Pemain Asing Terbaik di ASEAN: Apakah Kualitas Mereka Merugikan Pemain Lokal?

Memilih pemain asing yang tepat seringkali menentukan kemenangan atau kekalahan bagi klub-klub sepakbola di Asia Tenggara. Tapi apakah mereka menghambat perkembangan pemain lokal? Melarang klub-klub menggunakan satu pun pemain asing atau melarang penggunaan pemain-pemain dari negara tertentu sudah pernah diterapkan. Tapi, apa solusi terbaik untuk masalah ini? 

Periode itu bisa disebut sebagai periode terbaik untuk tim nasional Malaysia sekaligus periode terburuk untuk kompetisi domestik di Negeri Jiran.

Banyak yang mengritik bahwa kualitas liga domestik secara keseluruhan menurun dan ada penurunan rasio gol per pertandingan yang signifikan

Ketika Football Association of Malaysia (FAM) melarang penggunaan pemain asing di kompetisi Super League dan Premier League selama tiga musim mulai tahun 2009, tim nasional Malaysia berhasil meraih medali emas SEA Games pada 2009 dan 2011 sekaligus menjuarai AFF Suzuki Cup 2010.

Namun, banyak yang mengritik bahwa kualitas liga domestik secara keseluruhan menurun pada periode tersebut dan tentu saja ada penurunan rasio gol per pertandingan yang signifikan dibandingkan musim-musim sebelumnya selama tiga tahun ketika larangan tersebut diberlakukan.

Penurunan-penurunan statistik itu jelas bukan kebetulan, mengingat sebagian besar pemain asing memang menempati posisi kunci di lini serang tim-tim Malaysia.

Periode tersebut bukan kali pertama penggunaan pemain asing dilarang di Malaysia. Kebijakan itu juga pernah diterapkan selama beberapa musim ketika krisis keuangan menghantam kawasan Asia pada pergantian abad ini, dan yang dikhawatirkan bukan hanya karena kebijakan itu kemungkinan akan kembali diterapkan di masa mendatang, tapi juga karena ada keraguan besar dari para pelatih sepakbola dan suporter Malaysia mengenai dampak kehadiran pemain asing terhadap perkembangan pemain lokal.

Apakah pemain asing memberikan dampak yang terlalu besar?

Ini adalah topik perdebatan yang terus bergulir di seluruh dunia, tidak hanya di Asia Tenggara, tapi kita juga perlu menganalisis ketakutan yang menghantui klub-klub sepakbola Asia Tenggara serta masalah visa pemain yang terus terjadi di kompetisi domestik mereka.

Malaysia terus menerus mengubah kebijakan mereka, mulai dari menerapkan larangan penuh penggunaan pemain asing, pembatasan untuk hanya menggunakan dua pemain asing atau empat pemain asing bagi klub-klub yang beraksi di Liga Champions Asia, lalu tiga pemain, kemudian empat pemain tanpa pemain Asia, dan empat pemain termasuk satu pemain Asia.

Selain itu, peraturan tersebut juga disertai dengan aturan yang membatasi asal sang pemain dan sudah sejauh apa level yang dicapai pemain bersangkutan.