Blog

Real Madrid Jual Cristiano Ronaldo, Keputusan Terburuk Dalam Sejarah Sepakbola

Sementara Juventus memanen manfaat dari kehadiran Cristiano Ronaldo, Real Madrid mendapat mudarat dari kepergiannya.

We are part of The Trust Project What is it?

Entah karena arogansi, penyalahgunaan kepercayaan, atau murni kebodohan, keputusan Real Madrid untuk membiarkan Cristiano Ronaldo bergabung ke Juventus pada musim panas lalu pantas diposisikan sebagai salah satu keputusan terburuk dalam sejarah sepakbola.

Setengah musim berlalu, kini semuanya jelas. Madrid tak lagi memiliki daya ledak yang dibutuhkan untuk selamat dari periode transisi ini. Sedangkan Ronaldo tampak menikmati kehidupan barunya di Italia lewat torehan gol-golnya.

Madrid boleh saja mendapatkan €100 juta dari penjualan Ronaldo, harga yang tidak murah untuk pemain berusia 33 tahun. Namun, uang sebesar apa pun tidak akan sanggup untuk meggantikan kehilangan ini. Jika musim lalu Madrid finis 17 poin di belakang Barcelona, bagaimana nanti nasib El Real di akhir musim ini?

Barangkali perdebatan ini tidak akan terjadi jika Madrid menemukan pengganti sepadan. Masalahnya, tidak ada satu pun pesepakbola aktif di muka bumi ini yang bisa menyamai apa yang dilakukan Ronaldo untuk Real. Secara berbarengan, kepergian pelatih karismatik Zinedine Zidane membuat penjualan Ronaldo ini makin layak disebut sebagai malapetaka.

Alih-alih merekrut Neymar atau Kylian Mbappe, Madrid justru memulangkan Mariano Diaz dari Olympique Lyon. Yang lebih ironis, Diaz memilih jersey No.7 peninggalan Ronaldo. Untuk menandai era baru di Santiago Bernabeu, pikirnya.

Segalanya terlihat berbunga-bunga di awal musim ketika lini serang Madrid yang lebih demokratis mampu mencetak gol dari berbagai sudut dan menghadirkan start positif yang dibutuhkan Julen Lopetegui sebagai pelatih anyar.

Ronaldo Zidane Real Madrid

Metodenya tampak berjalan mulus: Karim Benzema mulai rajin cetak gol, Gareth Bale terbebas dari bayang-bayang Ronaldo dan menjadi sosok sentral dalam lini ofensif Madrid. Namun romantisisme itu berlangsung singkat. Tanpa Ronaldo, Lopetegui tak punya jalan keluar untuk bangkit ketika gol-gol Benzema menguap dan Bale lagi-lagi diterpa cedera.

Kemampuan luar biasa Ronaldo dalam mencetak gol sangat dirindukan dalam partai-partai yang seharusnya bisa dimenangkan Madrid. Orang-orang boleh mengejek Ronaldo hanya mencetak gol di laga-laga mudah. Masalah muncul ketika laga-laga mudah itu terus bergulir tanpa ada satu pun pemain yang bisa mencetak gol sekonsisten Ronaldo.

Baik di Liga Champions maupun di La Liga Spanyol, Madrid terlihat tumpul. Mereka cuma sanggup mencetak 26 gol dari 18 partai liga. Adapun Barcelona, yang duduk di puncak klasemen, sudah mengoleksi 50 gol alias hampir dua kali lebih banyak dari Madrid.

Yang lebih mengkhawatirkan, Madrid saat ini duduk di luar zona Liga Champions. Jadi, ada skenario bahwa Madrid harus menjadi juara Eropa empat kali beruntun jika tidak ingin absen di Liga Champions musim depan. Sebuah bencana yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Gareth Bale & Karim Benzema

Di masa transisi ini, Madrid butuh perombakan skuat. Presiden Florentino Perez dan direktur umum Jose Angel Sanchez sudah lama mengetahui hal tersebut. Itulah mengapa ada kebijakan transfer anyar untuk mereduksi secara drastis umur pemain incaran mereka. Youngster berbakat pun diboyong: Marco Asensio, Theo Hernandez, Dani Ceballos, Alvaro Odriozola, Vinicius Jr, dan yang paling gres Brahim Diaz.

Tak bisa dimungkiri, skuat inti Madrid saat ini -- yang sukses menghadirkan kejayaan magis di Liga Champions -- suatu saat nanti akan habis. Sergio Ramos, Luka Modric, Marcelo dan pemain senior lain bakal pergi satu per satu. Namun, Ronaldo seharusnya menjadi sosok terakhir yang keluar dari kumpulan pemain itu, bukan malah yang pertama.

Dalam banyak laga, Madrid terbukti baik-baik saja jika Ramos atau Modric tidak bermain. Sementara itu, Ronaldo masih tetap digdaya. Tak peduli siapa yang melatihnya, siapa rekan setimnya, atau di liga mana ia bermain, Ronaldo tetap akan mencetak banyak gol. Sejauh ini, ia memuncaki topskor sementara Serie A dengan torehan 14 gol dan lima assist.

Performa seperti itu tentu saja akan krusial untuk membimbing Madrid melewati musim transisi yang sulit ini. Sembari membentuk tim baru, Madrid setidaknya bisa bergantung pada gol-gol Ronaldo. Andai saja.

Pada akhirnya, Ronaldo tetap dijual. Namun, ada banyak kerumitan di belakang layar yang membuat penjualan ini terasa sangat pahit.

Sudah bukan rahasia jika Ronaldo tidak bahagia dengan sikap petinggi Madrid, terutama sejak merebaknya kasus penggelapan pajak. Dia ingin bayaran lebih besar, kontrak baru yang lebih mewah. Sesuatu hal yang wajar mengingat statusnya sebagai ikon dan juga topskor sepanjang masa klub.

Akan tetapi, Perez dikabarkan terus menunda, menunda, dan menunda dalam memberikan kontrak baru Sampai akhirnya muncul gertakan sambal dari Ronaldo. Terlambat, karena Ronaldo kemudian memang benar-benar memilih pergi.

Tak ada yang salah dengan sikap Ronaldo yang merasa gajinya tidak cukup besar. Apalagi jika menilik masifnya investasi Paris Saint-Germain saat mengontrak Neymar, pemain yang derajatnya tak setara Ronaldo. Pemenang lima kali Ballon d’Or ini tentu saja berhak meminta lebih.

Ronaldo tak mendapatkan kontrak baru karena Perez menganggap CR7 tidak layak mendapatkannya. Betapa keliru dan bodohnya keputusan itu.

Cristiano Ronaldo Juventus 2018-19

Juventus kemudian datang dengan gelombang barunya. Mereka terus memecahkan rekor yang ada di Serie A dan Ronaldo pun mengikutinya.

Tak ada satu pun pemain Madrid di musim ini yang mencetak lebih dari tujuh gol di pertandingan liga dan itu menyedihkan. Ronaldo sudah dua kali lipat melebihi standar itu.

Musim ini sangat mungkin menjadi musim terburuk Madrid dalam sejarah modern mereka. Padahal, itu bisa dicegah. Mereka harusnya yakin dan percaya untuk membayar lebih Ronaldo. Kesalahan terbesar dari semua ini adalah bahwa Madrid meremehkannya. Inilah yang tidak bisa dimaafkan.

Kini, mereka harus membayar amat mahal.