buruk atau sebaliknya. Bahkan berkali-kali juga para pemain kita yang berada di sektor sayap ini gagal memberikan umpan silang yang tepat sasaran atau minimal merepotkan bek lawan. Sehingga ruang yang sudah diciptakan tersebut menjadi sia-sia.

Pertahanan China Taipei di menit awal memang sering bolong dan mudah dilewati, namun menjadi berbeda di pertengahan babak pertama hingga awal-awal babak kedua; mereka jauh lebih solid dan bisa menutup antar lini lebih sempit. Terbayang jika lawan kita tim yang lebih kuat lagi dari China Taipei, sedangkan kohesi lini depan kita tidak membaik sepanjang laga turnamen ini. Jangankan untuk mencetak gol, bisa-bisa timnas kita yang kecolongan terlebih dahulu.

Variabel selanjutnya adalah pengambilan keputusan. Untuk mendapatkan keputusan yang tepat, maka harus berpikir cepat, tepat dan melibatkan ketenangan. Beberapa peluang dari Febri Hariayadi dan Saddil Ramdani misalnya, terbuang percuma begitu saja padahal sudah berhadapan satu lawan satu dengan kiper lawan. Tak hanya dalam urusan mengambil keputusan dengan kaki bagian apa atau ke arah mana bola tersebut akan ditendang, namun juga dalam memberikan keputusan final pass di wilayah kotak penalti lawan.