Perubahan Peraturan Yang Bisa Menyelamatkan Sepakbola Italia & Serie A

Tidak hanya Greg Dyke di Inggris yang berusaha untuk menyelamatkan sepakbola negaranya. Klub-klub Serie A saat ini sedang menderita karena minimnya pemain muda lokal yang ada, tetapi dengan adanya peraturan baru di sepakbola Italia, bisa jadi penyelamat masa depan mereka, seperti yang Adam Digby tulis...

Milan edisi akhir 1980 masih menjadi salah satu tim terbaik untuk level dunia hingga kini.
 
Dipimpin oleh tiga pemain Belanda, Ruud Gullit, Frank Rijkaard, dan Marco van Basten, mereka mampu juara Eropa dua kali beruntun sebagai tanda kebesarannya pada masa itu. Luar biasanya adalah, fakta tersebut belum mampu disamai lebih dari dua dekade berlalu.
 
Dalam edisi paling akhir dari Deby Della Madonnina tak mampu menyajikan permainan brilian dari tim terhebat AC Milan tersebut. Bertemu rival satu kota, Inter, keduanya masih berusaha mencari jati diri. Kala pemain Belanda dikelilingi talenta berbakat Italia, hanya tiga pemain kelahiran asli ada di line up dan masih lebih banyak dua ketimbang Inter.
 
Silvio Berlusconi sudah tak mampu lagi bersaing membeli pemain termahal, kini mereka jadi bayang-bayang masa lalu, total 38 poin yang mereka kumpulkan kini, jauh dari pemuncak klasemen sementara Juventus, 67, sama jauhnya dengan kembali menemukan pemain seperti Franco Baresi atau Paolo Maldini.
 
Cerita sama juga dialami Inter, dua tempat lebih buruk dari Milan di klasemen, pernah menjadi salah satu klub terhebat di Italia, pasukan Roberto Mancini ini hanya menambah daftar buruk perkembangan sepak bola Italia secara umum.

Trio Belanda Gullit, Van Basten dan Rijkaard sukses membawa Milan menjadi juara Eropa tahun 89 dan 90

Tak perlu kaget begitu banyaknya pemain Italia absen di Inter, kecuali pemain yang sudah punya nama yang ada di klub. Beberapa waktu lalu hasil riset dari BBC memperlihatkan 45,4% menit pemain Italia yang main di negerin mereka sendiri turun 19% dari musim 2007/08.
 
Angka tersebut tak bisa disamakan dengan beberapa liga lain seperti La Liga yang ada di 59% kemudian 51% pemain Perancis tampil di Ligue 1, kemudian 50% pemilik paspor Jerman berlaga di Bundesliga, dan hanya 32,26% orang Inggris yang berkesempatan bermain di Premier League.

Memperbaiki Italia

Minimnya kesempatan bermain di negara sendiri membuat FIGC bereaksi. Seperti yang Greg Dyke lakukan di FA, mereka sudah mempelajari masalah dan menaikan kuota, tetapi rujukan Dyke bagi Inggris adalah menurunkan batas umur dari 21 menjadi 18. Sepak bola Italia memperkenalkan pagar batasan agar tidak terus-terusan bergantung pada talenta impor, FIGC umumkan mulai 2016, setiap 25 pemain yang didaftarkan oleh sebuah klub harus ada empat pemain binaan dan empat pemain yang sudah mengenyam penampilan bersama tim lain tapi kelahiran Negeri Pizza tersebut.

Kegagalan di ajang sekelas Piala Dunia masih terbayang jelas di ingatan. Pelatih utama, Antonio Conte sudah menyatakan bahwa pemain muda kurang mendapat kesempatan berkembang oleh klub dalam negeri. “Kamu tidak ingin menghadapi satu masalah, dan itu masalah terbesar,” ucapnya setelah mengalahkan Albania. “Kita tengah kehabisan sumber, dan akan mengalami transisi generasi yang sulit.”

Skuat Milan yang berisi pemain dari seluruh dunia, nampaknya harus menyesuaikan dengan peraturan baru ini

Ide ini juga disetujui oleh Giorgio Chiellini, pemain belakang Juventus ini melihat ada jarak umur antar pemain dan kebanyakan hilang di usia 20 hingga 27 tahun.
 
Regulasi baru “homegrown” membuat persyaratan pemain minimal telah menghabiskan tiga tahun diantara 15-21 tahun bersama klub Italia, apakah itu tim junior maupun senior, atau bahkan masa pinjaman namun pemilik masih tim dalam negeri.
 
Club-trained player merupakan syarat nomor berikutnya, yakni pemain yang didaftarkan oleh sebuah klub harus sudah menghabiskan waktu tiga tahun bersama.
 
Aturan-aturan tersebut sudah diumumkan dan hanya delapan tim yang bisa memenuhi aturan tersebut, mereka adalah Atalanta, Cagliari, Empoli, Genoa, Juventus, Milan, Roma, dan Sampdoria.
 
Sementara sisa 12 klub harus berusaha untuk menyesuaikan diri, Inter hanya memiliki satu pemain club-trained, Joel Obi tidak masuk hitungan karena kelahiran Nigeria. Fiorentina ada 27 pemain non-Italia, Udinese 26, Lazio 23, dan Napoli 19.
 
Bahkan Sassuolo yang dihuni tiga pemain non-Italia, cuma bisa mengklaim dua pemain dari 24 pemain yang lolos pendidikan junior.

Mauro Icardi adalah andalan Inter musim ini, tetapi dia berasal dari Argentina

Pelatih U-21 Luigi Di Biagio juga senada dengan Conte, walau para pemain dijanjikan bermain oleh klub papan atas, namun kenyataannya jam terbang yang di dapat tak sebanyak yang seharusnya mereka jalani. Mantan pemain Inter tersebut menyatakan bahwa klub-klub Serie A tidak suportif mendukung para pemain muda.

Kepemilikan Pihak Ketiga Dihilangkan

Gaya transfer membingungkan ini akhirnya berakhir pada musim panas nanti setelah FIFA melarang praktik seperti ini.
 
Pada akhirnta, Ini membantu para pemain untuk kembali ke klub utama dan berkembang bersamanya ketimbang terus menerus dipinjamkan ke tim-tim lain seantero negeri. Parma jadi klub yang paling menderita karena tak lebih dari 104 pemain mereka bermain untuk klub lain.
 
Fakta bahwa Juventus dan Roma yang sukses jadi pimpinan Serie A kali ini merupakan hasil pemikiran jangka panjang dari manajemen mereka.
 
Juara bertahan, Juventus sudah memiliki empat pemain club-trained tambah 10 homegrown, sementara Giallorossi dihuni lima.
 
Klub macam Milan dan Inter tidak memiliki banyak pilihan selain mengikuti aturan. Jika aturan ini berhasil, klub-klub Italia lainnya bisa kembali kompetitif seperti halnya Roma dan Juventus. Dengan ini Serie A perlahan bisa kembali lagi menjadi salah satu liga paling glamor Eropa dan ditakuti se-benua-biru.