Preview Man City vs Tottenham: Mengapa Pochettino adalah Lawan Terberat Guardiola

Kebanyakan media mungkin menyukai rivalitas Jose Mourinho dan Pep Guardiola. Tapi bagi Guardiola sendiri, Mauricio Pochettino lah lawan terberat dalam kariernya. Mereka akan bertemu lagi akhir pekan ini, dan Arief Hadi memberikan ulasannya...

Pada Rabu pekan ini waktu Inggris, Josep Guardiola mengizinkan para pemainnya untuk menyaksikan film musikal yang tengah populer, La La Land. Hal itu dimaksudkannya guna membuat para pemain Manchester City sedikit lebih santai menjelang laga besar melawan Tottenham Hotspur di pekan ke-22 Premier League yang berlangsung akhir pekan ini.

Guardiola yang sangat mendetail dengan penjelasan taktik kepada para pemainnya agar mengikuti filosofi bermainnya, ingin agar Sergio Aguero dan kawan-kawan tidak terbebani dengan tekanan mental yang besar, menyusul kekalahan telak 0-4 dari Everton akhir pekan lalu.

Pertanyaan muncul, dapatkah film La La Land’ menginspirasi The Citizens untuk bangkit dari keterpurukan? Melawan tim yang tengah on fire? Berat, namun semua dapat terjadi dalam sepakbola, bahkan tim yang tengah terpuruk bisa menciptakan kejutan saat melawan tim yang lebih diunggulkan.

Laga yang berlangsung di Etihad Stadium nanti juga akan mempertemukan dua pelatih yang sudah bertemu sebelumnya di Spanyol, Guardiola di kubu Man City dengan Mauricio Pochettino di Tottenham. Guardiola tentu mengingat baik, bahwa Pochettino bak kryptonite baginya sejak awal pertemuan mereka pada 2009, hingga pertemuan perdana mereka di Premier League musim ini.

Pochettino tahu bagaimana menghentikan filosofi bermain koleganya itu dan menciptakan anti-filosofi bermain Guardiola, dengan tim yang dimilikinya. Pada 2009 contohnya, Pochettino yang mengawali karier kepelatihan di Espanyol, meraih kemenangan perdana atas Barcelona di Camp Nou, di mana Blaugrana dihuni pemain-pemain top seperti Ronaldinho, Samuel Eto’o, Thierry Henry, Yaya Toure, Andres Iniesta dan pemain lainnya.

Sejak di La Liga, Pochettino telah menjadi 'kryptonite' bagi Guardiola

Pochettino tahu bagaimana menghentikan filosofi bermain koleganya itu dan menciptakan anti-filosofi bermain Guardiola, dengan tim yang dimilikinya

Sejak saat itu Guardiola sudah mulai mengawasi sepak terjang Pochettino dan menganalogikannya, sebagai pelatih yang punya filosofi bermain ofensif, bukan pragmatis alias bertahan dan menanti kesempatan emas dari serangan balik atau situasi bola mati.

“Ada tim-tim yang menanti Anda (bermain bertahan) dan mencari Anda (menyerang), Espanyol mencari Anda,” ucap Guardiola kala itu.

Situasi yang sama pun terulang kembali di awal musim ini, saat The Lilywhites menghentikan laju kemenangan 100 persen Guardiola dengan kemenangan 2-0 di White Hart Lane – mempertegas dua kemenangan beruntun mereka, dari laga kandang dan tandang musim lalu.

Tak pelak kini sorotan utama tertuju kepada Guardiola. Di saat semua fakta statistik mengunggulkan Tottenham, dapatkah Guardiola menjadi tokoh protagonis di tengah penurunan performa Man City? Publik kini menanti respon pria Spanyol yang mengidolai Johan Cruyff itu.

Pelajaran Taktik dari Pochettino

Legenda Espanyol ini sudah cukup mengenal Premier League setelah perantauannya selama empat tahun di Inggris, sejak melatih Southampton pada 2013 hingga melatih Tottenham pada 2014 sampai saat ini. Pochettino sadar, bahwa filosofi bermain yang dimiliki tiap pelatih di Inggris, harus disesuaikan dengan tuntutan bermain di Premier League yang sarat permainan fisik, serta adaptasi cepat klub-klub dalam mencari penangkal strategi bermain lawan.

