Kisah

Perkenalkan, Seorang Penggemar Fanatik Aaron Lennon...

Aaron Lennon super fan Turkey

Media sosial boleh dipadati penggila Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, tapi seorang pemuda mendedikasikan hidupnya — dan tabungannya — untuk menjadi pengikut seorang pesepakbola yang kurang ternama

We are part of The Trust Project What is it?

Kepindahan Aaron Lennon ke Burnley pada Januari mungkin bukan transfer paling mencuri perhatian di 2018, tapi itu artinya the Clarets bisa menjual setidaknya satu lembar jerseynya ke luar negeri.

“Di Turki cukup sulit menonton semua pertandingan Burnley di televisi, tapi aku selalu punya cara untuk melihat Aaron Lennon,” ujar pemuda asli Istanbul berusia 20 tahun, Ferhat Utfurak, kepada FourFourTwo. “Aku harus melakukannya, karena aku pengagum terbesarnya.”

Lupakan Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, atau Neymar yang menikmati kehormatan besar dalam bentuk basis penggemar dedikatif (periksa laman Twitter ‘Man Like Cristiano’ atau ‘Messiology’ jika Anda tak mempercayai kami) — Ferhat adalah  superfan pamungkas Aaron Lennon. Namun bagaimana seorang pemuda dari Turki bisa begitu menggilai Lennon?

Bale Membosankan

Semuanya bermula ketika sang pemain sayap mengacak-acak pertahanan lawan sebagai pemain Tottenham pimpinan Harry Redknapp. Sementara penampilan gemilang Spurs di Champions League musim 2010/11 membuat nama Gareth Bale tertanam di pikiran semua penggemar sepakbola Eropa, yang menarik perhatian seorang remaja 12 tahun di Turki adalah pemain cepat di sayap satunya.

Pada sebuah Rabu sore di mana tak ada pertandingan Champions League yang layak tonton, Ferhat muda, setelah mendengar kemenangan mengesankan 3-1 Tottenham atas Inter Milan sang juara bertahan beberapa pekan sebelumnya, memutuskan untuk menyaksikan pertandingan Eropa berikutnya dari tim asal London tersebut.

“Aku pertama kali melihat Lennon bermain untuk Tottenham di Champions League pada November 2010,” ujar Utfurak menjelaskan. “Langsung saja aku bergairah karena kecepatan dan caranya yang begitu langsung dalam menghadapi para pemain belakang.

“Itu pertandingan melawan Werder Bremen di White Hart Lane,” lanjutnya. “Aku sangat bergairah karena apa yang bisa Lennon lakukan, aku menghabiskan seluruh 90 menit terfokus kepadanya dan kepada penampilannya. Dia bermain luar biasa dan mencetak dua asis. Malam itu aku menyadari aku punya pahlawan baru.”

Spurs memenangi pertandingan fase grup itu 3-0 — dengan Lennon sebagai pencetak asis untuk Younes Kaboul dan Peter Crouch — dan memastikan diri lolos ke fase gugur. Empat hari berselang, Lennon mencetak gol kemenangan dramatis di injury time pada pertandingan Premier League melawan Liverpool, dan puncak penampilannya musim itu terjadi pada Februari ketika larinya yang silang-menyilang memudahkan Crouch membenamkan Milan di San Siro.

Lennon Crouch Werder Bremen

Di titik itu, Tottenham menuju delapan besar Champions League, dan Ferhat mengikuti idolanya di setiap pijakan langkah.

“Lennon tidak begitu terkenal di Turki,” kata Utfurak. “Kebanyakan orang mengenal namanya dari gim seperti FIFA dan PES, di mana dia selalu menonjol karena dia sangat cepat. Aku memilih tim yang dibelanya setiap kali aku melawan temanku, dan aku juga berusaha meniru gaya mainnya di lapangan. Setelah beberapa lama, teman-teman, keluarga, dan bahkan beberapa guruku memanggilku Lennon.”

Ferhat otomatis menjadi pendukung Spurs karena terus menonton pemain favoritnya setiap pekan.

“Rasanya seperti aku mendukung tim, tapi sebenarnya hanya Lennon yang membuatku tertarik,” ujarnya. “Aku tidak tahu banyak tentang pemain-pemain lain saat aku muda — aku hanya sangat suka menonton Lennon.”

Pages