Analisa

Rencana Besar Sepakbola Tiongkok: Lebih dari Sekadar Merekrut Bintang Mahal

Chinese Super League

John Obi Mikel, Carlos Tevez, dan Oscar adalah nama-nama besar terakhir yang terbang ke Asia Timur untuk setumpuk uang tunai – tapi perlu diketahui bahwa perkembangan sepakbola Tiongkok bukan hanya menyoal transfer besar para bintang-bintang Eropa.

We are part of The Trust Project What is it?

“Secara finansial, Chinese Super League sudah mengalahkan liga-liga Eropa kelas dua semacam Portugal dan Belanda,” ucap Joseph Lee, agen kelahiran Indonesia yang berbasis di Brasil, yang sudah bertanggung jawab atas begitu banyak transfer yang terjadi antara Brasil dan Tiongkok.

“Tiongkok sudah tumbuh secara finansial dan memiliki populasi terbesar di seluruh dunia – dan 20-30 persen di antaranya menyukai sepakbola. Jika kita bisa membawa mereka ke dalam stadion, maka kita akan memiliki jumlah penonton terbesar di seluruh dunia.

“Sepakbola Jepang harus menanti beberapa dekade untuk memaku posisi mereka secara internasional, tapi itulah tujuan yang harus dicapai sepakbola Tiongkok – untuk menjadi titik referensi di dunia sepakbola.”

China

Satu-satunya penampilan Tiongkok di Piala Dunia terjadi di tahun 2002, di mana mereka selalu kalah di babak grup

Belanja besar-besaran

Semuanya akan menghasilkan dorongan bagi ekonomi terbesar kedua di dunia ini untuk mencapai posisi yang sama di olahraga terbesar di dunia ini

Proses itu sekarang sudah dimulai. Pada November 2015, 50.000 fans Guangzhou Evergrande menggila saat tim mereka menjuarai Liga Champions Asia – pada saat itu, itu adalah gelar Asia kedua mereka dalam tiga tahun terakhir, melengkapi lima gelar domestik. Perayaan ini berlangsung panjang hingga malam, namun level selanjutnya dari rencana besar mereka – memenangi Piala Dunia Antar Klub, dan kemudian menjadi satu dari 10 klub terbesar di dunia – sudah mulai dijalankan. Guangzhou adalah klub pertama di Tiongkok yang menghabiskan uang yang sangat banyak, dan seperti yang terlihat di beberapa waktu belakangan, mereka sama sekali bukan yang terakhir.

Jika hanya melihat bagian depannya saja, “Revolusi Besar Sepakbola Tiongkok” ini terlihat dengan bertambahnya klub yang ingin dibicarakan di seluruh dunia dan memenangi trofi dalam skala lokal. Dari beberapa nama besar yang pindah ke Chinese Super League di tahun 2016, menyusul Demba Ba dan Paulinho di tahun sebelumnya, terdapat nama-nama Fredy Guarin, Jackson Martinez, Ramires, Gervinho, dan Alex Teixeira (lima pemain ini bergabung di empat klub yang berbeda). John Obi Mikel, Carlos Tevez, dan Oscar menuju ke timur baru-baru ini, dan jika berita di media bisa dipercaya, maka masih ada banyak lagi yang akan datang..

“Membeli pemain asing yang terkenal membantu klub untuk berkembang dengan lebih cepat,” ucap pemain Montenegro, Dejan Damjanovic, yang bergabung ke Jiangsu di tahun 2014 dan, kemudian, pindah ke Beijing Guoan. “Untuk waktu yang lama, Tiongkok ingin berkompetisi dengan Korea Selatan dan Jepang; sekarang mereka ingin bersaing dengan semua orang. Jiangsu bukanlah salah satu raksasa di sepakbola Tiongkok, namun ada potensi untuk mereka menjadi klub yang besar.”

Tapi menghabiskan banyak uang di bursa transfer hanyalah satu bagian dari rencana besar mereka. Klub-klub ini mendorong perkembangan secara jangka pendek, tapi ada banyak hal yang juga dilakukan untuk jangka panjang. Semuanya akan menghasilkan dorongan bagi ekonomi terbesar kedua di dunia ini untuk mencapai posisi yang sama di olahraga terbesar di dunia ini.

Mencapai target dengan cepat

Presiden sudah mewanti-wanti kami bahwa tujuan utama kami adalah meninggalkan warisan untuk sepakbola lokal – tidak hanya mengambil uang saj dan tidak meninggalkan apapun untuk Tiongkok

- Asisten pelatih Tianjin Quanjian

Dalam hal politik dan diplomasi, usaha jangka panjang Tiongkok – dengan gerakan lambat, seperti catur yang seharusnya mendapatkan keuntungan setelah bertahun-tahun dan berdekade-dekade berlangsung – sudah dibicarakan oleh para mahasiswa Hubungan Internasional dan kolomnis-kolomnis media di seluruh dunia. Tapi dalam sepakbola, mereka sepertinya tak punya kesabaran yang sama. Tiongkok ingin menjadi yang terbaik, atau salah satu yang terbaik, di sepakbola – dan bisa mencapainya lebih cepat maka lebih baik.

Xi Jinping

Presiden Xi Jinping ingin Tiongkok menjadi kekuatan dunia di sepakbola

“Kami tidak bekerja dengan batasan anggaran,” ucap Gabriel Skinner, asisten manajer Tianjin Quanjian asal Brasil (sudah pergi). “Jika kami menginginkan sesuatu, kami meneruskan permintaan kami ke presiden – ia sudah memberikan dukungan sepenuhnya hingga saat ini. Saat pramusim di Brasil, kami butuh membeli alat-alat untuk pemain seharga $1 juta AS. Tidak butuh lebih dari beberapa menit baginya untuk menyetujui permintaan ini.

“Presiden sudah mewanti-wanti kami bahwa tujuan utama kami adalah meninggalkan warisan untuk sepakbola lokal – tidak hanya mengambil uang saja, membawa masuk tiga atau empat pemain, dan tidak meninggalkan apapun untuk Tiongkok.”

Jumlah uang yang dihabiskan terus meningkat, namun Tiongkok sudah berbelanja semenjak tahun 2010 – saat pengembang properti Evergrande mengambil alih Guangzhao, klub yang sebelumnya harus rela degradasi karena kasus pengaturan pertandingan.

Dalam satu dekade sebelumnya, Chinese Super League terkenal dengan hal-hal semacam itu: korupsi, dan ada begitu banyak kasusnya. Ada skandal yang kerap muncul, mendorong sponsor dan para fans untuk meninggalkannya, namun di beberapa tahun terakhir sudah ada determinasi tinggi untuk merapikan olahraga ini. Pemerintah, yang sebelumnya semenjak lama memfokuskan diri dalam usaha menciptakan bintang di tenis meja dan senam (menemukan prospek yang nyata, memberikan mereka latihan yang banyak, duduk dan menanti medali emas datang dengan banyak), tahu persis langkah pertama untuk perkembangan di sepakbola adalah dengan membuatnya bersih dahulu.

Pages