Pragmatisme Membawa Portugal Mengakhiri Euro 2016 dengan Layak

Tidak ada yang benar-benar menganggap mereka akan menang, tetapi ada beberapa hal yang harus dihormati dari sang juara Euro 2016

Cara yang mereka gunakan memang bukan sepakbola indah, tetapi mereka memang tidak memerlukannya untuk menang. Setelah enam pertandingan, mengapa mereka harus mengubah strategi ini untuk pertandingan terbesar di sepanjang turnamen?

Portugal memang merupakan tim yang pragmatis alih-alih berusaha menyenangkan penonton di Euro 2016 ini, tetapi pada akhirnya, apa yang mereka lakukan sudah cukup: tidak ada tim yang bisa menghancurkan mereka bahkan ketika tekanan semakin besar di laga-laga akhir, dan daya tahan mereka membawa mereka hingga puncaknya.

Perancis diperkirakan akan membuktikan superioritas mereka di kandang sendiri setelah kemenangan yang mengesankan di semifinal atas Jerman, tetapi serangan-serangan mereka pun terlihat lemah dalam upaya mereka yang kurang maksimal untuk membuka pertahanan yang brilian dari Pepe dkk. Moussa Sissoko adalah pemain terbaik mereka, dan membuat kita semua tiba-tiba melupakan bahwa ia adalah orang yang sama dengan pemain yang bermain di Tyneside bernama Moussa Sissoko.

Kepergian Ronaldo

Portugal memenangkan Euro 2016 dengan sebuah gol (yang brilian) dari seorang pemain yang tak bisa mencetak gol dalam 15 penampilan di Swansea musim lalu, setelah pemain yang mencetak 51 gol untuk tim juara Liga Champions Eropa harus ditarik keluar karena cedera setelah 24 menit - dengan seekor ngengat hinggap di wajahnya (Catatan: cedera itu bukan karena si ngengat).

Pada momen itu, tim asuhan Fernando Santos ini sudah terlihat kurang hidup dan kalah saing, tetapi mungkin kepergian pemain andalan mereka yang prematur mendorong mereka untuk melakukan usaha yang lebih besar tanpa dirinya. Para pemain Portugal tak kehilangan semangatnya - mereka bisa melewati dua cobaan berat dari dua sundulan bagus Antoine Griezmann yang gagal menjadi gol, dan berusaha mengeksekusi rencana pertandingan mereka yang efektif yang telah dipersiapkan oleh manajer mereka.

Di kubu Perancis, Paul Pogba dimainkan di posisi yang lebih dalam dan jarang memiliki peluang untuk memberikan pengaruh besar pada permainan. Dimitri Payet ditarik keluar sebelum satu jam waktu berjalan. Peluang dari Griezmann juga hanya sedikit, dan peluang terbaiknya juga terbuang sia-sia - tetapi tidak seburuk nasib pemain pengganti, Andre-Pierre-Gignac, yang menendang bola mengenai tiang gawang dalam sebuah momen yang sangat bagus. 

Portugal memenangkan Euro 2016 dengan sebuah gol dari seorang pemain yang tak bisa mencetak gol dalam 15 penampilan di Swansea musim lalu

Pragmatisme terbayar lunas

Euro 2016 mungkin tidak akan diingat dalam waktu lama. Pertandingan-pertandingan yang bagus terlalu tertutup pertandingan-pertandingan yang buruk, rataan golnya adalah yang terkecil dari turnamen besar manapun sejak Euro 96, dan turnamen ini dimenangkan oleh sebuah tim yang tak banyak dianggap oleh semua orang, apalagi mereka adalah tim yang finis di posisi ketiga di grup mereka.

Tetapi ada sesuatu yang sering terabaikan dari Portugal, dan soal rekor mereka di turnamen-turnamen seperti ini. Mereka setidaknya mencapai babak semifinal di empat dari lima Piala Eropa terakhir, dan, sebelum Piala Dunia 2014 yang sangat buruk, mereka hanya kalah tipis dari Spanyol yang brilian di Afrika Selatan 2010 dan finis di posisi keempat di Piala Dunia 2006.

Fans Portugal menyadari sejak lama bahwa mereka tidak perlu lagi ingin menang dengan bermain cantik; bahwa hari-hari itu telah berakhir dengan tiba-tiba ketika Rui Costa dan Luis Figo sudah terlalu tua untuk berpengaruh di pertandingan-pertandingan mereka.

Ketika tim-tim yang fungsional (tapi tak bermain cantik) memenangkan turnamen besar, mungkin sebagian besar dari kita akan sulit menerimanya - apalagi, bagi beberapa orang, jika tim itu memiliki Cristiano Ronaldo di dalamnya - tetapi seiring berjalannya waktu, kita akan belajar untuk menghormati mereka.

"Akan sangat bagus jika bisa bermain cantik, tetapi untuk memenangkan turnamen Anda tidak bisa selalu dengan cara seperti itu," kata manajer mereka, Fernando Santos, setelah pertandingan babak 16 besar melawan Kroasia - sebuah laga yang dibenci oleh semua orang, kecuali Ricardo Quaresma.

Dan ia benar.

Lebih banyak feature setiap harinya di FFT.com • Semua artikel Euro 2016