Perjuangan Bonek yang Belum Usai dan PSSI yang Kembali Ingkar Janji

Lagi-lagi PSSI berulah - janji untuk mengembalikan status tujuh klub terhukum, termasuk Persebaya Surabaya, pada kongres pekan lalu diingkari. Bonek pun turun ke jalan lagi. Renalto Setiawan memberikan opininya terkait masalah ini...

Jika melihat dari rekam jejaknya, Bonek, julukan penggemar Persebaya Surabaya, bukanlah teladan yang baik bagi para penggemar sepakbola Indonesia. Kerusuhan dan kenekatan menjadi santapan mereka sehari-hari. Koreografi yang mereka lakukan di atas tribun pun bukan yang terbaik. Namun, ketika saya kembali melihat foto ikonik mereka di Jawa Pos, di mana mereka membuat sebuah truk militer yang mereka naiki terguling, ada satu hal pasti yang menjadi dasar tingkah polah mereka selama ini: cinta mereka terhadap Persebaya begitu mendalam.

Bonek memang seperti Marilyn Monroe, yang pernah mengatakan, "Aku egois, tidak sabaran dan tidak bisa membuat aman. Aku membuat kesalahan, aku suka keluar kendali dan susah untuk diatasi. Tetapi jika Anda tidak bisa mengatasi keburukanku itu, Anda tidak akan layak untuk mendapatkan yang terbaik dariku." Tetapi, ketika Persebaya mampu dengan lapang dada menerima segala keburukannya tersebut, bukan sesuatu yang mengherankan jika Bonek kemudian berusaha keras untuk menunjukkan segala kehebatan yang dimilikinya untuk kepentingan tim kesayangannya tersebut.

Baru-baru ini, tepatnya pada Kongres PSSI 2016 yang dilangsungkan Jakarta pekan lalu, PSSI kembali ingkar janji untuk mengakui keberadaan Persebaya. Masalahnya, dalam rapat Komite Eksekutif PSSI yang dilakukan sebelumnya, PSSI sudah menetapkan Persebaya sebagai anggotanya kembali. Namun, ketetapan tersebut harus dilakukan di dalam kongres. Dan saat PSSI yang seharusnya melakukan penetapan tersebut justru memilih menolak membahas hal tersebut di dalam kongres, itu adalah sebuah kelakukan yang cukup absurd.

PSSI kembali ingkar janji (lalu membuat janji baru)

Setelah kongres, Edy Rahmayadi, ketua umum PSSI yang baru, memang berjanji untuk menuntaskan kasus Persebaya secepatnya. "Dalam waktu sesingkat-singkatnya akan diselesaikan. Kami akan lihat yang paling benar dan tidak keluar dari visi dan misi saya sebagai ketua PSSI, yaitu PSSI yang bermartabat," begitu katanya.

Dalam waktu sesingkat-singkatnya akan diselesaikan. Kami akan lihat yang paling benar dan tidak keluar dari visi dan misi saya sebagai ketua PSSI, yaitu PSSI yang bermartabat

- Edy Rahmayadi

Meski beberapa kali dikecewakan dengan cara seperti itu, Bonek tampak tak pernah lelah untuk terus berjuang. Bahkan perjuangannya untuk menuntut keadilan terlihat semakin intens dalam satu tahun terakhir. Meski sering diabaikan, turun ke jalan sudah menjadi hal biasa bagi mereka, baik itu dilakukan di Surabaya maupun di Jakarta.

