Kisah

Persijatim: Anak Tiri Jakarta yang Terbuang Sebelum Akhirnya Menghilang

Persija bukan satu-satunya klub yang pernah berdiri di ibukota. Jakarta pernah mengenal Persijatim dulu, sebelum namanya terlupakan setelah menjadi anak tiri di kota sendiri...

We are part of The Trust Project What is it?

Dua-duanya berada di Jakarta Timur. Jarak antara Stadion Bea Cukai dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) hanya sekitar 12 km. Bisa ditempuh dalam waktu 20 menit melalui Jalan Tol Cililitan 2. Namun keduanya mempunyai nasib yang berbeda, bagaikan bumi dengan langit. Sementara TMII terus dibangun untuk menarik para pengunjung, Stadion Bea Cukai mulai gentoyoran dihantam kehidupan.

Meski begitu, Stadion Bea Cukai masih mempunyai nasib lebih baik daripada mantan tuannya, Persijatim. Setidaknya stadion itu masih dipoles jika ada sesuatu yang tidak beres. Cat-cat yang mulai mengelupas di bagian tribun dipermak ulang, pagar yang sudah berkarat juga sering diperbaiki, dan rumput-rumput liar di sekeliling lapangan yang tumbuh dipangkas habis agar tampak seragam dengan lapangan sepakbolanya.

Lalu bagaimana dengan nasib Persijatim? Klub yang pernah meramaikan kompetisi Perserikatan tersebut sekarang sudah menjadi hantu. Mungkin terus bergentayangan karena penasaran. Masalahnya, meski namanya pernah tercatat dalam sejarah panjang sepakbola Indonesia dan di dalam ingatan orang-orang yang peduli terhadapnya, ia sudah mati secara mengenaskan.

Didirikan untuk menyaingi Persija?

Dalam satu dekade, dari tahun 1973 hingga tahun 1983 lalu, Persija Jakarta merupakan salah satu tim terbaik di Indonesia. Saat itu, dalam enam musim kompetisi Perserikatan, Persija berhasil tiga kali meraih gelar. Nama-nama pemain seperti Andi Lala, Sutan Harhara, Risdianto, hingga Ronny Pasla menjadi salah satu alasan mengapa Persija mampu meraih hasil fantastis tersebut.

Menariknya, di tengah-tengah kehebatan Persija, tersebut Persijatim didirikan pada tahun 1976 lalu. Saat itu mereka berdiri bersamaan dengan Persija Selbar (Selatan Barat), dengan nama Persija Timut (Timur Selatan). Namun tak bertahan lama, klub-klub tersebut kemudian terpecah. Sementara Persija Selbat pisah menjadi PSJS dan Persija Barat, Persija Timut pecah menjadi Persija Utara dan Persijatim.

Kiprah awal Persijatim tidak banyak dibicarakan oleh banyak orang. Hingga satu dekade setelah Persijatim berdiri, sementara Persija terus berpetualang di Perserikatan dengan mengunjungi kota-kota besar yang juga gila bola

Menurut media cetak Merdeka, berdirinya Perjatim sebetulnya berdasarkan keinginan dari Bapak Soekendro, Ketua Umum Persija tahun 1975. Saat itu ia ingin sepakbola di Jakarta lebih maju dan tidak hanya berpusat di Jakarta Pusat. Meski begitu, ide tersebut tidak mampu benar-benar berjalan dengan sepatutnya. Persija sudah terlanjur membuat orang-orang Jakarta  jatuh cinta. Karena ketenaran dan presatasi mereka yang sudah mencapai tingkat nasional, Persija membuat Persijatim dan klub-klub Jakarta lainnya selalu berada di dalam bayang-bayangnya.

Dengan pendekatan seperti itu, kiprah awal Persijatim tidak banyak dibicarakan oleh banyak orang. Hingga satu dekade setelah Persijatim berdiri, sementara Persija terus berpetualang di Perserikatan dengan mengunjungi kota-kota besar yang juga gila bola, Persijatim hanya bertandingan dalam kesunyian. Di Stadion Bea Cukai, Jakarta Timur, dengan jumlah penonton tak seberapa mereka menikmati hari-harinya. Selain bertanding dalam kesunyian, mereka juga sering pindah-pindah tempat latihan, dari lapangan Rawamangun, lapangan PAM Jaya, hingga stadion Patriot Bekasi.  

Pada akhirnya, setelah Bina Taruna, klub internal Persijatim yang dimiliki Bea Cukai, memegang penuh kendali klub, Persijatim bisa muncul ke permukaaan. Pada tahun 1991 lalu mereka berhasil berdiri sejajar dengan Persija. Bukan, bukan menyoal ketenaran maupun prestasi, melainkan berada di dalam kompetisi yang sama. Ya, setelah lebih dari satu dekade berdiri,  Persijatim berhasil ikut Perserikatan pada musim 1991-92.  

 

Kiprah Persijatim (sekarang Sriwijaya FC) di Liga Indonesia 1996/97 sangat mengenaskan. Tak hanya terkunci didasar klasemen selama hampir berlangsungnya kompetisi, namun juga menorehkan beragam rekor negatif. Sepanjang musim Persijatim tak pernah mendapatkan kemenangan(20 pertandingan, 3 kali seri, 17 kali kalah). Mereka menjadi lumbung gol bagi beberapa klub Wilayah Barat seperti vs Bandung Raya 0-6(21/12), vs Persita 0-4(16/02), vs Persikab 0-6(26/02), vs Persiraja 0-5(12/04), vs Medan Jaya 0-6(15/04), vs Persija 2-9(11/06), vs Arema 0-5(18/06), dan vs Persebaya 0-9(21/06). Total Persijatim kebobolan sebanyak 75 gol(3,75 gol/pertandingan), dan menjadi klub dengan rataan kebobolan tertinggi pada Divisi Utama Liga Indonesia. . . . http://anak-negeri.blogspot.com/2014/04/divisi-utama-liga-indonesia-199697.html #persijatim #ligakansas #ligakansasindonesia #memoriligina

A post shared by Taman Apsari No.11 Surabaya (@tamanapsari11sby) on

Meski begitu, Persijatim tak bisa berbuat banyak dalam kompetisi itu. Berada di dalam grup yang sama dengan Persija, Wilayah Barat, mereka hanya menjadi pesakitan klub-klub lainnya. Dalam 10 pertandingan, mereka hanya sekali menang dan harus puas finis di posisi paling buncit.

Di musim selanjutnya, Perserikatan 1993-94, nasib mereka sedikit lebih baik di mana mereka berhasil memenangi lima laga. Setelah itu, setelah sempat tergradasi di Liga Indonesia musim 1996-97, Persijatim baru benar-benar mampu mencuri perhatian penggemar sepakbola Indonesia di Liga Indonesia musim 1999-2000. Saat itu, mengandalkan Abdul Manan di lini depan, mereka berhasil bersaing ketat dengan Persija untuk menjadi yang terbaik di Wilayah Barat. Mereka pun akhirnya lolos ke babak 8 besar hanya untuk kalah bersaing dengan PKT Bontang dan PSM Makassar.