Persamaan Piala AFF Dengan Piala Eropa 2016

John Duerden melihat lebih dekat dan percaya bahwa Piala AFF Suzuki 2016 punya persamaan yang besar dengan gelaran terbesar Eropa tahun ini, Piala Eropa 2016...

Para fans di seluruh dunia saat ini sedang menikmati hidangan lezat berupa turnamen-turnamen besar sepakbola, termasuk tentunya di negara-negara Asia Tenggara, dengan Euro 2016 dan Copa America diadakan secara bersamaan.

Jika dilihat sekilas, turnamen AFF Suzuki Cup mungkin memang terlihat tidak memiliki banyak persamaan dengan Piala Eropa.

Namun saat FourFourTwo berusaha melihat lebih dekat ke sejarah dua turnamen ini, kami menemukan lebih banyak persamaan dari yang diduga para fans di manapun. Bahkan, kami percaya setiap tim di ASEAN memiliki kemiripan masing-masing dengan beberapa tim di di Eropa.

Inilah persembahan dari kami: Euro 2016 ala Asia Tenggara!

Both countries, with exciting and popular domestic leagues, hark back to so-called glory days that are getting increasingly distant

Spanyol/Thailand

Juara bertahan Eropa dan juara bertahan Asia Tenggara ini punya banyak kesamaan selain fakta bahwa mereka berstatus juara bertahan.

Pertama, cara mereka bermain. Thailand sedang mengembangkan tiki-taka, gaya yang mengejutan dunia sepakbola di Euro 2008 dan Piala Dunia 2010, versi mereka sendiri, dan mereka adalah tim ASEAN yang paling nyaman menguasai bola.

Gerakan pass-and-move yang muncul di Bangkok dalam beberapa bulan terakhir cukup mampu mengingatkan kita akan Barcelona.

Spanyol juga menjadi satu-satunya negara yang pernah memenangi juara Piala Eropa secara berturut-turut dan saat ini Spanyol sedang mengejar gelar ketiga mereka di Perancis.

The War Elephants, sementara itu, menjadi tim pertama di Asia Tenggara yang sukses mendapatkan gelar Piala AFF berturut-turut, sama seperti Spanyol di Eropa (2000, 2002), sebuah pencapaian yang mungkin mereka bisa capai kembali tahun ini.

Spain and Thailand have similar continental records

Malaysia/Inggris

Malaysia adalah negara yang tidak pernah bisa memutuskan apakah ingin memakai jasa pelatih lokal atau asing dan perdebatan ini tampaknya tidak akan pernah berakhir.

Begitu juga dengan Inggris. Kedua negara ini, dengan liga domestik yang menarik dan populer, seringkali  melihat ke masa-masa kejayaan di era lampau yang semakin lama semakin menjauh.

Masa-masa yang, mungkin, tidak terlalu dianggap sebagai kesuksesan besar oleh negara lain.

The Three Lions dan Harimau Malaya masih terus menghasilkan peman-pemain bagus dan tetap punya kemampuan untuk melangkah jauh, tapi untuk alasan tertentu mereka jarang sekali mendapatkan kesuksesan yang mereka inginkan – sesuatu yang yang sering diingatkan oleh media-media mereka.

Malaysia, like England, are trying to recapture past glories

Pages