Menariknya, gemuruh yang mereka lakukan di luar tribun stadion justru terdengar hingga ke seantero nusantara. Solidaritas hadir hampir dari seluruh stadion yang terdapat di Indonesia. Dari Stadion Andi Mattalata, Makassar, penggemar PSM Makassar mengatakan, "Kami #bela Persebaya." Bobotoh Persib Bandung menyanyikan lagu 'Persebaya Kau Tak Sendirian' saat bertandingan melawan Persipura Jayapura akhir pekan lalu. Sementara itu, K-Conk Mania, salah satu kelompok suporter Madura United, akan memboikot pertandingan Madura United sampai Indonesia Soccer Championship A (ISC A) berakhir pada bulan Desember nanti jika masalah Persebaya tak kunjung beres - sebagian dari mereka bahkan membatalkan perjalanan ke Makassar akhir pekan kemarin dan merelakan tiket mereka hangus demi protes ini.

Sebagian pendukung K-Conk Mania sampai merelakan tiket pesawat mereka hangus demi solidaritas untuk Bonek (Foto: GTS)

Satu-satunya masalah yang cukup mengganggu dari kasus Persebaya yang berlarut-larut tersebut adalah cara PSSI dalam menghidupi sepakbola di negeri ini

Bagi saya, satu-satunya masalah yang cukup mengganggu dari kasus Persebaya yang berlarut-larut tersebut adalah cara PSSI dalam menghidupi sepakbola di negeri ini. Betul, PSSI memang organisasi yang payah. Selain itu, juga terdapat banyak kepentingan pribadi yang mengiringi perjalanan PSSI sejauh ini. Namun, ketika mereka kemudian memilih untuk membunuh kehidupan di dalam sepakbola yang seharusnya mereka hidupi, itu adalah sebuah kesalahan yang cukup besar yang juga cukup sulit untuk diterima oleh nalar orang-orang sehat.

Begini, sejak SD, saat PSIS Semarang bermain kandang, saya hampir selalu datang ke Stadion Jatidiri, Semarang. Namun, setelah PSIS Semarang melakukan sepakbola gajah beberapa waktu lalu, saya memilih untuk berhenti mendukung mereka dari atas tribun. Saat orang-orang yang membuat PSIS melakukan tindakan bodoh tersebut masih "pura-pura" menjadi penyelamat PSIS, saya tidak akan pernah kembali ke atas tribun. Meski begitu, kapan pun saya mau, saya bisa tetap kembali ke tribun jika saya berubah pikiran.

Berbeda dengan masalah yang saya alami, Bonek tak punya pilihan: mereka tak akan bisa kembali ke tribun jika Persebaya masih belum diakui oleh PSSI. Tentu saja mereka rindu untuk kembali ke tempat terbaiknya tersebut, berteriak dengan lantang, bernyanyi bersama-sama, sambil sesekali menyeduh teh dari penjual asongan yang selalu berpatroli dari tribun ke tribun. Namun, sebesar apa pun rasa rindu dan perjuangan mereka, bisa tidaknya mereka kembali ke atas tribun untuk mendukung Persebaya tergantung oleh PSSI.

Bonek terus berjuang dengan bersuara di jalanan demi Persebaya

PSSI seharusnya merasa malu ketika chant-chant sepakbola yang seharusnya dinyanyikan dari atas tribun justru terdengar lantang dalam sebuah aksi demonstrasi di jalanan. PSSI juga seharusnya sadar diri jika sepakbola di negeri ini, semakin hari, justru semakin berjalan mundur karena keegoisan mereka.

Beberapa waktu lalu, saat Chicago Cubs, salah satu klub bisbol profesional asal Amerika, berhasil memenangi World Series untuk pertama kalinya setelah 108 tahun, seorang kakek yang sudah menjadi penggemar Cubs sejak kecil perlu menunggu selama 81 tahun untuk melihat kejadian istimewa tersebut. Jika kemudian penggemar-penggemar Persebaya perlu waktu selama itu hanya untuk kembali menyaksikan tim kesayangannya berlaga, PSSI tentu saja layak untuk dikutuk sepanjang eksistensinya. Sebuah organisasi yang (mengaku) bermartabat seharusnya tidak bertindak seperti itu, bukan? 

Temukan feature baru setiap harinya di FourFourTwo.com/ID