Pelita Jaya: Klub Bunglon yang Tak Pernah Benar-Benar Menghilang

Seri artikel Indonesia's Lost Club kembali, tapi kali ini, Zakky BM membahas klub yang sebenarnya tak benar-benar menghilang...

Jika mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indoensia (KBBI) versi daring, kata ‘hilang’ mempunyai makna ‘tidak ada lagi; lenyap; tidak kelihatan’. Meski judul seri tulisan ini adalah Indonesia’s Lost Club atau Klub Indonesia yang telah hilang, namun klub yang satu ini (Pelita Jaya) sebetulnya tidak benar-benar menghilang seperti pada kasus klub Warna Agung ataupun Krama Yudha Tiga Berlian, misalnya.

Bagi sebagian besar orang, memori tentang pelita tentu terbelah-belah. Orang Cilegon, Banten, mendefinisikan Pelita sebagai klub yang pernah mereka dukung di era awal Milenium yang lalu dengan nama Pelita Krakatau Steel. Namun bagi yang tumbuh besar mengikuti kompetisi Galatama, nama Pelita dan pendukungnya jelas mengacu pada Pelita Jaya yang eksis di Jakarta tahun 80an lalu. Apapun persepsinya, baik orang Cilegon maupun orang Jakarta, toh klub ini sebenarnya masih yang itu-itu juga.

Penjelasan tersebut menjadi sahih jika menarik sejarah ke belakang milik klub bernama Pelita ini.  Jika diuraikan, maka akan terlihat sejarah panjang dan berliku klub Pelita. Sebelum menjelaskannya lebih jauh lagi, kami mencoba menyusun dulu secara singkat linimasa sejarah mereka di bawah ini;

  • Pelita Jaya FC (1986-1997, markas di Jakarta)
  • Pelita Mastrans (1997-1998, markas di Jakarta)
  • Pelita Bakrie (1998-1999, markas di Jakarta)
  • Pelita Solo (2000-2002, markas di Solo)
  • Pelita Krakatau Steel (2002-2006, markas di Cilegon)
  • Pelita Jaya Purwakarta (2006-2007, markas di Purwakarta)
  • Pelita Jabar (2008-2009, markas di Soreang, Bandung)
  • Pelita Jaya Karawang (2010-2012, markas di Karawang)
  • Pelita Bandung Raya (2012-2015, markas di Soreang, Bandung)

Pelita Jaya di laga pembuka Liga Indonesia I

Pada salah satu esainya di laman detik, Zen RS mengungkapkan bahwa “Pelita adalah "nama generik" dari ketidakjelasan dan kesemrawutan regulasi dalam perkara perubahan nama, home base atau kepemilikan sebuah klub di Indonesia – sebagaimana odol yang dulunya hanya merk dagang pasta gigi, kini sinonim dengan pasta gigi itu sendiri,” ungkapnya.

Bahkan, ia juga berkelakar bahwa “perpindahan/pergantian atau apalah apalah apalah namanya dari sejarah Pelita ini membuatnya bisa bersaing dengan Primajasa atau Kramat Djati atau Sumber Kencono. Jika Pelita adalah PS alias Pesatuan Sepakbola (FC dalam bahasa Inggris), sementara nama-nama terakhir itu adalah PO (Perusahaan Otobus).”

Memang, berjubelnya nama Pelita dalam sejarah sepakbola Indonesia sejak era Galatama hingga era (yang katanya profesional) di Liga Indonesia saat ini membuat bingung banyak orang. Kemudahan hengkang, mengganti markas sampai mengakuisisi saham klub lain adalah salah satu akibat dari tata kelola dan regulasi sepakbola Indonesia yang sejak dahulu kala tak pernah beres. Jangankan urusan pergantian nama klub atau pembelian saham, masalah sepele seperti jadwal pertandingan pun, seperti yang anda telah ketahui, masih saja berubah-udah seenak jidat federasi sepakbola kita ini.

Kisah panjang Pelita dimulai dari ambisi Nirwan Darmawan Bakrie untuk mempunyai klub sepakbola yang benar-benar profesional. Pada tahun 80an dulu, kompetisi sepakbola Indonesia nyaris terbagi dua, yaitu kompetisi amatir yang diikuti klub perserikatan dan kompetisi semi-profesional yang diberi nama Galatama. Pelita jelas didirikan untuk bersaing dengan klub lainnya di Kompetisi Galatama.