Pemain Terbaik Kedua Barcelona Adalah Pemain Belakang

Gerard Pique sukses membuktikan bahwa dirinya adalah pemain kedua terbaik Barcelona setelah Lionel Messi, seperti yang dikatakan oleh David Cartlidge...

Jika Barcelona ingin melewati Paris Saint-Germain di Champions League perempat final, atau dalam skala yang lebih besar untuk menghilangkan kenangan enam tahun tanpa mendapat gelar, maka ada beberapa kunci untuk menolong hal itu.

Lionel Messi jelas ada di urutan pertama. Kemudian suasana kondusif di ruang ganti antara Luis Enrique dengan pemainnya pada awal musim.

Kehadiran Luis Suarez, begitu juga dengan Claudio Bravo perkembangan Barcelona begitu terlihat. Seperti permainan konstan Messi di susul oleh Gerard Pique.

Benar, Pique, pemain belakang kini sudah menemukan kembali dirinya sendiri. Digadang sebagai salah satu bek tengah terbaik, hal tersebut kembali melekat membuat Barca dapat keuntungan.

Sempat Pique jadi pro dan kontra dalam dan luar klub apakah masih layak menyandang titel tersebut. Pemain berusia 28 tahun jalani karir seperti pemain bola lainnya, tak ada yang salah disini kecuali bagi mereka telah mencoret namanya terlalu dini.

Pique is back on the bounce alongside Lionel & Co.

Pangeran Manja

Ada beberapa hal yang membuat penampilan Pique menurun, pertama adalah pensiunnya Carles Puyol yang membuat ia harus mengemban tanggung jawab lebih besar. Juga fakta bahwa dirinya memiliki kekasih bintang pop dunia dan kegiatan di luar lapangan yang sedikit tidak sehat, maka bisa kita ucapkan selamat datang kepada masalah.

Latar belakangnya juga, Pique sebelum menjadi pemain bola sudah menjalani gaya hidup yang mewah. Dia berasal dari salah satu keluarga terhormat secara politik dan ekonomi di Catalan, anak dari dokter terkenal, serta cucu mantan direktur Barcelona.

Percaya diri serta tampilan mendukung gaya hidup seperti itu, Pique langsung mengambil alih nama besar sang ayah dan kini berharap bisa jadi presiden klub suatu saat nanti. Sedikit pemain yang bisa kena inspeksi dari media seperti halnya Pique, dan hal itu bukan untuk menaikan pamor di kalangan wanita.

"C'mere and let me see if those hips still aren't telling porkies"

Di sisi lain, Puyol datang dari kota kecil, kekeluargaan serta lingkungan ramah. Tak pernah keluar batas, Pique selalu menjadi anak laki-laki yang mendapatkan apa yang dia mau, tanpa harus melakukan apapun.

Pemain sekelas Puyol pada awalnya seperti canggung turun sebagai pemain profesional, tapi karakternya tak pernah dipertanyakan. Pique saat melewati masa-masa kelam tidak pernah bisa seperti itu, justru rumor kepindahannya berbunyi nyaring akhir-akhir ini, dihubungkan kembali dengan klub yang dibelanya saat muda, Manchester United. Supaya Catalan bisa datangkan Mats Hummels dari Borussia Dortmund untuk menggantikan tempatnya.

Dirinya menjadi salah satu korban era setelah hengkangnya Pep Guardiola, makin kacau dibawah Tata Martino hanya sedikit bisa menjalani proses tapi Pique bukan salah satunya.

Fokusnya menghilang, belum bisa mengembalikan masa jaya, kesulitan mencari motivasi dalam beberapa situasi. Pique seperti tidak tahu harus bermain seperti apa di lapangan, performanya menurun dan harus mampu lebih dewasa.

Kaget Dengan Sistem

Untuk menyalahkan kemunduran Barca langsung karena dirinya merupakan tuduhan yang tidak tepat. Jarang sekali ada diskusi yang membahas soal mantan pemain Manchester United ini.

Sistem baru, terlebih sesaat setelah kepergian Pep Guardiola, menyebabkan banyak sekali perubahan yang membuat lini belakang Barcelona dalam tekanan, walaupun hal ini jarang sekali muncul ke permukaan.

Lini tengah mereka menurun dan tak banyak pengganti sepadan, Pique dan Javier Mascherano bekerja double, membutuhkan beberapa penyesuaian termasuk beberapa skill baru yang membutuhkan skill diluar milik Pique.

Menghabiskan tenaga lini belakang untuk memutuskan serangan bukanlah keahliannya, melainkan dirinya adala tipe yang membaca alur serangan dan melakukan tindakan preventif. Menjalani sistem yang berbeda dan jauh dari keahlian hanya menaikan isu tentang dirinya.

Pique has benefited from post-Martino leadership

Beruntung semua itu berganti musim ini, saat Barcelona kembali kepada muka yang tak asing lagi yakni Enrique, Pique dituntut untuk bertanggung jawab tak hanya memimpin lini belakang melainkan klub itu sendiri. Seperti halnya Hummels yang begitu fokus pada Bundesliga periode ini, jika nantinya pemain Jerman tersebut memang datang bukan untuk menggantikan Pique tapi sebagai tandem.

Kehilangan Puyol

Ini juga menjadi sumber masalah, Pique tak mendapat teman sekelas Puyol setelah pemain belakang legendaris Spanyol itu pensiun. Walau ada nama seperti Mascherano yang juga mampu berikan keamanan sendiri di belakang, tetap mereka butuh solusi jangka panjang.

Ramos and Pique toiled in Brazil

Hubungannya dengan Sergio Ramos juga kurang baik di musim panas kemarin, dengan Spanyol mengalami nasib yang sama dengan Barca di Piala Dunia. Pemain tengah mereka kehilangan keseimbangan, tak mampu mengontrol bola seperti biasa, dan mudah memberikan bola kepada lawan serta permainan yang mudah terbaca oleh musuh.

“Saya tak pernah ada masalah pribadi dengan Pique, saya rasa tak akan pernah ada,” kata Ramos. “Kami sering habiskan waktu bersama, dia pemain baik begitu pula dengan hatinya.”

Pique membutuhkan Puyol di Brazil, atau lengannya untuk merangkul bahunya. Tapi mantan kapten Barca itu tak bisa menyelamatkan dia. “Berada di sampingnya membuat saya merasa dilindungi. Suatu saat kala saya membuat kesalahan maka kamu akan ada untuk menyelamatkan saya,’ tangis Pique setelah rekannya pensiun. “Kamu adalah malaikat penyelamat.”

Pique and Puyol: a partnership gone, but not forgotten by Gerard

Itu dahulu dan kini seperti apa saat Barcelona masih memiliki Puyol, kita bisa melihat kembali aksi Pique musim ini, ada peningkatan pengalaman, candaan tetap ada dan senyum sudah kembali.

Pique sudah menemukan fokusnya kembali, dirinya sukses menggalang lini belakang dengan percaya diri usai meraih gelar Champions League dan Piala Dunia. Mahkota sudah disiapkan untuk menobatkannya sebagai ‘Piquenbauer’ ada yang tidak setuju? Pujian tetap diberikan kepada lini depan musim ini, tapi hal sama harus diberikan juga kepada Pique, walau laporan mengatakan sebaliknya, ia berhak atas hal itu.