Profil Rival Piala AFF 2016: Singapura dan Transisi Generasi yang Menyulitkan Mereka

Singapura saat ini adalah Singapura yang berbeda dengan beberapa tahun lalu. Penurunan kualitas nampak jelas di skuat mereka. Meski begitu, Indonesia tetap harus mewaspadai sang negeri jiran. Dan Renalto Setiawan menjelaskannya...

Saat undian AFF Suzuki Cup 2016 berakhir beberapa bulan lalu, di mana Indonesia tergabung bersama Filipina, Thailand, dan Singapura di Grup B, Indonesia tentu saja langsung berpikir bahwa Filipina dan Thailand adalah pesaing tangguh yang akan sulit untuk dihadapi. Sementara Filipina merupakan tim tuan rumah yang dihuni oleh pemain-pemain keturunan berbakat, Thailand merupakan juara bertahan yang levelnya berada satu tingkat di atas tim-tim Asia Tenggara lainnya.

Meski demikian, jika mempunyai cita-cita untuk lolos ke babak selanjutnya, Indonesia seharusnya tidak boleh mengabaikan kekuatan yang dimilki oleh Singapura. Bagaimanapun Singapura adalah mimpi buruk Indonesia. Sang Boogeyman. Dalam sepuluh pertemuan terakhir melawan Singapura, Indonesia hanya menang dua kali, bermain imbang dua kali, dan kalah sebanyak enam kali. Dengan catatan seperti itu, Indonesia kemungkinan besar malah akan babak belur jika meremehkan kekuatan Singapura di Filipina nanti.

Lalu, seperti apa kekuatan Singapura sekarang ini? Siapa saja pemain yang harus diwaspadai? Dan bagaimana kiprah mereka di Piala AFF belakangan ini?

Masa transisi yang sulit

The Lions sedang mengalami transisi, di mana sebagian besar pemain mereka yang berjaya di Piala AFF 2007 dan Piala AFF 2012 sudah pensiun dari timnas

Kualitas Singapura saat ini memang sedang mengalami penurunan, terutama jika dibandingkan dengan kualitas yang mereka miliki saat masih menjadi salah satu raja Asia Tenggara beberapa tahun lalu. The Lions sedang mengalami transisi, di mana sebagian besar pemain mereka yang berjaya di Piala AFF 2007 dan Piala AFF 2012 sudah pensiun dari timnas. Pemain-pemain dengan kualitas seperti Lionel Lewis, Muhammad Ridhuan, dan Noh Alam Shah sulit sekali ditemukan di genarasi sekarang ini. Dan saat nama-nama seperti Baihakki Khaizan, Mustafic Fahrudin, dan Daniel Bennet – Mustafic bahkan dibangunkan dari masa pensiunnya – masih diandalkan oleh Sundramoorthy, pelatih Singapura, tim ini tentu saja sedang berada dalam masalah yang cukup besar. Penampilan mereka belakangan ini bahkan berhasil membuat publik sepakbola Singapura seperti kehilangan selera makannya.

Baihakki Khaizan

Telah berusia 32 tahun, Baihakki Khaizan terus menjadi andalan The Lions di lini belakang

Dalam lima pertandingan terakhir mereka, Singapura tidak sekali pun mampu meraih kemenangan, salah satu rekor terburuk yang pernah mereka alami. Parahnya, dari lima pertandingan yang gagal dimenangkan Singapura tersebut, Kamboja menjadi salah satu penyebabnya. Dalam sebuah pertandingan uji coba pada bulan Juli lalu, Kamboja berhasil mengalahkan Singapura 2-1, sebuah kemenangan yang langka karena terakhir terjadi pada tahun 1972 lalu. Dan dalam pertandingan uji coba terakhirnya baru-baru ini, Singapura juga harus menyerah dari Hong Kong 0-2.

Publik sepakbola Singapura mengatakan bahwa tidak ada gairah di dalam permainan Singapura. Tim bermain monoton dan miskin kreasi

Hasil-hasil mengecewakan tersebut membuat Sundram, sapaan akrab pelatih Singapura, disalahkan. Publik sepakbola Singapura mengatakan bahwa tidak ada gairah di dalam permainan Singapura. Tim bermain monoton dan miskin kreasi. Pelatih yang baru diangkat menjadi pelatih kepala Singapura pada beberapa bulan lalu tersebut kemudian dianggap gagal mengangkat performa juara Piala AFF 2007 tersebut. Masalahnya, performa mengecewakan Singapura tersebut sebetulnya lebih dalam daripada sekadar masalah taktis di atas lapangan. Di saat bakat-bakat hebat – baik pemain naturalisasi maupun pemain lokal – mulai menyusut, Singapura terlambat menyadarinya. Kualitas pemain Singapura sekarang tidak merata. Hal ini masih ditambah dengan masalah waktu yang tidak dapat berkompromi dengan Sundram: putaran final Piala AFF 2016 sudah tinggal sebulan lagi.

V.Sundramoorthy

Sundram dalam posisi sulit setelah performa buruk Singapura di sepanjang tahun 2016 ini

FAS (Football Association of Singapore) saat ini memang sedang menerapkan sistem pembinaan yang dilakukan Belgia di Singapura, sebuah pembinaan yang menghasilkan pemain-pemain hebat seperti Kevin de Bruyne, Eden Hazard, dan Axel Witsel. Namun, hal tersebut baru saja dimulai dan dikhususkan untuk pemain-pemain Singapura yang berusia 12 hingga 18 tahun. Hasil dari pembinaan tersebut baru akan diperoleh pada masa yang akan datang, bukan sekarang. Dan saat pembinaan tersebut terus digemakan, publik sepakbola Singapura tak akan memperhatikannya. Bagi kebanyakan orang, baik buruknya tim sepakbola sebuah negara tentu saja diukur dari kiprah tim nasional seniornya.