Perginya Sang Mr. Chelsea dan Akhir Sebuah Era di Stamford Bridge

Ia akhirnya harus pergi meninggalkan klub yang dicintainya dan telah ia bela sejak masih begitu muda. Nanda Febriana memberikan penghormatan untuk sang Mr. Chelsea dan menjelaskan mengapa ia tak bisa dinilai hanya dengan narasi buruk soal kariernya...

Tiga pria sedang berpelukan di lapangan hijau di sebuah malam paling bersejarah untuk tim yang mereka bela bersama sejak 2004. Dua di antara tiga pria itu sebenarnya sudah datang terlebih dahulu ke Cobham, London, markas latihan mereka, sebelum 2004. Salah satunya tiba pada 2001, sementara yang satu lagi adalah didikan akademi klub yang memulai debutnya sejak 1998. Satu pria lainnya, pria Afrika, baru datang pada tahun 2004 dari Prancis. Ketiganya berpelukan penuh haru, delapan tahun perjuangan untuk membuktikan bahwa tim mereka layak disebut sebagai Raja Eropa akhirnya tercapai, penantian penuh rasa sakit, amarah, tangis, dan cibiran yang melecehkan berakhir sudah. Ketiga pria itu terus berpelukan, layaknya sekumpulan sahabat dan memang itulah faktanya. Kerja sama profesional mereka selama delapan tahun menciptakan pertemanan menembus keluar lapangan hijau, bersama dua pria lainnya yang malam itu juga turut larut dalam perayaan di sisi lain lapangan Allianz Arena.

Langsung ke 0:50

Delapan tahun perjuangan untuk membuktikan bahwa tim mereka layak disebut sebagai Raja Eropa akhirnya tercapai, penantian penuh rasa sakit, amarah, tangis, dan cibiran yang melecehkan berakhir sudah

Itu adalah pemandangan pada malam 19 Mei 2012, saat Chelsea resmi menjadi juara baru Liga Champions setelah mengalahkan Bayern Munich lewat drama adu penalti. Pemandangan itu adalah memori manis bagi suporter Chelsea yang akan selalu dibicarakan karena banyak hal, salah satunya karena The Blues sukses menekuk Bayern yang bermain di kandang mereka sendiri hingga melahirkan istilah ‘your city, your stadium, our trophy’ (kotamu, stadionmu, trofi kami), trofi pertama mereka di kompetisi tersebut hingga kemenangan yang sebenarnya tidak pernah benar-benar dipercayai suporter sampai akhirnya eksekusi penalti Didier Drogba menembus jala Manuel Neuer.

Ketiga pria yang diceritakan sedang berpelukan di atas adalah Didier Drogba, John Terry, dan Frank Lampard. Sementara dua pria lainnya yang saya sebutkan masuk dalam lingkaran pertemanan itu adalah Ashley Cole dan Petr Cech. Kelima pemain ini mewakili sebuah generasi yang tak cuma tersukses secara tersurat dalam sejarah Chelsea, tapi juga generasi dengan karakter luar biasa yang akan dengan bangga digambarkan sebagai semangat dan jiwa klub.

Narasi ‘pemain senior’ ditulis media-media Inggris untuk menggambarkan pengaruh kuat kelima sosok tersebut di ruang ganti, yang kerap disandingkan dengan cerita-cerita miring terkait pemecatan pelatih di klub London Barat itu. Tali pertemanan di antara kelimanya dieratkan oleh perjuangan mereka di lapangan hijau, mentalitas ‘dunia membenci kami’ bentukan Jose Mourinho, dalam seragam sebuah klub yang kerap dicaci karena revolusi biru-nya di bawah kepemilikan Roman Abramovich. Rasa-rasanya, selain Manchester UnitedArsenal, dan Liverpool, hanya Chelsea yang bisa melahirkan kebencian kolektif begitu besar di era modern sepakbola Inggris karena kesuksesan yang mereka capai.

Lima pemain itu punya seorang pemimpin, yang juga menjadi pemimpin tim. John Terry, sosok yang lahir dari benih pembinaan klub dan lekat dengan julukan Mr. Chelsea. Pria kelahiran 7 Desember 1980 ini mengawali debutnya untuk The Blues pada Oktober 1998 dan menjadi yang tersukses di antara keempat rekannya. Ia mengakhiri kisahnya sebagai pemain Chelsea pada akhir musim 2016/17 ini, sebuah musim yang diwarnai kesuksesan meraih trofi Premier League kelimanya, namun ditutup dengan mengecewakan setelah kekalahan Chelsea di final Piala FA di Wembley pada 27 Mei 2017.

Terry dan Ban Kapten

John Terry, sosok yang lahir dari benih pembinaan klub dan lekat dengan julukan Mr. Chelsea.

Musim panas 2004 Jose Mourinho datang ke London untuk menandatangani kontrak dengan Chelsea. Datang sebagai juara Eropa bersama FC Porto, hanya akan ada sedikit orang yang berani mempertanyakan segala keputusan Mourinho sebagai pelatih. Di usia yang masih menginjak kepala empat, pria Portugal itu sudah menggegam dua trofi Eropa di level yang berbeda dan siap mewujudkan kesuksesan yang didamba Roman Abramovich.

Langkah pertamanya sebagai pelatih adalah menentukan siapa yang akan menjadi kapten timnya. Beberapa laporan menyebutkan bahwa Mourinho sudah memiliki satu nama yang ingin dijadikannya sebagai kapten dan sosok tersebut adalah Frank Lampard. Namun, asa Mourinho mendapatkan tantangan dari John Terry yang mendesak sang pelatih untuk memberikan hak kepada para pemain untuk memilih kapten tim. Mourinho setuju, dan para pemain memilih Terry.

Mourinho tidak sendirian dalam beranggapan bahwa Lampard mungkin adalah sosok yang lebih pas untuk menjadi kapten ketimbang Terry. Kehidupan Lampard yang jauh dari pemberitaan negatif, sikap santunnya di lapangan, ketenangan, dan kecerdasannya sebagai gelandang dianggap lebih memberikan banyak kontribusi positif untuk tim dan citra klub. Singkat kata, Lampard adalah sosok yang lebih bisa memenangi hati publik ketimbang Terry.