Pemain Muda Asia Mulai Mencuri Perhatian, Tetapi Secerah Apa Eropa Bagi Mereka?

Dengan banyaknya pemain Asia yang membangun reputasi bagus di seluruh dunia, John Duerden bertanya-tanya, apakah bermain di Eropa masih menjadi ujian terberat dari pesepakbola...

Sebagai bahan pertimbangan, menjadi pemain kelas dunia sangatlah mudah, jika berhasil menantang maka hasilnya adalah kepuasan. Lapangan di Eropa merupakan tempat ujian bagi para pemain bola. Bahkan salah satu terbaik sepanjang masa, Pele, mendapat kritik tajam setelah sukses membawa Brazil juara tiga kali dan menghabiskan waktunya dengan mencetak gol-gol mudah bersama Santos.

Pemain Asia tahu masalah ini dengan baik. 20 dari 50 pemain terbaik versi FFT merasakan kerasnya kompetisi Eropa dan mencoba untuk mengatasi hal ini. Mereka melakukan lompatan luar biasa dari luar kawasan untuk menjadi andalan tim-tim benua Biru adalah definisi baru dari karir mereka.

Pemain besar dari kawasan ini adalah Shinji Kagawa, Son Heung-min, Keisuke Honda, dan Ki Seung-yueng. Mereka jelas besar karena kemampuan mereka mengolah bola, tapi juga status para pemain tersebut kini tampil di kompetisi Bundesliga, Serie A, dan Premier League.

Kontras jika hanya tampil di rumah sendiri. Dari kaca mata internasional, reputasi sepak bola Asia tidak pernah tinggi. Ketika menjadi tuan rumah Piala Dunia bersama Jepang, Korea Selatan berhasil menembus babak semi final 2002, sebuah tanda pertama bahwa mereka patut diperhitungkan. Maju 12 tahun kemudian maka yang kita temukan hanyalah kegagalan di Piala Dunia 2014. Dan ketika pemain dari kasta nomor tiga sepak bola Inggris, Massimo Luongo memenangkan penghargaan pemain terbaik Piala Asia 2015, itu hanya menjadi sebuah alasan bagi kita untuk meragukan kualitas sepak bola Asia.

Obsesi Eropa menjadi masalah ketika beberapa bintang mulai menampakan sinarnya dan langsung banyak yang berdiskusi kapan mereka harus pindah dari sini. Saat itu terjadi, media-media Asia langsung ikut bersamanya. Penampilan gemilang Ki Seung-yueng bersama Swansea memperbesar berita di kolom-kolom media tanah kelahirannya ketimbang kala bermain bersama FC Seoul. Hampir semua media Jepang terbang ke Italia mengikuti Hidetoshi Nakata. 50 juta fans Cina menyaksikan langsung Zhang Xishe saat bergabung dengan Wolfsburg namun kontras dengan Li Weifeng ketika memutuskan pindah ke Suwon Samsung Bluewings pada 2009. Ketika Eropa lebih menarik daripada Asia, sulit untuk kita mengharapkan bahwa belahan bumi lain bertindak berbeda.

Tapi ada bukti menunjukan ke arah baik dari hal tersebut. Dibandingkan lima atau 10 tahun lalu, pertumbuhan media dan komunitas sekarang sangatlah pesat. Sekarang lebih banyak berita, sudut pandang, sampai analisis ketimbang sebelumnya. Perlahan Asia menjadi bagian dari sorotan global, cahaya tak begitu terang tapi mulai masuk menerangi bayangan gelap para pencari bakat sampai pendukung biasa juga tahu tentang beberapa pemain Asia.

Ambil contoh Omar Abdulrahman, urutan kelima dalam daftar FFT tahun ini. Di Asia dia sudah terkenal lewat penampilannya bersama Al Ain, dan terutama Uni Emirat Arab senior atau tim Olimpiade negaranya. Dalam piala Asia 2015 Australia sudah banyak menantikan aksinya khusus bagi mereka yang mengetahui kualitas pemain satu ini. Playmaker ini sangat menyenangkan untuk dilihat gaya bermainnya dan perbincangan di level kawasan Asia sudah mulai menarik perhatian dunia. Dia mungkin masih harus lebih bekerja keras lagi untuk mengukuhkan kualitasnya, tapi di Asia-lah pemain 23 tahun mulai menyuarakan namanya.

Pemain lain yang tinggal menunggu cahayanya bersinar di level internasional berasal dari Jepang. Memperkuat FC Tokyo, penyerang Yoshinori Muto berbeda dari kebanyakan pemain depan Jepang. Kini ia sudah ditaksir oleh raksasa Inggris, Chelsea. Bila London bukan tujuan berikutnya pemain 22 tahun ini, tim besar lain sudah menunjukan ketertarikan mereka. Kemudian ada Zhang Limpeng. Inter Milan dikabarkan tertarik dengan pemain belakang Guangzhou Evergrande. Jika benar ini terjadi, maka menarik melihat pemain Cina tampil di negara yang merupakan jagonya dalam hal bertahan.

Sepak bola Asia masih harus menapaki jalan panjang. Tapi talenta lokal mulai bisa membuat tim-tim Eropa berpaling. Mereka memang harus membuktikan di benua Biru jika ingin mendapat cap sebagai pemain kelas dunia, dan Asia perlahan mulai jadi pilihan bagi mereka ingin mencari bakat baru khususnya pecinta bola secara global.

Perdebatkan #FFTASIA50