Kisah

Perjalanan Pahit Santi Cazorla yang Nyaris Dibenam Cedera

Melihat kembali rasa sakit dan perih yang pernah menyerang dan hampir menghabisi salah satu gelandang underrated di dunia.

We are part of The Trust Project What is it?

“Santi Cazorla!!!” teriak Martin Tyler, komentator terkenal asal Inggris, empat tahun lalu dalam pertandingan final FA Cup 2014 yang mempertemukan Arsenal dengan Hull City. Gol tendangan bebas ikonik yang menjadi awal dari kesuksesan comeback sekaligus membuka puasa gelar The Gunners setelah sembilan tahun menjadi momen untuk mengingat betapa penting sosok Cazorla bagi Arsenal.

Perjalanan pemain kelahiran Llanera, 33 tahun silam dalam dunia sepak bola terbilang berjalan mulus. Mengawali karier profesional di Villareal, Cazorla mendapatkan piala pertama pada 2004 saat menjuarai Intertoto Cup. Beruntung baginya ketika Luis Aragones memanggilnya masuk ke skuad Spanyol untuk EURO 2008, yang pada akhirnya mereka menangkan untuk pertama kali dalam sejarah.

Keadaan semakin membaik ketika Arsenal berani menggelontokan dana sebesar £10 juta pada tahun 2012 untuk membawa pemain underrated ini ke Emirates Stadium. Ya, Cazorla layak disebut sebagai pemain underrated. Bergerak di bawah radar, bukan pemain flamboyan, melihat tubuhnya yang gempal di lapangan dengan gerakan tidak dinamis – namun efektif – membuatnya terlihat bukan seperti sosok penting. Namun pada musim pertamanya di Arsenal, Cazorla dinobatkan sebagai Arsenal Player of the Season dengan torehan 13 assists.  Dan semuanya menjadi lebih cair ketika Arsenal juara FA Cup 2014 dengan menghajar Hull City 3-2, sebelum sempat tertinggal 0-2 terlebih dahulu.

Namun hanya dalam waktu satuh tahun, ujung jalan penuh kejayaan yang sedang dia lewati – back-to-back juara FA Cup dan Community Shield 2015 – diakhiri dengan cedera parah yang diawali pada November 2015. Retaknya tulang pergelangan kaki dan cedera ligamen di lutut membuat Cazorla harus menepi selama 98 hari. Cedera kambuhan muncul lagi. Kali ini karena iritasi yang disebabkan bakteri. Dan puncaknya pada Oktober 2016 ketika melawan Ludogorets.

“Sangat menyakitkan ketika istirahat karena udaranya dingin. Rasa sakitnya semakin bertambah. Malam itu saya menangis. Cedera ini terlalu berlebihan. Saya harus berhenti, namun masalah mulai muncul,” ucap Cazorla dalam wawancaranya bersama Sid Lowe.

Melihat cedera pemainnya semakin parah, Arsene Wenger mencoba untuk menghiburnya. Tapi omongan yang keluar dari mulut tidak seindah kenyataan. Luka cedera Cazorla yang dijahit selalu terbuka karena aktivitas yang dia lakukan – yang akhirnya membuat cederanya semakin memburuk. Luka yang terbuka membuat bakteri masuk ke dalam. Dan ngerinya, bakteri itu menggerogoti tendon Cazorla. “Saya segera menuju ke Vitoria dan menemukan bakteri. Dua di tendon dan satunya lagi di tulang.”

Tindakan medis langsung dilakukan. Melihat bakteri itu sudah cukup lama ada di dalam, dokter terus mencoba membuka luka Cazorla demi bisa menemukan titik di mana bakteri berakhir. Pemeriksaan itu akhirnya berakhir dengan pernyataan kalau Cazorla sudah kehilangan tendon sepanjang 10 cm. Bahkan menurut dokter masih bisa lebih panjang lagi jika dia tidak segera ke dokter.

Kesalahan medis terus menerus dialami olehnya. Dokter yang menangani cederanya selama ini – khusunya di Arsenal – tidak ada yang bisa menemukan titik cerah untuk kesembuhan Cazorla. Antibiotik yang diberikan untuk menahan penyebaran bakteri juga terkesan asal-asalan karena setiap bakteri punya obatnya masing-masing.