“Jika Anda tiba di sini (Premier League) dan Anda tidak cukup rendah hati untuk tahu bahwa Anda harus bekerja keras, Anda akan kecewa. Anda takkan mampu menahannya atau sadar betapa sulitnya (persaingan), hingga Anda tiba di sini. Orang-orang banyak meremehkan Premier League,” tutur Pochettino.

“Mereka berpikir di sini masih memainkan bola-bola panjang, tanpa kualitas sepakbola dan Rabu hari libur. Faktanya tidak seperti itu, saya telah empat tahun berada di negeri ini dan saya tak pernah melihatnya,” lanjutnya.

Ya, sekedar filosofi semata terkadang tidak cukup di Premier League, dan Guardiola seharusnya sudah tahu hal tersebut ketika rekor 100 persen kemenangannya dihentikan Pochettino. Sejak saat itu juga, tim-tim Premier League tahu resep untuk menangkal permainan Man City besutan Guardiola, yakni pertahanan solid, pressing tinggi, dan efektivitas serangan yang tajam, hingga klimaksnya terjadi saat melawan Everton.

Pep bisa belajar dari Poch untuk bisa sukses di Premier League

Guardiola sedianya bisa belajar dari Pochettino, bagaimana cara pelatih berpaspor Argentina berusia 44 tahun itu mengadopsi taktik yang berbeda, tergantung dengan lawan yang dihadapinya. Contohnya ketika melawan Chelsea di tengah tren kemenangan 13 kali beruntun, Pochettino menghadapi taktik 3-4-3 Antonio Conte dengan taktik 3-4-2-1 dan meladeni permainan Chelsea dengan agresivitas bermain.

Pochettino sadar akan sulit bagi timnya mengalahkan Chelsea jika tak memiliki pertahanan yang solid, oleh karena itu ia menempatkan empat gelandang tengah (Victor Wanyama, Moussa Dembele, Christian Eriksen, dan Dele Alli) – ditambah dukungan dua bek sayap, untuk menghadapi empat pemain tengah Chelsea, yang hanya menempatkan dua gelandang sentral pada diri N’Golo Kante dan Nemanja Matic.

Hasilnya, Tottenham bermain lebih cerdas dan efektif ketimbang Chelsea. Fakta itu terbukti dengan sembilan tendangan dan dua di antaranya tepat sasaran – berbuah gol, sementara Chelsea melepaskan 11 tendangan dengan detail dua tendangan tepat sasaran, namun urung menembus gawang Hugo Lloris.

Jumlah penguasaan bola Tottenham memang kalah 46 berbanding 55 persen Chelsea, tapi mereka memenangi duel perebutan bola dengan total 35 tekel berbanding 30. Dari jumlah statistik bertahan yang diperlihatkan Spurs, terbukti bahwa mereka meladeni agresivitas Chelsea dan banyak melakukan clearance alias menyapu bola di area 16 meter.

Fleksibilitas taktik Pochettino dalam menerapkan taktik berdasarkan lawan yang dihadapinya pun dapat dilihat di laga melawan West Bromwich Albion (WBA) – laga Tottenham pasca melawan Chelsea. Saat itu Tottenham menang 4-0 dan mereka mendominasi ball possession sebanyak 66 berbanding 34 persen, tajam dalam mencetak gol dan solid dalam bertahan.

Bermodalkan pemain-pemain muda di dalam timnya seperti Dele Alli, Harry Kane, Eric Dier, dan Son Heung-min, Tottenham bisa kembali mengejutkan Man City di Etihad Stadium dan Pochettino sudah tahu pasti taktik yang digunakannya nanti. Kini, semua bergantung kepada Guardiola untuk tetap berpegang teguh dengan filosofi bermainnya, atau belajar dari fleksibilitas taktik Pochettino.