Perjalanan Panjang Swansea City di Sepak Bola Inggris

Sensasi terbaru di Premier League, Garry Monk berhasil membawa anak asuhnya menjadi salah satu momok menakutkan tim-tim papan atas Inggris. Kontributor kami Renalto Setiawan memberikan cerita spesial dari tim asal Wales ini...

Tahun 2003, tahun di mana Nicole Kidman berhasil menyabet Piala Oscar sebagai artis terbaik karena perannya sebagai Virgina Woolf dalam film The Hours adalah tahun yang tak menyenangkan bagi Swansea City.

Swansea City berada di ambang kehancuran. Jarak yang menentukan eksistensi mereka di kancah Liga Profesional Inggris tak jauh, hanya satu pertandingan – melawan Hull City. Tidak ada pilihan lain selain menang. Kekalahan akan membuat mereka terjun bebas ke Liga Nasional, sebuah liga yang sebagian besar dihuni oleh klub-klub semi-profesional. Jika hal tersebut benar-benar terjadi itu adalah sebuah bencana besar bagi Swansea City.

Pada hari pertandingan awan tebal menyelimuti langit kota Swansea, seperti tak mau kalah dari penderitaan yang menutupi peruntungan kiprah Swansea City di Divisi 3 Liga Inggris musim itu. Meski demikian, para penggemar Swansea tak peduli. Mereka tetap melangkahkan kakinya menuju Vetch Field, markas Swansea yang hanya berkapasitas 11.000 tempat duduk – mulai tahun 2005 markas Swansea pindah ke Liberty Stadium.

Kalau kita kalah, klub ini akan berakhir

Meski Swansea dalam keadaan limbung, penggemar Swansea tak pernah menyerah untuk mendukung klub kesayangannya tersebut. Dari mengumpulkan uang ke dalam ember untuk membantu Swansea membayar gaji sejumlah pemainnya, hingga selalu datang menonton pertandingan Swansea, baik itu pertandingan kandang maupun tandang, penggemar Swansea selalu berusaha memberikan yang terbaik.

Dalam bukunya yang berjudul What I Talk About When I Talk About Running, Haruki Murakami, novelis ternama asal Jepang, pernah menuliskan: “Pada dasarnya hidup itu tidak adil. Tapi, meski dalam ketidakadilan saya rasa masih mungkin untuk menemukan sebuah keadilan. Tentu saja, hal tersebut membutuhkan usaha dan waktu. Mungkin, itu tidak selalu baik. Tergantung bagaimana cara kita menyikapinya.”

Seperti mengamini renungan Haruki Murakami tersebut, langkah kaki dan dukungan para penggemar Swansea pada pertandingan terakhir Swansea adalah usaha terakhir mereka untuk menemukan sebuah keadilan.

“Kalau kita kalah, klub ini akan berakhir,” kata Roberto Martinez, kapten Swansea, mencoba menyemangati rekan-rekannya.

Meminjam satu bait puisi mendiang Dylan Thomas, penyair terkenal Inggris Raya asal Swansea, pemain-pemain Swansea lainnya seolah ingin menjawab, “Rage, rage against the dying of the light.”

(“Kita tahu, kapten. Harapan itu tidak boleh padam.”)

Roberto Martinez kala berseragam Swansea City (Sumber: Walesonline.co.uk)