Real Madrid vs Atletico Madrid: 6 Perubahan Besar Sejak Final 2014

Dua klub dari ibukota Spanyol ini bertemu di final Liga Champions dua tahun yang lalu, tetapi segalanya terlihat berbeda sekarang. Kiyan Sobhani melihat perbedaan antara final di Lisbon dan final di Milan nanti...

1. Angel Di Maria: sang mesin Real Madrid

Di posisi ini, Di Maria membuktikan diri sebagai gelandang box-to-box yang sempurna, dengan stamina unik dan paru-paru ketiga yang ternyata ia miliki, yang memastikan dirinya seolah tidak pernah lelah

Keberhasilan Real Madrid di final Liga Champions 2014 digerakkan oleh kekuatan mesin bernama Angel di Maria. Orang Argentina ini nyaris terdorong keluar dari tim saat Gareth Bale datang di awal musim, tapi Carlo Ancelotti membangkitkannya, mendorongnya agak ke belakang dan lebih menjadi pemain tengah, di mana ia bisa menempel lawan dan membuat mereka kehilangan bola sambil tetap melewati bek lawan dengan kemampuan dribelnya yang selicin belut.

Cara Ancelotti mengubah Di Maria menjadi pemain-dua-arah membuat lini tengah Real Madrid menjadi penyebab sakit kepala untuk siapapun lawannya sepanjang musim. Di posisi ini, Di Maria membuktikan diri sebagai gelandang box-to-box yang sempurna, dengan stamina unik dan paru-paru ketiga yang ternyata ia miliki, yang memastikan dirinya seolah tidak pernah lelah.

“Pertandingan berubah dengan Di Maria,” ucap Diego Simeone setelah hasil imbang 1-1 melawan Real Madrid di Piala Super Spanyol tiga bulan kemudan. “Ini logis sekali – ia adalah pemain terbaik yang mereka miliki.”

Di Maria sudah pindah ke dua klub berbeda semenjak malam hebat di Lisbon itu, dan Real Madrid masih belum menemukan pengganti yang seunik dirinya kali ini saat mereka menuju Milan untuk kembali meladeni Atleti.

2. Pergantian momentum

Real Madrid menemukan momentum milik mereka sendiri, memenangi 12 pertandingan terakhir, tapi akan menghadapi tantangan besar berupa Atletico yang semakin sesuai dengan irama Diego Simeone

Real Madrid yang sedang ganas menghancurkan Bayern Munich 5-0 secara agregat di semifinal Liga Champions 2014, memberikan mereka status sebagai favorit menjelang final. Kali ini, giliran Atletico yang menggagalkan tim asuhan Pep Guardiola tersebut untuk tampil di final, dengan langkah mereka ke final secara dramatis lebih sulit daripada sang tetangga.

Apakah ini membuat Atletico lebih diunggulkan? Bisa saja. Setidaknya, posisi mereka meningkat dari label underdog yang mereka miliki di 2014. Real Madrid menemukan momentum milik mereka sendiri, memenangi 12 pertandingan terakhir, tapi akan menghadapi tantangan besar berupa Atletico yang semakin sesuai dengan irama Diego Simeone. Mereka sudah memiliki identitas yang lebih solid dan mengembangkan strategi bertahan mereka dalam dua tahun terakhir; Atletico sabar saat tidak menguasai bola dan menemukan cara untuk terus bisa menang di musim ini, meski mereka sedang berada dalam tekanan besar.

Andres Iniesta

Pertahanan Atletico begitu sulit untuk ditembus musim ini. Tanya saja pada Andres Iniesta...