Pelatih-Pelatih Liga 1 yang Berpeluang Dipecat di Bulan Mei Ini

Setelah beberapa pemecatan yang terjadi di awal musim Liga 1 2017, akankah ada korban selanjutnya di bulan Mei 2017 ini?

Liga 1 Indonesia sudah memasuki bulan Mei. Klub-klub peserta sudah mulai mereview performa tim masing-masing dan bahkan sudah ada beberapa klub yang melakukan tindakan ‘keras’ kepada para pelatih yang dinilai tak memenuhi ekspetasi klub.

Beberapa arsitek sudah merasakan kerasnya Liga 1 bulan April. Padahal, April merupakan bulan awal dibukanya Liga 1. Klub-klub yang mengawali musim di papan bawah terkesan tak sabaran dan hasilnya, tiga pelatih bertumbangan dan harus menonton pertandingan Liga 1 dari teras rumah.

Hans Peter Schaller menjadi yang pertama merasakan kerasnya Liga 1. Mantan asisten pelatih timnas Indonesia itu ditendang manajemen Bali United usai Serdadu Tridatu meraih hasil-hasil buruk. Sebetulnya, awal sebuah kompetisi seharusnya menjadi ajang para pelatih untuk memanaskan mesinnya. Namun (mungkin) atas nama bisnis, Schaller langsung ditendang usai kalah 1-2 dari Persipura Jayapura di kandang sendiri.

Tak hanya Schaller, pelatih PS TNI Laurent Hatton pun kena getah dari kerasnya sepak bola Indonesia. Meski belum terkalahkan dan bermain baik di tiga pekan, Hatton malah dipecat. Alasan ia keras dan membuat tim tak harmonis jadi dasar pemecatan. Meski tak masuk akal, namun pelatih asal Perancis itu harus menerima nasib diganti dengan Ivan Kolev.

Laurent Hatton tetap dipecat walau PS TNI bermain baik dan tak terkalahkan dalam 3 pertandingan

Nama terakhir adalah Timo Scheunemann. Pelatih Persiba Balikpapan ini memilih mundur dari kursi kepelatihan Beruang Madu karena gagal membawa klub ke papan atas. Malangnya, Timo tidak pernah sekalipun membawa Persiba menang. Posisinya kini digantikan oleh Milomir Seslija.

Mengganti pelatih dalam waktu singkat memang sudah menjadi kebiasaan menahun klub Indonesia jika sang pelatih dirasa gagal, meski baru di tahap awal. Ganasnya Liga 1 membuat pelatih cukup ketar ketir dengan nasibnya. Bahkan pelatih papan atas pun bisa menjadi korban jika manajemen klub secara subjektif menilai sang pelatih gagal.

FourFourTwo Indonesia melihat siapa saja pelatih yang masuk ‘zona berbahaya’ pada di bulan ini.

Stefano Cugurra Teco (Persija Jakarta)

Sebagai klub besar, Persija Jakarta dituntut publik untuk bisa berprestasi. Musim ini pelatih asal Brasil, Stefano Cugurra Teco, dipilih manajemen untuk mengarsiteki Macan Kemayoran. Bayang-bayang kegagalan Paulo Camargo musim lalu masih tersimpan di ingatan pendukung Persija. Tapi, harapan Teco bisa membawa Persija lebih bagus masih terus diapungkan.

Usai menang di laga perdana melawan Persiba Balikpapan, Persija malah mengalami grafik menurun. Bertanding di kandang sendiri, Persija bermain imbang 1-1 dari Barito Putera. Itu pun setelah Persija ketinggalan melalui gol Tiago Cunha, anak-anak ibu kota baru langsung tancap gas.

Usai menang di laga perdana melawan Persiba Balikpapan, Persija malah mengalami grafik menurun

Di laga selanjutnya, Persija malah kalah dari tuan rumah PSM Makassar dan yang lebih menyedihkan, Si Merah-Putih takluk 0-1 dari Madura United di kandang sendiri. Kalah di rumah jelas membuat pendukung setia mereka, Jakmania, naik pitam. Bahkan tagar #TecoOut sempat menjadi trending topic di Twitter.

Pada bulan Mei ini, posisi Teco sangat rawan untuk dipecat. Meski manajemen masih menyatakan dukungannya, tapi mari kita ambil pengalaman dari yang sudah-sudah. Pemecatan bisa terjadi kapan saja dan dalam momen apa saja.

Jika kalah dari Persela Lamongan di pekan kelima, bisa jadi tuntutan Teco mundur semakin kencang. Dan ingat, ‘vox populi vox Dei’, suara rakyat adalah suara Tuhan. Kalau rakyat Jakarta sudah tak ingin Persija terus kalah, Teco bisa apa? Tiga poin jadi harga mati Teco dan Persija.