Rapor Manajer Premier League 2014/15 Versi FFT

Jurnalis FFT, Joe Brewin, mengevaluasi kinerja para manajer Premier League musim 2014/15 ini...

Musim telah berakhir dan yang bisa anda lakukan saat ini adalah menghitung hari hingga anda melihat Robie Savage mempermalukan dirinya sendiri di final FA Cup yang tidak terlalu menarik.
 
Sementara itu, silahkan simak daftar ranking 20 manajer Premier League musim ini versi FFT, berdasarkan pencapaian mereka di semua kompetisi. Tidak setuju? Silahkan beritahu kami melalui Twitter @FourFourTwoID (tetapi mohon jangan galak-galak, kami punya perasaan, Anda tahu kan?...)

1) Jose Mourinho (Chelsea)

Gelar liga domestik kedelapan Jose diraih dengan lugas, tapi pangeran Portugal ini tetap menjaga standar-nya yang tinggi bahkan ketika timnya akhirnya kalah telak jelang musim berakhir. Setelah kekalahan 3-0 dari West Brom sebelum laga terakhir, Mourinho melambaikan telunjuknya ke semua orang- seolah ingin mengingatkan. "Jika saya harus menyalahkan siapa pun, saya akan menyalahkan Manchester United, Manchester City, Arsenal dan Liverpool karena membiarkan kami memenangkan gelar begitu awal," ledeknya. Itu benar adanya, tapi memang tak ada yang bisa mengacuhkan fakta bahwa Chelsea begitu dominan di sebagian besar musim ini dan semua keunggulan ada di tim besutan Mourinho. Sederhana saja, mereka memenangkan lebih banyak gelar, termasuk Piala Liga Inggris.

2) Ronald Koeman (Southampton)

Pelatih dingin asal Belanda ini membuat salah satu pekerjaan tersulit musim ini terlihat mudah, memimpin tim yang kehilangan banyak pemain penting mereka ke posisi ketujuh (dan mungkin bisa lolos ke Liga Europa, tergantung hasil pinal Piala FA) setelah melakukan beberapa pekerjaan hebat di bursa transfer. Akhirnya, timnya hanya finis empat poin di belakang tim besutan Mauricio Pochettino, Tottenham, dan dua poin di belakang Liverpool di mana Lambert, Lallana dan Lovren bermain. The Saint diprediksikan akan terperosok keluar 10 besar, bahkan Phil Neville memprediksi mereka akan terdegradasi - tapi tangan mantap Koeman mempertahankan The Saint sebagai kekuatan yang harus diperhitungkan dan bahkan bahkan mendapatkan empat poin lebih banyak dari musim lalu.

3) Garry Monk (Swansea City)

Kinerja luar biasa Koeman sebanrnya bukanlah hal yang sepenuhnya mengejutkan setelah karir yang progresif di Eredivisie, tapi shal yang sama tidak dapat dikatakan kepada manajer termuda di Liga Primer. Mantan bek Swansea, Monk, membantu Swansea bangkit  akhir musim lalu setelah masa-masa buruk di bawah kepelatihan Michael Laudrup, ia dengan mantap memimpin tim asal Wales mencapai rekor poin Premier League. Mereka finis di peringkat kedelapan meskipun pada bulan Januari kehilangan Wilfried Bony, mengalahkan Manchester United dan Arsenal dua kali.

4) Alan Pardew (Newcastle United/Crystal Palace)

Tidak semua orang yakin dengan Pardew saat dia meninggalkan Newcastle untuk melatih tim yang terancam degradasi, Palace, yang hanya meraih satu kemenangan dari 14 pertandingan terakhir liga mereka, tetapi  itu masuk akal. Dia dibenci di Tyneside karena menjadi kaki tangan kepentingan Mike Ashley, dan kemudian menjad pengganti Neil Warnock di Selhurst. 
 
Tapi, Palace menjadi lebih baik - jika musim dimulai ketika Pardew mengambil alih jabartan manajer di Selhurst, Palace akan berada di posisi keenam dalam klasemen, berkat awal gemilang dengan meraih tiga kemenangan dalam empat pertandingan pertamanya, kemudian empat kemenangan beruntun antara bulan Maret dan April. Seterusnya The Eagles terus membaik.

5) Tony Pulis (West Bromwich Albion)

Pelatih yang memiliki ciri khas menggunakan topi ini melakukan yang terbaik, menjauhkan West Brom dari zona degradasi setelah era kepelatihan suram Alan Irvine. Dia mendapatkan persentase kemenangan terbaiknya di berbagai klub (45 persen di semua kompetisi), tapi kini kesulitan untuk membawa West Brom ke posisi 10 besar untuk pertama kalinya sejak 2012/13. Ia layak mendapatkan kredit karena membuat Saido Berahino yang ingin hengkang hanya bungkam dan fokus pada tugas yang dimilikinya.

Pages