Preview Bundesliga 2016/17: Karena Semua Bisa Terjadi di Bundesliga!

Daya tarik Bundesliga adalah memiliki salah satu klub terbaik di dunia dan tetap kompetitif; dalam beberapa musim, persaingan berlangsung hingga pekan terakhir. Bukan hanya di papan atas, tapi juga di papan bawah. Taufik Nur Shiddiq memberikan gambaran ketatnya persaingan Bundesliga...

Sewajarnya Bayern München mendominasi di Bundesliga. Mereka begitu hebat sampai pantas berada dengan dua klub lain dalam daftar tiga klub terbaik sedunia. Musim ini, seperti musim-musim sebelumnya, mereka masih menjadi kandidat terkuat juara. Pemain-pemain kuncinya bertahan dan para pemain baru yang didatangkan pada bursa transfer musim panas tahun ini bukan pemain-pemain sembarangan. Pep Guardiola tidak memperpanjang kontraknya namun Carlo Ancelotti, sang pengganti, adalah juru taktik kelas satu.

Salah satu bukti kualitas Ancelotti adalah tiga Liga Champions, gelar yang terakhir kali Bayern menangi pada 2013 dan tidak berhasil mereka raih selama ditangani Guardiola. Bisa jadi, salah satu alasan Bayern merekrut Ancelotti adalah kerinduan terhadap Si Kuping Besar. Namun andai benar Ancelotti didatangkan untuk itu, Bundesliga jelas tak akan diabaikan. Standar di Bayern sangat tinggi sehingga menjuarai liga selalu menjadi target tahunan; target yang mudah sekaligus sulit diraih.

Mudah karena Bayern adalah Bayern; sulit karena saingan mereka – saingan terdekat mereka saat ini – adalah Borussia Dortmund. Dengan penampilan sekelas musim lalu, Dortmund lebih baik dari kebanyakan juara liga lain di Eropa. Mereka memang hanya menjadi runner-up pada akhirnya, namun Dortmund menduduki peringkat kedua karena standar Bayern di bawah arahan Guardiola kelewat tinggi. Dalam sejarah perburuan gelar juara Bundesliga yang melibatkan keduanya secara langsung, musim lalu adalah yang terbaik.

Dortmund kalah sepuluh angka dari Bayern musim lalu. Musim ini mereka bisa memangkas jar ... tidak, tidak; musim ini mereka mungkin bisa memaksa Bayern menduduki peringkat kedua. Bukan tidak mungkin tim lain akan sekali dua kali merasakan dua besar, namun pada akhirnya hanya ada dua kemungkinan di akhir musim: Bayern juara dan Dortmund runner-up atau Dortmund juara dan Bayern runner-up – asal Tuchel tak terlalu kerepotan oleh jadwal Liga Champions di musim pertamanya di kejuaraan antarklub terbesar di Eropa itu (Ancelotti, tentunya, sudah berpengalaman soal membagi fokus antara liga domestik dan Liga Champions, dan ini menjadi keunggulan Bayern atas Dortmund).

Mats Hummels, Thomas Muller

Bayern kembali membajak pemain kunci Dortmund pada musim panas ini

Duopoli Bayern-Dortmund, toh, tidak membuat Bundesliga tak kompetitif. Sub-liga tanpa Bayern dan Dortmund adalah keseruan tersendiri yang hadiahnya lebih beragam dan pesertanya bukan tim kacangan. Jika Anda merasa ini adalah pernyataan yang mengada-ada dengan tujuan untuk menjual Bundesliga, silakan tinggalkan tulisan ini sekarang; tapi saya beri jaminan, ini bukan lip service untuk liga Jerman.

Di luar Bayern dan Dortmund, Bayer Leverkusen memiliki peluang terbesar untuk menempati tempat tertinggi, lebih besar dari langganan zona Eropa lain seperti Schalke 04, Borussia Mönchengladbach, dan VfL Wolfsburg. Bisa demikian karena Leverkusen memiliki Javier Hernández, penyerang terbaik ketiga setelah Robert Lewandowski (Bayern) dan Pierre-Emerick Aubameyang (Dortmund), dan Karim Bellarabi, runner-up pencetak assist terbanyak musim lalu (11, hanya kalah dari Henrikh Mkhitaryan, sekarang di Manchester United, yang mencetak 15 assist) serta pemain-pemain lain seperti Hakan Çalhanoğlu, Julian Brandt dan Kevin Kampl. Leverkusen juga, dengan taktik menekan yang diinstruksikan oleh Roger Schmidt, merupakan salah satu tim dengan pertahanan terbaik musim lalu.

Javier Hernandez, Bayer Leverkusen

Chicharito adalah penyerang terbaik ketiga di Bundesliga musim lalu

Duopoli Bayern-Dortmund, toh, tidak membuat Bundesliga tak kompetitif. Sub-liga tanpa Bayern dan Dortmund adalah keseruan tersendiri yang hadiahnya lebih beragam dan pesertanya bukan tim kacangan

Komposisi kualitas pelatih, pemain, serangan, dan pertahanan inilah yang tidak dimiliki oleh klub-klub lain yang terlibat persaingan langsung dengan Leverkusen. Selain itu, mereka juga memiliki momentum. Musim lalu, Borussia Mönchengladbach memiliki semua yang Leverkusen miliki kecuali momentum – Mönchengladbach baru mulai mengumpulkan poin pada pekan keenam setelah mempercayakan posisi pelatih kepala kepada André Schubert karena Lucien Favre kalah lima kali dalam lima pertandingan pertama. Wolfsburg memiliki semuanya kecuali pelatih berkualitas; Dieter Hecking bukan pelatih kacangan, namun membagi fokus antara Liga Champions dan Bundesliga terlalu berat untuknya. Sedangkan Schalke hanya memiliki pemain sementara pelatihnya tak cukup baik, serangannya tak cukup membahayakan, dan pertahanannya terlalu lemah untuk tim yang berambisi lolos ke Liga Champions – mereka, pada akhirnya, hanya lolos ke Europa League.