Kisah

Pembuktian Terakhir Samir Nasri di Sepakbola

Samir Nasri kembali merumput di Premier League mulai bulan ini. Ia mencoba untuk kembali membuktikan kepada dunia, kalau dirinya belum habis dan masih bisa menunjukkan yang terbaik di atas lapangan. Layaknya seorang pendaki, Nasri sedang mencoba putar balik untuk kembali mendaki gunung yang pernah ia taklukkan sebelumnya.

We are part of The Trust Project What is it?

Ketika mendengar nama Samir Nasri, maka yang muncul di dalam pikiran adalah pemain berposisi gelandang serang yang memiliki ketangkasan di atas lapangan serta diisi aksi-aksi yang mengagetkan lawan dengan muncul dari second line – walau terkadang dengan tubuhnya yang kecil sering disangka sebagai pemain sayap. Tapi pada hakikatnya, itulah Nasri, pemain kelahiran 26 Juni 1987 yang pernah mencapai puncak kariernya di tanah kelahiran sepakbola, Inggris, lalu hancur lebur dan sekarang mencoba lahir kembali di sudut kota London bersama West Ham United.

Nasri bukanlah pemain yang bisa dianggap remeh ketika baru merumput di Inggris bersama Arsenal. Pindah dari Marseille pada jendela transfer musim panas tahun 2008 demi mengejar mimpinya untuk berkembang di liga yang lebih kompetitif dan berharap bisa bertemu dengan mantan rekan satu timnya di Prancis, Franck Ribery yang terlebih dahulu pindah ke Bayern Munchen, terlihat sekali ambisi besar Nasri yang ingin terus melangkah ke arah yang lebih baik, walau itu akan menimbulkan perselisihan dan cemoohan pada kemudian hari.

Bersama Arsenal, Nasri sukses menampilkan yang terbaik sejak musim pertama hingga musim penuh terakhirnya di sana. Jika melihat tiga musim Nasri di Arsenal, semua terlihat baik-baik saja. Tidak ada masalah berarti yang menimpanya. Namun sekali lagi, Nasri adalah pemain yang ambisius. Ia tidak mau berlama-lama bertahan di dalam tim yang tidak memiliki rasa lapar di atas lapangan. Sayangnya, itulah tim yang diasuh oleh Arsene Wenger pada masa itu. Arsenal tidak seperti yang diharapkan Nasri sebelumnya. Ia akhirnya mencoba mencari jalan keluar, walau itu harus menyakitkan hati para fans Arsenal.

Mencari jalan keluar terbaik, tapi yang diambil Nasri sepertinya adalah jalan keluar terburuk. Dengan mantap, Nasri memilih Manchester City yang sedang getol-getolnya membangun tim baru demi meraih juara Premier League. Salah satu strategi terbaik adalah mempreteli lawan, seperti apa yang dilakukan Bayern Munchen di Bundesliga, dan itulah yang dilakukan City. Nasri segera berseragam City pada pertengahan tahun 2011.

Menjalani hari-hari pertamanya bersama City adalah hari terindah bagi Nasri. Betapa tidak. Ia akhirnya bisa dikelilingi oleh para pemain berkualitas yang sama-sama lapar akan juara dan berusaha membawa City ke puncak tertinggi Inggris demi membentuk sebuah unit kaya raya bergelimang harta serta permainan yang hebat di kota Manchester yang jelas-jelas sudah dikuasai Manchester United selama puluhan tahun. Ternyata, ia berhasil. Ambisi Nasri yang rela berpindah tim walau berada di satu liga yang sama dan terpaksa menyakiti hati para fans Arsenal bisa ditebus dengan keluar sebagai juara Premier League di musim pertamanya. Nasri berhasil meraih kesuksesan pertamanya di Inggris.

“Manchester City adalah tim yang lebih baik [daripada Arsenal]. Itulah alasan saya untuk pindah ke sini. Ini semua adalah persoalan ambisi, bukan uang,” ucap Nasri yang mencoba untuk meredam kemarahan fans Arsenal kepadanya dengan menuduh kalau ia hanya mengejar uang saja. Lanjutnya, “Saya sangat mencintai Arsenal dan sangat senang melihat dukungan para fans, tapi ketika mereka berubah dengan membenci saya, saya berpikir, ‘Saya tidak melakukan hal buruk kepada mereka’ dan saat itulah semua berubah, dari penuh rasa cinta menjadi kebencian yang mendalam.”