PSMS Medan: Raksasa Indonesia yang Jatuh dan Belum Bisa Bangkit Lagi

PSMS Medan akhir-akhir ini mulai mendapatkan perhatian lagi berkat laga uji coba kontra salah dua klub terbesar di Indonesia saat ini, Arema FC dan Persib Bandung. Renalto Setiawan melihat kembali bagaimana eks klub besar Indonesia ini pernah berjaya sebelum jatuh dan tak bisa bangkit sampai saat ini...

Pada tahun 2013 lalu, sebelas orang pemain PSMS Medan melawat ke Jakarta. Semangat mereka meluap-luap. Rasa optimis terus berputar-putar di dalam kepala mereka. Bukan. Bukan piala bergengsi yang menjadi keinginan mereka pada saat itu. Sebaliknya, mereka justru datang ke Jakarta untuk melawan PSMS, klubnya. Masalahnya, masa depan mereka terancam. PSMS sudah tidak membayar gaji mereka selama 10 bulan. Dan mungkin dengan berat hati, mereka ingin PSMS “kalah” pada waktu itu.

Pada masa silam, tepatnya pada pertengahan tahun 1960-an hingga pertengahan tahun 1980-an, kejadian seperti itu tentu saja tak pernah sekali pun terbayangkan oleh PSMS Medan. Saat itu, mereka adalah salah satu klub besar di tanah air. Prestasi yang mereka raih bahkan sering membuat mereka menjadi tajuk utama media-media di tanah air. Pemain-pemain mereka pun tak sedikit yang menjadi andalan timnas Indonesia.

Siapa yang tak tahu kehebatan Ponirin Meka saat ia berdiri di depan gawang PSMS maupun tim nasional? Siapa yang tak mengenal rap-rap, ciri khas permainan anak-anak PSMS, yang sulit dilawan itu?  Siapa yang tak ingat saat 150.000 orang penonton, rekor jumlah penonton terbanyak dalam sebuah pertandingan sepakbola amatir di Asia pada saat itu, memadati Stadion Utama Senayan pada pertandingan final Perserikatan tahun 1985 lalu?

Ironis menang saat membandingkan kejayaan PSMS Medan pada masa lampau dengan kehidupan mereka sekarang ini. Jika pada masa lampau PSMS adalah klub besar, sekarang PSMS hanyalah klub yang mempunyai nama besar. Sejak mereka berhasil menggondol gelar keenam Liga Perserikatan pada tahun 1985 lalu, PSMS hanya berhasil meraih gelar Piala Kemerdekaan, piala kelas dua, pada tahun 2015 lalu. Selebihnya, daripada memikirkan bagaimana caranya berprestasi, PSMS lebih banyak memimikirkan bagaimana caranya bertahan hidup di kancah sepakbola Indonesia. Singkat kata, sekarang ini klub kebanggaan masyarakat Sumatera Utara tersebut hanyalah klub medioker di tanah air. Tidak kurang dan tidak lebih.

Awal Kejayaan di Perserikatan

Siapa yang tak tahu kehebatan Ponirin Meka saat ia berdiri di depan gawang PSMS maupun tim nasional? Siapa yang tak mengenal rap-rap, ciri khas permainan anak-anak PSMS, yang sulit dilawan itu?

Hari Minggu, 10 September 1967, bersamaan dengan keputusan masyarakat Gibraltar untuk tetap memilih menjadi bagian dari Inggris, kebahagian terpancar dari wajah sebagian besar masyarakat kota Medan. Saat itu, PSMS Medan, tim kebanggaan mereka, berhasil meraih gelar Perserikatan (saat itu masih bernama Kejurnas PSSI) untuk pertama kalinya dalam sejarah. Tak tanggung-tanggung, lawan yang mereka kalahkan di partai puncak kejuaraan itu adalah Persib Bandung, salah satu tim besar di Indonesia. Mereka berhasil menang dua gol tanpa balas di Stadion Utama Senayan (saat ini menjadi Stadion Utama Gelora Bung Karno).

PSMS sendiri memerlukan waktu sekitar 16 tahun untuk meraih gelar tersebut. Meski beberapa kali diunggulkan, terutama pada tahun 1953 dan 1957, ketika tim sepakbola Sumatera Utara sukses meraih medali emas dalam gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON), PSMS Medan selalu gagal meraih juara karena angin kemenangan sepertinya belum berpihak kepada mereka.

Prestasi yang membanggakan tersebut akhirnya tiba setelah PSMS Medan justru lebih banyak mengandalkan pemain muda di dalam skuatnya. Mereka adalah jebolan tim PSMS Junior yang berhasil meraih gelar Piala  Suratin pada tahun yang sama. Sadar bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang benar, PSMS kemudian terus melakukan pembinaan secara berjenjang dan terus melakukan regenerasi di dalam skuatnya. Hasilnya ternyata mujarab. Prestasi PSMS Medan seperti tak mau berhenti mengalir.

Pages