Analisa

Persela Lamongan: Tim Non-Unggulan yang Sukses Jadi Kuda Hitam

Pada perhelatan Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016 lalu, Persela Lamongan menjadi salah satu tim yang memiliki tren negatif di sepanjang musim. Mereka hanya mampu menempati posisi ke-15 di klasemen akhir hasil dari 9 menang, 8 imbang dan 17 kalah. Praktis hal itu membuat skuat Laskar Joko Tingkir diragukan untuk menjadi penantang serius di ajang Liga 1 musim ini.

We are part of The Trust Project What is it?

Namun yang terjadi kemudian adalah sesuatu yang tak terduga: tim kebanggaan masyarakat Lamongan sejauh ini berhasil menjadi kuda hitam dan bertengger di posisi 10 klasemen sementara. Dalam perjalanan mereka hingga pekan 15, Samsul Arif cs bahkan membuat sejumlah kejutan dengan mengandaskan perlawanan dari tim-tim besar yang di atas kertas punya skuat yang unggul atas mereka.

Mulai dari Arema FC, Sriwijaya FC, hingga Madura United, sukses mereka buat tak berdaya saat bersua di Stadion Surajaya. Terakhir, jawara Indonesia Super League (ISL) 2014, Persib Bandung, sukses mereka tahan imbang di depan puluhan ribu Bobotoh. Hasil ini menandakan bahwa jelas sekali ada peningkatan dari performa Persela dibandingkan musim lalu.

Menanjaknya penampilan klub yang identik dengan warna biru langit ini sejatinya sudah dimulai kala Aji Santoso menjabat sebagai nakhoda tim di sisa gelaran ISC A. Aji yang merupakan pelatih bertipikal ofensif membuat Persela sukar dikalahkan dalam beberapa laga terakhir ISC A, termasuk ketika bermain di kandang sendiri.

Ia juga membuat striker muda, Dendy Sulistyawan, menjadi penyerang haus gol. Tak heran jika selama di ISC A, pemuda yang kini bermain untuk Bhayangkara FC itu menjadi top skorer Persela. Sayangnya, Aji Santoso tidak berlama-lama di Lamongan, karena ia kemudian memutuskan hijrah ke Malang guna membesut Arema FC.

Kendati demikian, kosongnya kursi kepelatihan di tim seperti tak terlalu dipikirkan oleh pihak manajemen. Persela malah lebih mendahulukan transfer beberapa pemain pilihan, dan nama-nama seperti Eka Ramdani, Samsul Arif, Juan Revi, Marcio Rozario dan Kosuke Uchida pun didatangkan oleh manajemen.

Saat skuat sudah dinilai lengkap, baru mantan pelatih PSS Sleman, Hery Kiswanto, dipilih untuk mengisi kursi pelatih yang sempat kosong itu. Tugas pertama pria 62 tahun tersebut kemudian terjadi di ajang Piala Presiden 2017.

Seperti yang sudah diprediksi, Persela pada akhirnya gagal berbicara banyak meski awalnya sempat menjanjikan dengan mampu mengalahkan PSM Makassar di babak grup. Namun, dari hasil tersebut Herkis – panggilan akrab sang pelatih – mulai melakukan evaluasi.

Herkis kemudian memberikan pola latihan yang bisa meningkatkan kualitas hubungan antar pemain dan juga mental mereka. Dirinya juga memberikan latihan dengan formasi yang berbeda-beda, mulai 4-2-1-3, 4-4-1-1 sampai 4-3-3 yang selanjutnya dipakai oleh Herkis dalam beberapa laga.

Di sisi lain, sadar akan kebutuhan tim menyambut Liga 1, manajemen kembali mendatangkan sejumlah pemain untuk memperkuat lini per lini Persela. Alhasil, penyerang asal Brasil berkepala plontos, Ivan Carlos, M. Agung Pribadi, dan Jose Coelho sukses dilabuhkan di Surajaya.

Pertandingan perdana menghadapi PSM Makassar memang belum menunjukkan hasil bagus untuk Persela, setelah mereka kalah 1-3 di Stadion Mattoangin, Makassar. Akan tetapi, kala menjamu Madura United di Surajaya, Herkis dan anak-anak asuhnya membayar tuntas kekalahan tersebut dengan meraih kemenangan 2-0.