Analisa

Punahnya Peran 'Super-Sub' di Tim-Tim Premier League

Harry Kane, Fernando Llorente

Tren taktik dan kematian peran super-sub memberikan masalah bagi para striker pelapis di era modern ini, tulis Alex Hess

We are part of The Trust Project What is it?

Jika melihat para atlet multimiliuner berwajah tampan dan terkenal, perasaan alami yang muncul dalam diri kita biasanya bukanlah rasa simpati. Meski begitu, bahkan para penggemar yang berhati dingin pun seharusnya memiliki rasa kasihan pada Fernando Llorente, ketika melihat Tottenham bermain melawan Bournemouth pada pekan lalu.

Sebagai seorang backup dari seorang pemain favorit fans, tugas Llorente memang tak banyak mendapatkan simpati

Penyerang asal Spanyol ini harus menjalani musim yang sulit dan jarang bermain dalam beberapa pekan terakhir, tetapi ketika Harry Kane mengalami cedera saat laga tersebut berjalan setengah jam, terlihat ada secercah harapan untuknya. Namun, hal yang berbeda justru terjadi: Llorente diabaikan dan yang masuk menggantikan Kane justru Erik Lamela, sementara Son Heung-min digeser menjadi penyerang tengah dan, seperti hendak membenarkan pergantian ini, Son pun mencetak dua gol. Llorente, yang tak dipanggil untuk masuk lapangan, hanya mendapatkan keistimewaan untuk duduk di barisan terdepan.

Vincent Janssen pasti tahu perasaannya saat itu. Sebagai seorang backup dari pemain favorit fans, tugas Llorente memang tak banyak mendapatkan simpati. Kane telah berkembang begitu bagus di Spurs sampai-sampai, bagi para rivalnya di lini depan, ia sepertinya bisa membuat pemain bagus menjadi pemain tak berguna di bangku cadangan. Kita bisa menyebutnya ‘efek Drogba’ - Anda akan mengerti alasannya nanti.

Kematian para spesialis pengganti

Meski begitu, posisi Llorente jauh dari kata unik: ia hanya contoh paling ekstrem dari tren yang berkembang saat ini. Lihat saja tim-tim Premier League lainnya, dan Anda akan melihat minimnya peran para striker pelapis yang efektif.

Sebuah peran yang dulu dianggap sebagai peran spesialis, yang dimainkan dengan hebat oleh pemain-pemain seperti David Fairclough, Nwankwo Kanu, dan Ole Gunnar Solskjaer, kini menjadi sesuatu yang tak lagi penting. Tiba-tiba, tak ada lagi istilah ‘super-sub’.

Ole Gunnar Solskjaer

Pemandangan Solskjaer bangkit dari bangku cadangan bisa memberikan rasa takut bagi tim lawan di masa lalu

Di Liverpool, tugas menjadi backup untuk Roberto Firmino menjadi milik bersama Daniel Sturridge (sebelum ia dipinjamkan ke West Ham), Dominic Solanke, dan Danny Ings. Total, trio pemain ini mencatatkan 22 penampilan dari bangku cadangan musim ini, tetapi hanya mampu mencetak satu gol.

Pemain pengganti utama Arsenal untuk lini depan, Danny Welbeck, belum pernah mencetak gol dari posisi sebagai pengganti musim ini, sementara mantan rekan setimnya, Olivier Giroud – yang, harus diakui, merupakan seorang pengganti yang sangat efektif di masanya bersama The Gunners – memilih pindah dari peran pengganti di London utara untuk menjadi peran pengganti di London barat.

Kelechi Iheanacho di Leicester – pemain muda yang eksplosif di kotak penalti yang, secara teori, cocok untuk peran ini – mencetak gol pertamanya untuk The Foxes di pertandingan Premier League terakhir mereka pekan lalu setelah 15 kali percobaan. Javier Hernandez, sang ‘pewaris spiritual’ Solskjaer ketika di Old Trafford dulu, hanya mencetak satu gol dari 10 penampilan dari bangku cadangan musim ini. Bahkan Jermain Defoe, pemain pengganti dengan jumlah gol terbanyak di era Premier League, pun terkena dampak epidemik tren ini: ia mencetak ketiga golnya musim ini saat bermain sebagai starter.